Internasional

China Sebut Genosida Uighur di Xinjiang Kebohongan Terbesar

Ilustrasi.

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Delegasi China yang menghadiri pertemuan dengan Amerika Serikat di Alaska, AS menegaskan bahwa klaim mengenai genosida terhadap warga Muslim Uighur di Xinjiang, China adalah kebohongan terbesar abad ini.

Hal itu disampaikan pada Jumat (19/3/2021) usai berakhirnya dialog strategis tingkat tinggi China-AS di Anchorage, negara bagian Alaska.

Seperti dilansir media China, Xinhua, Sabtu (20/3/20221), delegasi China mengatakan bahwa pihaknya siap untuk terlibat dalam pertukaran kunjungan dengan pihak AS atas dasar saling menghormati, dan pintu Xinjiang terbuka lebar untuk dunia.

Namun, ditegaskan delegasi tersebut bahwa China tidak akan menerima penyelidikan apa pun di Xinjiang berdasarkan anggapan bersalah oleh mereka yang bias dan merendahkan, dan yang ingin menguliahi China.

Delegasi China mengatakan, pihak AS diharapkan dapat menghormati fakta, menghentikan serangan terhadap kebijakan China dan mencemarkan kebijakan China di Xinjiang, dan meninggalkan standar ganda pada antiterorisme.

Dialog dua hari di Alaska tersebut menandai kontak tingkat tinggi pertama antara kedua negara setelah kepala negara mereka melakukan panggilan telepon pada malam tahun baru Imlek. Dialog ini merupakan pembicaraan tatap muka pertama antara pejabat tingkat tinggi kedua belah pihak sejak Presiden AS Joe Biden menjabat pada bulan Januari lalu.

Dalam pertemuan di Alaska itu, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken bertemu dengan mitranya dari China, Yang Jiech. Dari awal pertemuan, kedua pihak langsung saling lontarkan teguran tajam terhadap satu sama lain.

Blinken mengatakan pemerintahan Biden akan menyampaikan “keprihatinan mendalam” tentang beberapa tindakan Beijing di dalam dan luar negeri, termasuk perlakuannya terhadap Muslim Uighur di Xinjiang.

“Setiap tindakan ini mengancam tatanan berbasis aturan yang menjaga stabilitas global,” kata Blinken.

Pernyataan tersebut kemudian dibalas Yang, memberitahu AS untuk menanggalkan “mentalitas Perang Dingin” dalam pendekatannya terhadap China.

Dia menambahkan bahwa AS “menyalahgunakan apa yang disebut gagasan keamanan nasional untuk menghalangi pertukaran perdagangan normal, dan menghasut beberapa negara untuk menyerang China.”

Yang mengatakan bahwa “China dengan tegas menentang campur tangan AS dalam urusan dalam negeri China.”

Baca juga :  China Siap Bertanggung Jawab dan Sebarkan Vaksin Corona ke Dunia

dtl

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com