Internasional

AS Larang Dokter Bedah Australia Lakukan Perjalanan

Munjed Al Muderis

 

 

SYDNEY, EDUNEWS.ID – Meski Munjed Al Muderis telah melakukan perjalanan ke Amerika Serikat lebih dari 20 kali selama karirnya, ahli bedah terkenal ini menghadapi masalah memasuki negara tersebut.

Masalah yang dihadapi ahli bedah tersebut terjadi karena implementasi kebijakan pembatasan perjalanan untuk para pengunjung dari negara-negara mayoritas Muslim. Ahli ortopedi kelahiran Irak tersebut mengatakan bahwa ia baru-baru ini ditolak masuk ke AS dalam tugas untuk menyampaikan pidato pada sebuah konferensi prostetik internasional.

Saat hendak mengonfirmasi kedatangan untuk penerbangan dari London ke Hawaii, Dr Al Muderis dikeluarkan dari antrean untuk diinterogasi dan dilarang menaiki jadwal penerbangannya. “Saya tak bisa memberikan alasan selain profil rasial mengapa mereka mencegat saya,” katanya.

Baca juga :  Mahasiswa UGM ikuti ASEAN JENESYS di Jepang

Pejabat Departemen Keamanan Dalam Negeri AS memberitahukan kepadanya bahwa otorisasi pengecualian visa perjalanannya telah dicabut karena kunjungan yang baru-baru ini ia lakukan ke Irak.

Dr Al Muderis mengatakan kepada mereka bahwa ia telah berhasil memasuki AS tiga kali sejak mengunjungi Irak, yang diakui pejabat keamanan AS kepadanya sebagai kesalahan. Rekannya, Claudia Roberts, yang berpenampilan Kaukasia, bepergian bersamanya.

Ia juga membawa paspor Australia dan menemaninya ke Irak; Awalnya Claudia diberi tiket naik pesawat atau boarding pass. “Saya harus menunjukkan dengan jelas bahwa saya dinilai karena nama saya sementara ia tidak,” kata Dr Al Muderis.

“Ketika mereka menyadari bahwa ia bersama saya di Irak, mereka berkata, ‘Oh, kami bisa memperbaiki masalah itu’, dan mereka juga melarangnya’,” kata Al Muderis.

Baca juga :  Suara Adzan di Masjid Kerala India akan Dibatasi

Ia mencoba menyelesaikan masalah itu namun akhirnya melewatkan konferensi tersebut. Pada kesempatan berikutnya, ia mendapatkan visa untuk menghadiri konferensi lain namun kembali didepak saat ia tiba di Dallas.

Ia diizinkan melanjutkan perjalanannya tapi hanya setelah diinterogasi oleh petugas selama 15 menit. “Seseorang harus mempertanggungjawabkan apa yang mereka lakukan dan tindakan mereka ketimbang untuk warna atau latar belakang mereka, karena itulah satu-satunya hal yang tak bisa Anda pilih,” ujarnya.

Advertisement

Bantu korban perang di Irak

Meski menemui kendala perjalanan, Dr Al Muderis tidak terpengaruh dalam upayanya untuk membantu orang-orang yang berasal dari negara asalnya yang dilanda perang. Pada tahun 1999, ia melarikan diri dari rezim Saddam Hussein dan pada tahun 2000 ia mendapat suaka di Australia setelah menghabiskan 10 bulan di sebuah pusat penahanan imigrasi.

Ia telah menjadi pelopor dalam bidang osseointegration – sebuah prosedur yang melibatkan penggabungan prostetik dengan tulang.

Pada tahun 2017, ia diminta oleh Perdana Menteri Irak untuk kembali membantu pasien yang diamputasi, sebagian besar dari mereka adalah korban alat peledak improvisasi (IED).

“Setiap kali saya kembali dan menemui beberapa politisi dan pemimpin agama ini, pertanyaan pertama yang saya tanyakan kepada mereka adalah: ‘Kapan Anda akan membunuh saya?’,” tutur Al Muderis.

“Dan dengan tegas respon mereka … ‘Kami masih membutuhkan anda, waktu anda belum tiba’.”

Ia bepergian ke Irak tiga kali untuk melakukan operasi penting terhadap ratusan pasien yang terdampak konflik di sana. Dalam setiap perjalanan yang ia danai sendiri, Dr Al Muderis membawa peralatan medis dan persediaan hasil sumbangan dan disertai oleh tim relawan spesialis kecil mengingat kurangnya tenaga ahli di Irak.

Pada perjalanan terakhir, timnya bekerja dengan staf rumah sakit lokal untuk mengoperasi 190 pasien dalam 17 hari. Ia akan segera kembali untuk kunjungan keempat.

“Korban-korban ini adalah orang-orang yang sangat miskin, mereka tidak punya uang, mereka tidak mempunyai sumber daya untuk pergi mencari pertolongan medis di tempat lain, jadi saya pikir saya bisa membantu,” katanya. “Cara saya melihatnya, jika Anda membantu satu orang, orang itu akan membantu orang lain dan itu akan memiliki efek bola salju.”

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com