Ekonomi

Jakarta Tourism Forum ; Sinergi Pengembangan Pariwisata DKI Jakarta

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID-Jakarta Tourism Forum (JTF) menyelenggarakan focus discussion group (FGD) bertajuk “Sinergi Pengembangan Pariwisata DKI Jakarta”. Acara yang diikuti para pemerhati dan pemangku kepentingan sektor pariwisata tersebut berlangsung di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Selasa 8 Januari 2019.

Diskusi bertajuk sinergi pengembangan pariwisata DKI Jakarta tersebut menghadirkan sejumlah narasumber. Yakni: Kepala Bank Indonesia Perwakilan DKI Jakarta, Bapak Trisno Nugroho yang akan memaparkan “Hasil Penelitian Big Data TriAdvesor untuk Destinasi Pulau Seribu & Kota Tua”. Kedua, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Daerah DKI Jakarta, Bapak Eddy Kuntadi yang akan menyampaikan paparan mengenai “Potensi Pariwisata DKI Jakarta dan Kesiapan Para Pelaku Usaha Mewujudkan Jakarta sebagai Pusat Wisata Berkelas Dunia”.

Sebagai narasumber ketiga adalah Pelaksana Tugas Asisten Perekonomian & Keuangan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Ibu Sri Haryati yang akan memaparkan “Kesiapan Pemprop DKI Jakarta & Dukungan bagi Para Pelaku Pariwisata Dalam Rangka Mewujudkan DKI Jakarta sebagai Destinasi Wisata Kelas Dunia & Salah Satu Pusat Wisata Halal Dunia”. Keempat, Direktur Jasa Keuangan & BUMN sekaligus Komisioner Komite Nasional Keuangan Syariah, Bapak Muhammad Cholifihani yang akan menyampaikan “Peluang & Tantangan Menjadikan Jakarta sebagai Salah Satu Pusat Wisata Halal Dunia.

Dan hadir sebagai narasumber kelima adalah Bupati Kepulauan Seribu, Bapak Husein Murad yang akan menyampaikan pemaparan mengenai “Peluang & Tantangan Pulau Seribu dalam Mewujudkan sebagai Destinasi Wisata Bali Baru Indonesia”. FGD dipandu langsung oleh Koordinator Jakarta Tourism Forum, Bapak Salman Dianda Anwar.

Baca,   Ketua DPRD DKI Kritik Pernyataan Anies Soal Banjir

Kepada wartawan, Salman mengatakan Jakarta Tourism Forum disingkat JTF adalah wadah tempat berkumpulnya para pemerhati dan pemangku kepentingan yang ingin mendorong dan mengawal serta ikut terlibat dalam berbagai kegiatan dalam rangka mewujudkan Jakarta sebagai salah satu destinasi wisata berkelas dunia dan menjadikan Jakarta sebagai pusat halal dunia. “Saya berkeyakinan kita mampu mewujudkan hal itu dengan memanfaatkan potensi Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar dunia, dengan keindahan alam, seni budaya, serta keunikan serta potensi wisata yang dimiliki,” kata Salman.

Menurut Salman, FGD hari ini merupakan pertemuan yang kelima yang digelar JTF dengan menghadirkan berbagai pihak terkait. “Kami dari unsur masyarakat dan para pemangku kepentingan tergerak karena melihat gaya kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan yang sangat memberikan ruang terhadap partisipasi masyarakat,” kata Salman. Dalam waktu dekat, JTF akan segera melakukan kegiatan aksi kolaborasi berbagai pihak guna menyemarakkan sektor pariwisata di DKI Jakarta. Antara lain: JUFFEST (Jakarta Urban Farming Festival) di Ecopark Ancol dan Festival Muara Baru 2019 .

Menurutnya, Festival Muara Baru merupakan event kedua setelah sukses penyelenggaraan pada tahun 2018 bersamaan dengan HUT Perum Perikanan Indonesia. Festival yang melibatkan berbagai pihak tersebut dinilainya penting dilakukan guna mengukuhkan Kota Jakarta ketika masih bernama Batavia sesungguhnya adalah kota pantai/maritim. “Diharapkan ini menjadi agenda tahunan dan mampu menarik antisiasme wisatawan lokal, wisatawan nusantara, maupun mancanegara,” kata Salman.

Baca,   Pemprov Jatim Targetkan Produksi Garam 700 Ribu Ton

Sebagaimana diketahui, sektor pariwisata merupakan salah satu sumber pendorong kemajuan ekonomi utama di Indonesia. Secara nasional kontribusinya secara nasional berada di posisi kedua setelah pendapatan devisa dari sawit (CPO). Untuk DKI Jakarta sendiri, menurut catatan Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta, jumlah kunjungan wisata menunjukkan angka yang cukup tinggi mencapai rata-rata 2,5 juta wisatawan per tahunnya. Jumlah tersebut menunjukkan kenaikan setiap tahunnya. Kontribusi sektor pariwisata sebesar 10% dari pendapatan daerah regional bruto (PDRB) DKI Jakarta.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan DKI Jakarta, Bapak Trisno Nugroho mengatakan pengembangan pariwisata dan halal tourism harus dilakukan sebagai sumber pertumbuhan baru perekonomian DKI Jakarta. Sebabnya, kata dia, seluruh pangsa dari komponen utama PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) DKI Jakarta, yaitu konsumsi, investasi, dan ekspor mengalami penurunan. Penurunan juga tercermin dari pangsa tiga lapangan usaha utama yang terus menurun.

“Jika ini terus berlangsung pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta berpotensi terus melambat dan dapat meningkatkan kemiskinan,” kata Trisno Nugroho.
“Karenanya, Jakarta perlu membangun sumber pertumbuhan baru,” ujarnya.

Menurut Trisno, pariwisata merupakan sumber baru perekonomian DKI Jakarta sudah sesuai dengan tren kontribusi pariwisata yang semakin besar dalam perolehan devisa nasional. Tahun 2017, nilainya mencapai US$14,2 miliar dari sektor pariwisata, yakni jasa perjalanan dan transportasi penumpang. Sementara Halal Tourism merupakan tren muslim global yang terus tumbuh dengan pesat. Indonesia, kata Trisno mengutip “Halal Global Destination” menjadi negara tujuan wisata halal global keempat di dunia, dan diperkirakan akan terus meningkat setiap tahunnya karena memiliki potensi besar pada sektor halal travel, halal food, dan halal fashion.

Baca,   Di Asia, Nilai Tukar Rupiah Paling Dalam Terkikis

“Potensinya tidak hanya jumlah wisatawan yang terus meningkat, tetapi juga dari sisi belanja,” kata Trisno Nugroho.

Salman mengatakan pengembangan Jakarta sebagai salah satu destinasi wisata berkelas dunia dan menjadikan Jakarta sebagai pusat halal dunia harus didukung terobosan strategi dan kebijakan yang baik dan terencana. Tanpa terobosan strategi dan perencanaan yang baik, alangkah sulitnya untuk bisa bersaing dengan negara-negara tetangga.

Karenanya, kata Salman, setidaknya ada beberapa hal harus menjadi perhatian bersama para pemangku kepentingan. Pertama, menetapkan pariwisata sebagai salah satu sektor prioritas utama pendorong perekonomian di Jakarta. Kedua, mengubah dan memastikan pengelolaan pariwisata dari pendekatan birokrasi menjadi pendekatan bisnis. Ketiga, mendirikan badan pengembangan pariwisata independen yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan dikelola secara profesional.

“Hal penting lainnya adalah menggalakkan tidak hanya branding tetapi juga promosi dan marketing wisata besar-besaran untuk menarik wisatawan,” kata Salman.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!