News

Jamal Khashoggi dan Citra MBS

ahmad sahide

Ahmad Sahide*

​SPEKTRUM, EDUNEWS.ID-Nama Jamal Khashoggi sontak menjadi pembicaraan dan pemberitaan media internasional sejak awal Oktober 2018. Warga Arab Saudi yang menjadi kolumnis The Washington Postitu dikabarkan hilang sejak tanggal 2 Oktober 2018 setelah ia memasuki Kedutaan Besar Arab Saudi di Istanbul karena urusan administrasi untuk pernikahannya. Terkuak pemberitaan ke publik bahwa Khashoggi disiksa, dimutilasi hingga mati di dalam konsulat (Kompas, 22/10/2018).

Terkuaknya berita kematian Khashoggi ini tentu saja menodai citra Arab Saudi di mata internasional, termasuk citra Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) yang selama ini dilihat sebagai pemain utama di balik reformasi birokrasi dan politik di negeri Wahabi tersebut. Sejak awal  MBS ingin merubah citra Arab Saudi yang ultrakonservatif ke arah “Islam yang moderat”. Untuk merubah citra tersebut, MBS mengeluarkan sejumlah kebijakan baru seperti mengijinkan perempuan untuk mengendarai mobil, mengijinkan kembali pemutaran film di bioskop, serta menginjikan perempuan untuk menonton sepak bola  (Kompas, 23/10/2018).

Dilihat sebagai ‘peristiwa kecil’ yang mencoreng citra Saudi dan MBS di dunia internasional, maka pihak Kerajaan Saudi kemudian mengelak dengan berbagai dalih. Pada awalnya pihak Saudi bersikeras dengan mengatakan bahwa Khashoggi sudah keluar dari konsulat. Kemudian mengakui kematian Khashoggi karena ada insiden ‘perkelahian’ (Kompas, 22/10/2018). Terakhir pihak Saudi memberikan pernyataan yang kembali berbeda dengan mengatakan bahwa pembunuhan jurnalis berusia 59 tahun itu direncanakan (Kompas, 26/10/2018). Putra Mahkota, MBS, juga mengeluarkan pernyataan yang mengecam  bahwa pembunuhan itu sebagai peristiwa yang “menjijikkan” (Kompas, 28/10/2018).  

Jika kita mencermati pernyataan resmi dari Kerajaan Saudi mengenai Khashoggi, mulai dari penyangkalan hingga ‘kecaman’ dari MBS, terlihat dengan jelas adanya kebohongan yang terinstitusi tetapi sepertinya tidak berhasil membangun persepsi publik bahwa pihak kerajaan tidak terlibat. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menulis di Washington Post dengan mengatakan bahwa perintah pembunuhan Khashoggi datang dari pimpinan tertinggi pemerintahan Saudi , Came from the highest levels of the Saudi government. Erdogan menambahkan bahwa “certain Saudi officials” were trying to cover up the crime (The Washington Post, 2/11/2018).

Seorang Duta Besar Inggris, Sir Henry Wotton, pada suatu saat dengan sinis menyatakan, “Duta besar adalah seseorang yang menipu di luar negeri demi kepentingan negerinya sendiri,” (Warsito dan Surwandono, 2015). Nampaknya, kebobongan terinstitusi dari Kerajaan Saudi demi menjaga kepentingan nasionalnya, yaitu citra Saudi yang kini sedang melakukan reformasi politik di bawah MBS.

Siapa Itu Jamal Khashoggi?

Jamal Khashoggi adalah seorang penulis dan jurnalis senior Arab Saudi yang  juga menjadi kolumnis dari Washington Post Global Opinions. Selama beberapa dekade, Khashoggi menjadi orang dekat keluarga Kerajaan Saudi serta menjadi penasihat pemerintahan. Tetapi tahun lalu Khashoggi kemudian memutuskan untuk keluar dari lingkaran Kerajaan Saudi dan mengasingkan diri di Amerika Serikat. Di Amerika, Khashoggi menjadi kolumnis media internasional, salah satunya Washington Post. Sebagai seorang jurnalis, tulisan-tulisan Khashoggi mengusik telinga Kerajaan Saudi karena tulisannnya menyuarakan reformasi politik di negaranya. Khashoggi banyak mengkritisi kebijakan politik Putra Mahkota Mohammad bin Salman (BBC News, 31/10/2018). Salah satu judul tulisan Khashoggi di Washington Post adalah “What the Arab World Needs Most if Free Expression”. Pada bagian akhir dari artikelnya tersebut, Khashoggi menuliskan, “The Arab world needs a modern version of the old transnational media so citizens can be informed about global events. More important, we need to provide a platform for Arab voices. We suffer from poverty, mismanagement and poor education”.

David Ignatius, seorang kolumnis, menulis di kolom Washington Post pada tanggal 25 Oktober 2018 yang melihat bahwa salah satu alasannya mengapa MBS sangat takut dengan sosok Jamal Khashoggi karena Kerajaan Saudi tidak mampu mengontrol pikiran Khashoggi. Dia menuliskan “My guess is that Khashoggi was seen as dangerous for the simple reason that he couldn’t be intimidated or controlled. He was an uncensored mind” (Ignatius, 2018).

Oleh karena itu, terbunuhnya Khashoggi, terlebih di Kedutaan Saudi di Istanbul, merupakan pembunuhan yang terencana dan ini melibatkan pihak kerajaan, sebagaimana dikatakan oleh Erdogan di atas. Maka kecaman dari MBS terhadap pembunuhan itu hanyalah bagian dari ‘kebohongan seorang diplomat’ untuk menyelamatkan wajah Saudi di dunia internasional. Tetapi saya kira, dunia tidak semudah itu akan percaya bahwa pihak kerajaan tidak terlibat sama sekali dalam peristiwa ini. Kesalahan fatal yang dilakukan oleh Saudi dalam kasus pembunuhan Khashoggi adalah karena proses eksekusinya dilakukan di dalam area kedutaan. Tidak akan mungkin para diplomat Saudi yang ditempatkan di Istanbul akan berani melakukan tindakan yang sangat bersiko itu tanpa ada ‘restu’ dari pihak Kerajaan. Kedua, Khashoggi adalah seorang jurnalis internasional, kasus kehilangannya (kematian) tentu akan menjadi sorotan dunia internasional di mana Saudi tidak akan mampu mengontrol pemberitaan media-media internasional. Media nasional di Saudi mungkin iya, tetapi tidak dengan media internasional. Hal inilah yang luput dari pertimbangan Saudi ketika mengeksekusi Khashoggi di dalam kedutaan.

Maka, kebohongan yang dilakukan tidak akan berhasil menyelamatkan citra Saudi di dunia internasional. Hal ini juga sudah dituliskan oleh Frank Gardner bahwa orang di luar sana tidak akan percaya dengan narasi yang dibangun Saudi. “The problem is that outside Saudi Arabia hardly anyone believes the Saudi narrative,” salah satu potongan dari tulisan Gardner dalam artikelnya yang berjudul Khashoggi murder: is Saudi Crown Prince Mohammed finished? Di harian BBC News pada tanggal 2 November 2018.

Dampaknya bagi Saudi

Arab Saudi selama ini dikenal sebagai negara dengan Islam garis keras (Wahabi). Tidak heran jika warga Arab Saudi, terutama kaum perempuan, tidak mendapatkan kebebasan sebagaimana kebebasan yang dimiliki oleh kaum perempuan di negara lain. Di Arab Saudi, perempuan tidak diberi kesempatan untuk menduduki jabatan publik prestisius, perempuan tidak boleh menonton pertandingan sepak bola di stadion, perempuan tidak boleh mengendarai mobil. Inilah wajah Arab Saudi di dunia internasional. Namun demikian, munculnya Muhammad bin Salman (MBS) sebagai Putra Mahkota sejak tahun 2017 menghadirkan harapan besar. MBS dipuji karena sejumlah terebosan barunya perihal modernisasi Arab Saudi dalam berbagai sektor kehidupan, terutama ekonomi, politik, budaya, dan pandangan keagamaan (Misrawi, 2018). Dampak dari terobosan MBS adalah perempuan sudah dibolehkan mengendarai mobil, juga dibolehkan menonton pertandingan sepakbola di stadion. Terobosan yang cukup kontroversial adalah ketika MBS membuka adanya bisnis bioskop di Saudi.  Rabu, 18 April 2018 adalah hari pemutaran pertama film di bioskop dengan film pertama yang diputar adalah “Black Panther”. Ini adalah kesempatan pertama bagi Saudi setelah negara tersebut melarang pemutaran film selama 35 tahun (TribunBatam, 18/04/2018).

Terobosan yang dilakukan oleh MBS inilah sehingga melambungkan namanya di dunia internasional. Ia disebut-sebut sebagai pemimpin masa depan Saudi dengan pandangan visionernya. MBS salah satu figur di balik pencetusan Visi 2030 Saudi. Salah satu poin dari visi ini adalah mengurangi tingkat ketergantungan ekonomi Saudi dari minyak. Tidak heran, MBS selama satu tahun terakhir menjadi salah satu magnet dari media internasional. Namun demikian, berita hilangnya wartawan senior di kedutaan Saudi pada tanggal 2 Oktober 2018 meruntuhkan segala citra yang dibangun oleh Saudi dan MBS selama satu tahun terakhir. Pandangan dunia internasional tentu masih melihat Arab Saudi belum berubah. Dan ini tentu akan dikaitkan, sebagai data penguat, dengan banyaknya keluarga kerajaan yang tidak sejalan dengan MBS yang ditangkap dan dipenjara dengan berbagai alasan, salah satunya isu korupsi dialamatkan kepada keluarga yang ditangkap. Arab Saudi belum menjadi negara penegak Hak Asasi Manusia. Hak untuk hidup, kebebasan menyampaikan pendapat belum diberikan oleh Saudi kepada warganya. MBS yang hendak merubah Saudi ke arah“Islam yang moderat” dari Islam ultrakonservatif sepertinya hanyalah jargon politik semata untuk pencitraan MBS dan Saudi.

Oleh karena itu, Arab Saudi dan MBS mendapatkan banyak kecaman dari pemimpin dunia internasional setelah kasus hilangnya Jamal Khashoggi. Jerman, Inggris dan Perancis mengeluarkan pernyataan yang mengecam kejadian tersebut dan mendesak agar ada klarifikasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Jerman bahkan menyatakan akan membekukanpenjualan senjata ke Arab Saudi. PM Kanda Justin Trudeau juga akan mengikuti langkah yang diambil oleh Jerman. “Kanada selalu membela hak asasi, termasuk dengan Arab Saudi,” kata PM Trudeau. Sementara Indonesia hanya mendorong adanya transparansi terkait dengan kasus ini (Kompas, 23/10/2018).Sikap lunak Indonesia ini dapat dipahami karena Indonesia membutuhkan Saudi, terutama kuota haji setiap tahunnya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang awalnya agak lunak dengan Saudi, juga mengeluarkan pernyataan yang agak keras dengan menuduh Saudi melakukan kebohongan. Trump mengatakan, “Jelas ada penipuan, dan ada kebohongan-kebohongan.” Lebih lanjut Trump mengatakan bahwa “Cerita mereka (Saudi) berantakan,” (Kompas, 22/10/2018). Hal ini dikatakan Trump dalam merespons pernyataan Saudi yang awalnya mengatakan bahwa Jamal Khashoggi sudah meninggalkan kedutaan, kemudian mengakui bahwa Khashoggi benar meninggal di kedutaan karena adanya insiden perkelahian dengan sejumlah orang. Oleh karena itu, kasus Khashoggi telah menimbulkan kemarahan internasional dan merusak hubungan Riyadh dengan AS serta pemerintah Barat lainnya (Kompas, 28/10/2018).

Inilah harga yang harus dibayarkan oleh Saudi dengan pembunuhan terhadap Jamal Khashoggi. Reputasi Saudi dan MBS menjadi terpuruk dan tidak mudah bagi MBS untuk membangun kembali reputasinya di dunia internasional. Tentu saja MBS dapat merasakan langsung dampak dari hilangnya Jamal Khashoggi. Pada tanggal 23 Oktober, forum investasi kedua yang sedianya akan menjadi forum ekonomi besar dan berskala global serta menjadi momentum bagi MBS untuk menjadi ‘bintang global’ menjadi sepi. Satu persatu figur penting mengundurkan diri dari pertemuan akbar ini. Tokoh-tokoh yang membatalkan kehadirannya itu seperti Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, Richard Branson, CEO Uber, Siemens, JP Morgan, Ford, dan juga para menteri dari Inggris dan Perancis. Sejumlah media dan jurnalis ternama jugamembatalkan kehadirannya (Kompas, 25/10/2018). MBS pun berada dalam tekanan dunia internasional. Sejumlah kepala negara memintanya untuk menyelesaikan kasus ini dengan transparan. Erdogan termasuk salah satu pemimpin yang sangat keras menekan Saudi dalam kasus ini sehingga berdampak akan merusak hubungan Riyadh-Istanbul.

Dampak lainnya adalah puluhan perusahaan besar internasional mengundurkan dari kontrak berbagai proyek di Saudi pasca tewasnya Khashoggi. Tentu saja ini dapat mengancam Visi 2030 Arab Saudi yang digagas oleh MBS karena visi tersebut membutuhkan modal besar dari investor asing. MBS tentu menyadari hal ini sehingga meminta bantuan Pangeran Waleed bin Talal, keluarga kerajaan yang sempat ditahan oleh MBS, untuk turun tangan dalam upaya menyelematkan Visi 2030 Saudi. MBS berharap besar kepada Pangeran Waleed, salah satu pengusaha terkaya di dunia, untuk membujuk para investor asing agar tidak meninggalkan Saudi dengan kasus Khashoggi (Kompas,13/11/2018).

Kesimpulan

Boleh jadi MBS melihat Khashoggi hanyalah sebagai seorang jurnalis yang tidak mempunyai pengaruh apa-apa dengan kesewenang-wenangan yang diperlakukan kepadanya. Mungkin MBS tidak melihat adanya dampak besar yang diterima Saudi dan MBS dengan membunuhnya karena Khashoggi tidak mempunyai rekanan bisnis dan pemangku kebijakan yang dibutuhkan MBS. Tetapi Khashoggi adalah seorang manusia yang harus dimanusiakan di mana dia mempunyai hak untuuk hidup dan itu adalah hak asasi yang melekat pada manusia sejak ia lahir. Negara tidak boleh mencabutnya, karena itu adalah pemberian Tuhan. Persarikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga sudah mendeklarasikan DUHAM (Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia) sejak awal terbentuknya lembaga tersebut. Arab Saudi sebagai salah satu negara anggota PBB harus mematuhi DUHAM tersebut.

Kasus terbunuhnya Khashoggi di mana MBS diduga kuat terlibat dilihat sebagai salah satu pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara dan MBS sehingga berdampak banyak hal bagi Saudi. Ini harus menjadi pelajaran penting bagi semua pemimpin di dunia, bukan hanya MBS, bahwa hak asasi manusia harus ditegakkan. Negara mungkin bisa dengan sangat mudah membunuh warganya tanpa ada perlawanan, seperti halnya Khashoggi, tetapi dunia internasional akan bersatu membelanya. Itulah yang dihadapi oleh Saudi dan MBS saat ini yang sedang berada dalam tekanan dunia internasional pasca tewasnya Jamal Khasoggi. Harus dicatat, Kabbah memang berada di Saudi di mana naik haji (mengunjungi Kabbah) bagian dari rukun Islam. Tetapi pembunuhan terhadap Khashoggi tidak mencerminkan nilai-nilai ‘ke-Kabba-an’ itu. Juga banyak warga negara Indonesia (TKI) yang dihukum pancung dan diperlakukan semena-mena di Arab Saudi. Singkatnya, Arab Saudi belumlah menjadi negara yang menegakkan HAM di dunia. Maka dunia perlu memberinya pelajaran bahwa HAM perlu ditegakkan. Semoga MBS menangkap ini!

Yogyakarta, 14 November 2018

Ahmad Sahide. Dosen Magister Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta  & Penggiat Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!