Hukum

Kajati Sulsel Diganti, Penggiat Anti Korupsi : Terima Kasih Bapak Kajagung!

Djusman AR

MAKASSAR, EDUNEWS.ID-Firdaus Dewilmar yang menjabat Kajati Sulsel sejak awal Juli 2019 diganti oleh Raden Febrytriyanto.

Disebutkan, Raden Febrytriyanto disebutkan memimpin Kajati Sulsel setelah lolos seleksi calon kajati yang digelar Kejagung sejak Agustus 2020. Serahterima jabatan dari Firdaus Dewilmar ke Raden Febrytriyanto digelar Rabu (17/2/2021).

Penggiat Anti Korupsi Sulsel, Djusman AR pun memberikan apresiasi atas digantinya Kajati Sulsel.

“Terkait mutasi kajati Sulsel dari pejabat lama ke pejabat baru, kami dari penggiat anti korupsi bukan hanya memberi apresiasi tapi malah kami berterimakasih kepada bapak kajagung atas keputusannya mengevaluasi pejabat lama,” kata Koordinator Fokal NGO Sulawesi ini di Makassar, Kamis (18/2/2021).

Djusman mengungkapkan, selama kepemimpinan Kajati sebelumnya, semangat dan harapan publik terkait pemberantasan korupsi terkikis. Pasalnya, pejabat sebelumnya juga sudah pernah dicopot lalu diaktifkan kembali di wilayah hukum yang sama.

“Semenjak kejadian itu, spontan mengikis semangat partisipasi publik,” ungkap Djusman.

Kemudian dalam catatan penggiat anti korupsi, kata Djusman, dari sekian banyak Kajati yang pernah menjabat di Sulsel, itulah kajati paling buruk kinerjanya.

Baca juga :  Lakukan OTT, KPK harus Pinjam Rp 5 miliar

“Andaikan diprestasikan, rapornya rapor merah,” kata Djusman.

Pasalnya, lanjut Djusman, sejauh ini dalam kinerjanya yang menonjol hanya membangun kerjasama MOU antara lembaga pemerintahan dan swasta. Di masa kepemimpinannya tidak ada yang membuat masyarakat sulsel berdecak kagum.

“Malah yang terjadi masyarakat penggiat antikorupsi menjadi pesimis untuk turut berperan serta dalam pemberantasan tindak pidana korupsi,” tambah Djusman.

Paling menohok publik kemarin kasus dugaan korupsi pembebasan lahan proyek Makassar New Port yang sempat menjerat seorang pengusaha ternama di Makassar, Soedirjo Aliman alias Jentang sebagai tersangka.

Dimana penyidikan kasus tersebut dihentikan diam-diam oleh Kejati Sulsel di bawah kepemimpinan Firdaus Dewilmar sebagai Kajati Sulsel. Jentang dibebaskan tanpa melalui proses hukum di persidangan setelah sempat ditahan di Rutan Klas 1 Makassar.

“Kasus ini yang paling menyedihkan dan betul-betul telah mencoreng wajah penegakan hukum kita. Bayangkan, si tersangka telah lama buron dan setelah berhasil ditangkap di persembunyiannya di Jakarta, sepekan kemudian dibebaskan dan perkaranya dihentikan (SP-3) secara sepihak meski status tersangka telah dikuatkan oleh putusan praperadilan,” ujarnya.

Baca juga :  TKN Bilang Begini Terkait Pernyataan Faldo Sebut Prabowo Mungkin ke Jokowi

Selain itu, tutur Djusman, tak ada satupun kasus dugaan korupsi yang ditangani berakhir hingga persidangan. Ada pula kasus yang cukup menyita perhatian publik yakni kasus dugaan korupsi PDAM Makassar, awal penyelidikannya dipublish habis-habisan namun belakangan menghilang bagai ditelan bumi alias perkembangannya tak kedengaran lagi.

“Entah penyebabnya apa, mungkin masuk angin,” ujarnya.

Bahkan juga terdapat dua kasus yang terkesan dibiarkan mandek di tahap penyidikan, yakni dugaan suap proyek DAK (Dana Alokasi Khusus) senilai Rp49 miliar di Kabupaten Bulukumba dan dugaan korupsi proyek DAK senilai Rp 39 miliar di Kabupaten Enrekang dan di beberapa wilayah kab/kota lainnya di Sulsel.

“Makanya izinkan saya menyampaikan selamat datang pak Kajati baru, dan silakan pergi kajati lama,” harap Djusman.

“Kepada Kajati Baru saya ingin ingatkan bahwa Sulsel ini butuh aparat penegak hukum dalam hal ini Kajati yang luar biasa kinerjanya, bukan yang luar biasa beretorika,” tambah Djusman.

Baca juga :  Setop Isu Pindah Ibu Kota, Fokus ke Papua

Djusman mengungkapkan, publik dan penggiat anti korupsi merindukan Kajati yang garang kinerjanya dari aspek kuantitas dan kualitas.

“Contoh kecil dimasa kepemimpinan Masyhudi Ridwan,” ungkapnya.

Djusman mengingatkan, pelaku korupsi itu kotor bahkan busuk makanya dibutuhkan Kajati yang bersih dan harum tegar, dan kedepannya diharapkan pak Kajati baru dapat mengangkat kembali kejayaan kinerja kejaksaan tinggi sulsel dibawah kepemimpinannya.

Ia berharap kepada pejabat baru, Kajati Sulsel untuk membuka semua kasus-kasus korupsi yang ditinggalkan pejabat sebelumnya.

“Dorong partisipasi publik khususnya penggiat Antikorupsi, mahasiswa dan ormas yang sevisi dengan gerakan pemberantasan korupsi,” tegasnya.

Dan paling terpenting jangan pernah abaikan hak-hak masyarakat dalam upaya berperanserta sebagaimana yang diatur dalam pasal 41 UU No 31/99 beserta perubahannya UU No 20/01.

“Selamat bertugas sesuai undang-undangnya No 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan,” pungkas Djusman.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com