Nasional

Kasus Penganiayaan Ninoy, Polisi Tangkap Dokter

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Polisi menangkap Insani Zulfah Hayati dalam kasus penganiayaan terhadap relawan Jokowi Ninoy Karundeng. Namun hingga kini status dokter yang disebut menjadi relawan tim medis saat kerusuhan akhir September tersebut masih belum jelas.

Kepastian ditangkapnya Insani diungkap oleh Anggota Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah Anggota, Gufroni. Dia menyatakan Insani bahkan sudah ditangkap sejak beberapa hari lalu oleh polisi.

“Beberapa hari yang lalu dokter Insani Zulfah Hayati yang menjadi tim medis di Masjid Al Falaah ditangkap Polda Metro Jaya,” ucapnya dalam keterangan tertulis, Rabu 16 Oktober 2019.

Gufroni mengaku tidak mengetahui secara pasti status Insani saat ini, apakah sebagai saksi atau tersangka. Dia mengaku masih melakukan verifikasi. Yang pasti, kata dia, Insani sudah ditahan di Polda Metro Jaya.

Baca juga :  Selama Tiga Tahun Terakhir, Dana Desa Sedot APBN Rp 187 triliun

Dia juga tidak menyebutkan adanya intansi medis tempat Insani berasal.

“Menjadi tim medis karena panggilan moral dan kemanusiaan,” tutur dia.

Menurut Gufroni, kliennya hanya ikut mengobati Ninoy di Masjid Al Falaah. Insani disebut merasa tidak pernah melakukan kekerasan fisik dan psikis, apalagi menyekap Ninoy Karundeng.

“Saya berharap klien kami diproses secara objektif dan adil (due process of law) dengan berpegang pada prinsip-prinsip hukum acara pidana (KUHAP),” ujar dia.

Atas informasi ini, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono belum memberi keterangan. Panggilan melalui WhatsApp belum dibalas.

Argo sebelumnya sempat menyatakan jumlah tersangka dalam kasus ini sebanyak 14 orang. Namun, Argo tidak menyebutkan inisial tersangka ke-14. Sedangkan 13 tersangka lainnya adalah Bernard Abdul Jabbar, F, AA, ARS, YY, RF, Baros, S, TR, SU, ABK, IA, dan R.

Baca juga :  Pemuda Muslimin Indonesia Kecam Represivitas Aparat terhadap Aktifis Mahasiswa

Ninoy Karundeng mengaku disekap dan dianiaya hingga hampir dibunuh oleh sejumlah orang di Masjid Al Falaah, Pejompongan Barat, Jakarta Pusat pada 30 September hingga 1 Oktober lalu. Dia menyatakan disekap saat sedang mencoba mengambil gambar kerusuhan yang terjadi pasca demonstrasi menolak sejumlah revisi undang-undang bermasalah tersebut.

Menurut dia, para pelaku sempat menggeledah telepon genggam hingga laptop miliknya dan mengetahui dia adalah anggota relawan Jokowi. Saat itulah kemudian dia dianiaya hingga hampir tewas. Dia mengaku akhirnya dilepaskan setelah dipaksa menandatangani surat pernyataan.

tmp

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright ┬ę 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!