Hukum

Kasus Prostitusi Gay Terungkap, Pelaku Mesti Dijerat Perppu Kebiri

JAKARTA, EDUNEWS.id–Terungkapnya kasus prostitusi anak kepada kaum gay yang dilakukan tersangka berinisial AR (41) mengingatkan kembali tentang bahayanya kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender). Di mana sebelumnya sempat diperdebatkan bahwa LGBT tidak begitu berbahaya.

Kasus ini pun mendapat sorotan tajam dari Anggota Komisi X DPR RI, Reni Marlinawati.

Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini mengungkapkan, dirinya mengutuk keras pelaku penjualan anak laki-laki sebanyak 99 anak kepada gay.

“Pelaku harus dijerat ancaman berlapis mulai dari Perppu No 1 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak (Perppu Kebiri) dan UU No 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang,” katanya dalam keterangannya ke edunews.id, Kamis (1/9/2016).

Reni pun meminta dan mendesak kepada aparat penegak hukum untuk mengusut secara tuntas pelaku dan sindikat penjualan anak laki-laki kepada gay.

Termasuk membongkar 3000 anak-anak yang terlibat dalam jaringan gay ini, sebagaimana dilansir Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Baca juga :  Public Policy Network Minta Pansus Hak Angket Jangan Hanya Mencari Kesalahan Gubernur Sulsel

“Kasus ini membuka mata kita tentang bahayanya praktik LGBT. Kasus ini mengonfirmasi kepada kita semua bahwa praktik LGBT bukan perkara HAM sebagaimana yang selama ini dikampanyekan para penganutnya,” ungkapnya.

Namun LGBT adalah persoalan penyimpangan yang mesti diluruskan. LGBT memiliki dampak merusak dan berpotensi mengancam masa depan anak-anak indonesia.

Reni juga meminta, pemerintah harus menjadikan berbagai kasus yang menimpa anak-anak Indonesia ini sebagai peringatan keras kita untuk bersungguh-suungguh dalam melawan kejahatan seksual terhadap anak-anak.

“Negara harus keras dan tidak boleh tunduk kepada penjahat kemanusiaan ini,” tegasnya.

Sebelumnya, dilansir dari republika.co.id, Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri mengungkapkan 99 anak di bawah umur menjadi korban prostitusi online. Para korban ini hanya diupah Rp 100 ribu untuk meladeni para pelanggan sesama jenis.

”Tarifnya hanya dapat Rp 100 sampai Rp 150 ribu dari kesepakatan Rp 1,2 juta,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus (Dirtipideksus) Bareskrim Polri Brigjen Agung Setya di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (31/8/2016) lalu.

Agung menjelaskan, Selasa (30/8) malam, anggotanya menangkap pelaku tindak pidana perdagangan orang (TPPO) berinisial AR alias A. Pelaku ini melakukan ekplorasi pada anak laki-laki di bawah umur di wilayah Bogor. 

”Yang bersangkutan mengekspoitasi anak laki-laki untuk kemudian dipertemukan dengan pengguna laki-laki juga. Ini yang kemudian menjadi konsen kita untuk kita tangani,” jelas Agung. 

Kasus tersebut dibuka oleh tim patroli cyber yang menemukan ada kasus prostitusi melalui jejaring sosial Facebook. Melalui Facebook pelaku menawarkan anak-anak ini dengan harga Rp 1,2 juta rupiah.

”Dari Fb itulah jadi kami tahu bahwa ada anak-anak yang dieksploitasi. Kami temukan delapan anak, satu sudah dewasa usia 18 tahun, dan tujuh lainnya di bawah 18 tahun,” kata Agung.

Agung berujar, palaku tidak hanya menjajakan delapan orang korban, namun dari data yang ditemukan ada 99 anak lainnya. Hanya saja untuk korban lainnya masih dilakukan pendalaman.

”Kami sudah temukan memiliki (daftar) 99 anak. Ini yang akan kita tangani secara berkelanjutan dan hari ini mungkin penjelasan awalnya seperti ini,” ujar Agung.

Untuk modusnya, polisi masih mendalaminya. Termasuk bagaimana cara perekrutan, transaksi, dan hal-hal lainnya hingga korban dan pelanggan bertemu. 

”Kita sedang dalami bersama dan nanti tim dan stakeholders lain untuk kemudian kita bisa mendalami lagi. Karena kita paham bahwa tidak semua ini nanti berada di wiayah tugas Polri, ada tugas dari kementrian dan lembaga lain,” ujarnya.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com