News

‘Lampu Merah’, Kegaduhan Sosial Baru  dan Watak Masyarakat +62

Foto Ilustrasi (sumber : sindonews makassar0
Foto Ilustrasi (sumber : sindonews makassar)

Oleh :  Akbar*

OPINI, EDUNEWS.ID-Lampu Lalu Lintas, tentu sudah tidak asing lagi bagi tiap pengendara, roda dua maupun empat. Benda ini akan mudah kita temui khususnya di tiap persimpangan kota. Masyarakat Indonesia lebih sering menyebutnya ‘lampu merah’.

Dalam sejarahnya, ‘lampu merah’ pertama kali digunakan di Inggris dan ditemukan oleh Lester Farnworth Wire pada tahun 1868 saat kendaraan bermotor mulai digunakan. Pada saat itu lampu lalu lintas hanya terdiri dari dua warna, merah dan hijau. Baru kemudian tahun 1869 Garret August Morgan asal Amerika Serikat menambahkan warna kuning. Dulu lampu lalu lintas serupa petugas yang berdiri tegak dengan tinggi 20 kaki dan memberi petanda dengan tangannya. Rentangan tangan 90 derajat diiringi dengan lampu merah menyala berarti berhenti dan rentangan tangan 45 derajat diiringi dengan lampu hijau artinya boleh maju. Dulu lampu lalu lintas bekerja dengan bantuan bensin dan bergerak secara mekanik. Lampu lalu lintas muncul sebab semakin memburuknya kemacetan pada saat itu. Seiring dengan perkembangan teknologi, Lampu lalu lintas berkembang seperti saat ini.

Makna Dibalik Warna

Mengapa lampu lalu lintas hanya menggunakan tiga warna ? Mengapa harus warna hijau, kuning dan merah ? mengapa warna merah di posisi pertama, kuning ditengah dan hijau paling di bawah ?

Warna hijau (daun) mewakili rasa ketenangan bagi siapapun yang memandangnya sehingga dijadikan sebagai simbol aman untuk berjalan. Warna kuning menyimbolkan warna api dimana pada zaman perang dahulu dianggap sebagai petanda akan datangnya serangan musuh. Itulah mengapa warna kuning pada lampu lalu lintas menjadi penanda bersiap-siap sebelum lampu hijau dan berhati-hati sebelum lampu merah.

Baca juga :  Kemenkop Ajak Masyarakat Perkuat kelembagaan UMKM melalui koperasi

Warna merah bermakna ‘Stop’. Hal ini berangkat dari peperangan zaman dahulu, dimana orang-orang ingin mengakhiri peperangan dan pertumpahan darah. Sehingga warna merah pada lampu lintas menandakan harus berhenti supaya kecelakaan dan pertumpahan darah dapat dihindari di jalan.

Singkatnya, lampu lalu lintas bertujuan mengurangi tingkat kecelakaan akibat perbedaan arus jalan, menghindari hambatan sebab perbedaan arus jalan dan untuk memfasilitasi pejalan kaki.

Posisi tiap warna lampu juga ditata tidak sembarangan. Lampu disusun secara vertikal dengan urutan warna merah, kuning dan hijau agar memudahkan pengguna jalan yang mengalami buta warna, dimana warna merah mengandung corak jingga, hijau mengandung corak warna biru sehingga masih bisa dibedakan lampu mana yang sedang menyala.

Kegaduhan Sosial Baru

Dibalik kegunaan lampu lalu lintas, sebenarnya juga melahirkan masalah sosial baru. Misalnya, melanggengkan kemacetan, menyumbang kebisingan jalan dan menjadi poros baru ketimpangan sosial. Masalah yang disebabkan oleh ‘lampu merah’ kemudian penulis sebut dengan kegaduhan sosial baru. Mengapa ‘lampu merah’ yang sebelumnya diharapkan untuk menyelesaikan masalah lalu lintas justeru memantik masalah lain ?

Pertama, lampu merah bukan solusi tepat mengakhiri kemacetan. Hal ini sama dengan ketika kita mendudukkan fenomena ‘pak ogah (pengatur lalu lintas dari warga sipil) yang biasanya berdiri di tiap belokan atau putaran jalan dengan perkara kemacetan. Menurut penulis, ‘pak ogah hanya bagian kecil dari penyebab kemacetan. Pun Fakta di lapangan tidak bisa dinafikkan bahwa kapasitas jalan kini tidak sebanding dengan jumlah kendaraan. Penulis mencoba mengangkat salah satu realitas di kota Makassar misalnya, berdasarkan data Samsat Makassar, jumlah kendaraan motor pada 2017 mencapai 1.156.759 unit, mobil penumpang sebanyak 213.985 unit, mobil barang sebanyak 74.603 unit, bus sebanyak 17.306 dan kendaraan khusus 403 unit sampai pada oktober 2018 keseluruhan kendaraan di Kota Makassar mencapai 1.563.608 unit. Sedangkan menurut Kepada Bidang Moda dan Transportasi Dinas Perhubungan Kota Makassar jumlah kendaraan di Makassar pada tahun 2020 mencapai 2,1 juta unit kendaraan dimana 1,6 juta diantaranya merupakan sepeda motor. Belum lagi, di Makassar misalnya, banyak masyarakat yang berdagang dan menjadikan bahu jalan umum sebagai lahan bisnis. Ditambah lagi, masyarakat yang lebih mampu membeli mobil tanpa terlebih dahulu menyiapkan garasi mobilnya.

Baca juga :  Pilkada DKI Jakarta, Anies Enggan Berkomentar

Kedua, akibat ‘lampu merah’ masyarakat berlomba-lomba membunyikan klakson kendaraannya. Bunyi klakson itu penulis maknai sebagai tanda protes pengendara terhadap ‘lampu merah’ yang telah menyita waktunya, meskipun sepersekian detik saja. Apalagi, beban dan rasa penat sepulang kantor dan hal-hal yang mendesak ketika di perjalanan, tidak sedikit dari pengendara, menerobos tanpa rasa bersalah, yang membuktikan bahwa ada gangguan mental pada masyarakat kita.

Terakhir, ‘lampu merah’ justru menjadi poros yang subur bagi fenomena sosial seperti pengemis, pedagang kaki lima dan masalah sosial lainnya.

Berkaca dengan Lampu Merah

Bagi James Prochaskas seorang profesor psikologi asal Amerika, masalah-masalah tadi disebabkan oleh ketidaksempurnaan proses masyarakat +62 dalam mengadopsi sesuatu. Sesuatu yang dimaksud disini adalah perilaku ketaatan terhadap norma dan nilai-nilai sosial yang berlaku di masyarakat termasuk norma hukum lalu lintas. Hal ini dijelaskan dalam teori Transtheoretical Model yang mengasumsikan bahwa seseorang dianggap berhasil mengadopsi suatu perilaku bila telah melalui lima tahap yaitu pra kontemplasi (belum siap untuk berubah), kontemplasi (mempertimbangkan untuk berubah), persiapan (komitmen sungguh untuk berubah), aksi (perubahan dimulai) dan pemeliharaan (mempertahankan perubahan).

Baca juga :  Mentalitas Tauhid dan Kepemimpinan Nasional

Jika dikaitkan dengan kondisi masyarakat +62, penulis menilai kita masih berada pada tahap pra kontemplasi, sama sekali belum siap untuk berubah. Kita masih gemar melakukan hal-hal yang melanggar norma, nilai dan aturan yang berlaku. Sedangkan untuk merubah perilaku yang sudah menjadi kebiasaan tentu memiliki kesulitan tertentu. Karena pada dasarnya seseorang tidak dapat merubah perilaku dalam waktu singkat, terutama perilaku yang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Lagi-lagi ini masalah mental masyarakat kita dalam memperlakukan norma dan aturan lalu lintas.

Pada teori lain, perilaku menyimpang masyarakat +62 terhadap lalu lintas disebabkan oleh pertimbangan pilihan rasional individu. Gary Becker dalam teori pilihan rasionalnya mengatakan bahwa seluruh perilaku sosial disebabkan oleh perilaku individu yang masing-masing membuat keputusan sendiri. Keputusan-keputusan itu berdasarkan pertimbangan informasi yang diterima, kemungkinan peristiwa, potensi biaya dan keuntungan dari menentukan pilihan. Bagi Masyarakat +62, sering kali menjadikan pelanggaran sebagai pilihan dan tindakan rasional bagi dirinya. Misalnya, dengan menerobos ‘lampu merah’ dianggap sebagai keuntungan agar lebih efisien dalam perjalanan.

Hemat penulis, dibalik bisunya ‘lampu merah’ yang sering kita temui di jalan. Ternyata watak suatu warga negara dapat diketahui dengan melihat bagaimana mereka memperlakukan ‘lampu merah’ dan aturan lainnya. Seperti beberapa warga kota Makassar, yang membenarkan pelanggaran hukum atas nama kepentingan pribadinya.

Untuk itu, mari berkaca dengan lampu merah.

 

Akbar. Mahasiswa Sosiologi UNM, Kader HMI (MPO) Universitas Negeri Makassar

 

 

 

To Top
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com