News

Meeting Online Berlebihan Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental

ilustrasi

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Di masa pandemi ini, meeting virtual atau online sudah jadi hal yang biasa. Jika dulu saat rapat, Anda bisa bertemu dengan banyak orang kini Anda hanya perlu membuka laptop atau ponsel untuk mengaktifkan aplikasi meeting virtual tersebut.

Orang pun berlomba-lomba untuk tampil menarik saat terlihat di layar, sekalipun di kiri-kanannya berantakan. Tak jarang panggilan video bisa membuat orang jadi merasa tak nyaman dengan wajahnya. Beruntung kalau Anda bisa mematikan kamera saat rapat, tapi ada beberapa juga yang mengharuskan untuk memperlihatkan wajah.

Apa yang kini dianggap sebagai cara baru untuk berinteraksi dengan orang lain secara online ini secara tak langsung sudah memengaruhi cara seseorang melihat dan mengkritik diri sendiri. Bahkan ketika digunakan secara berlebihan, konferensi video dapat memicu dampak yang merusak bagi kesehatan mental dan citra tubuh seseorang.

Baca juga :  Agendakan Pertemuan, Ketum PAN akan 'Bujuk' UAS Maju Pilpres 2019

“Ini bukan masalah baru. Akses ke platform sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan lainnya telah membuat orang dari segala usia terpikat ke media sosial,” jelas Dr Martina Paglia, psikolog di The International Psychology Clinic dikutip dari Glamour.

“Pada era ini, komunikasi melalui platform sosial lebih sering terjadi daripada bertemu langsung, yang saat ini sudah langka. Itu memang datang dengan kelebihannya, tetapi itu juga telah menyebabkan paradoks kesepian, kecemasan, depresi, kebencian dan narsisme yang terkait langsung dengan penggunaan media sosial yang berlebihan.”

Dalam kondisi saat ini, konferensi video yang bagi banyak orang menjadi fitur konstan dalam kehidupan kerja justru menambah masalah.

“Pertemuan tatap muka adalah mekanisme penting untuk komunikasi dan menjaga lingkungan yang sehat. Ini cara yang bagus untuk memperkenalkan perasaan, emosi, sikap, gerak tubuh, dan postur kita secara non-verbal. Namun pada rapat virtual, kami perlu melakukan lebih banyak upaya untuk tetap aktif,” kata Martina.

Baca juga :  Keamanan Siber Perlu Ditingkatkan
Advertisement

Ini mungkin terdengar sepele, tetapi energi yang dibutuhkan untuk menjaga momentum tetap berjalan di ruang virtual yang penuh dengan gangguan, kegagalan teknologi, dan kelambatan dapat membuat kita merasa terkuras.

“Sungguh melelahkan untuk merasa seperti kita harus berusaha lebih keras untuk hadir secara mental dalam pertemuan di mana kita tidak secara fisik tidak melakukannya. Rapat yang diadakan secara online meningkatkan beban kognitif karena menuntut banyak kapasitas dan upaya sadar,” tuturnya.

“Dalam pertemuan kehidupan nyata, keheningan adalah alat yang sangat baik karena menciptakan ritme dan ketenangan yang alami. Dalam pertemuan virtual, itu membuat kami cemas dan marah. Kami keluar zona dan merasa orang lain kurang ramah dan fokus. ”
Jika Anda mengalami hal ini dan membiarkannya maka penggunaan media sosial dan platform konferensi yang berlebihan dapat merusak tingkat produktivitas kita, membuat kita kehilangan fokus dan menurunkan mood kita.

“Sebuah studi eksperimental yang diadakan di University of Pennsylvania menunjukkan hubungan antara penggunaan media sosial dan perasaan depresi dan kesepian.”

“Ini membuktikan bahwa penggunaan platform sosial yang lebih sedikit dapat sangat meningkatkan harga diri dan kesejahteraan seseorang.”

Apa yang harus dilakukan agar tak mengalami hal ini?

“Memiliki kepala yang menatap diri sendiri untuk waktu yang lama bisa jadi tidak menyenangkan,” ucap Martina.

“Kita bisa lebih fokus pada memperbaiki rambut, riasan dan pakaian kita daripada terlalu fokus pada rapat. Karena ketika Anda merasa percaya diri maka Anda akan jadi lebih produktif dan juga efisien dalam bekerja,” ujarnya.

Tak dimungkiri, melihat wajah kita bercahaya di sudut layar bisa membuat kita lebih sadar diri, tapi juga, lebih kritis.

 

cnn

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com