News

Mujahidin Ciamis, Aku Cemburu Padamu

Oleh: Abd Aziz Qahhar Mudzakkar*

Bermula dari tekad antum, mujahidin Ciamis, untuk ikut berjihad membela Al-Qur’an pada Aksi Bela Islam III, 2 Desember 2016, di Jakarta. Dalam perkembangannya kemudian keluar himbauan Kapolri melarang perusahaan bus untuk mengangkut massa ke Jakarta.

Maka dengan semangat jihad yang sudah membara di dada antum, larangan menggunakan bus sama sekali bukan halangan untuk ikut aksi 212 di Jakarta. Jika naik kendaraan tidak memungkinkan, maka longmarch jalan kaki adalah pilihan. Panggilan jihad harus dipenuhi, baik terasa ringan ataupun berat (infiruu khifafan au tsiqalan).

Jarak Ciamis-Jakarta sekitar 300 kilometer diperkirakan ditempuh empat atau lima hari dengan jalan kaki. Maka hari H minus lima dengan gagah berani dan penuh heroisme para mujahid berangkat menuju Jakarta. Beberapa jam setelah berangkat, atas lobi dan negosiasi para ulama, Kapolri mencabut larangan penggunaan bus ke Jakarta.

Ketika itu sebenarnya tersedia pilihan untuk menghentikan aksi jalan kaki dan segera menggunakan bus. Tapi antum tetap memilih longmarch berjalan kaki. Semakin berat perjuangan semakin besar pula pahala dan barokahnya. Seluruh bumi yang dipijak dalam perjalanan kelak menjadi saksi di akhirat atas jihad membela al-Qur’an. Begitu kira-kira dalam pikiran antum.

Semangat jihad Ikrimah bin Abu Jahal, sepupu Rasulullah SAW yang dikenal pemberani, yang memilih berjalan kaki sejauh 1200 kilometer dalam perang Yarmuk nampaknya telah mengalir dalam darah antum.

Heroisme antum kemudian mengundang simpati dan semangat jihad kaum muslimat daerah yang akan dilewati para mujahid. Mereka berduyun-duyun menyiapkan makan dan minuman secara gratis di jalan-jalan yang akan dilewati.

Bagi mereka ini merupakan kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam jihad bela al-Qur’an dan harga diri kaum muslimin. Partisipasi yg sungguh merupakan pemandangan yang sangat indah. Mereka menunjukkan kehebatan ajaran Islam; kebersamaan, ukhuwah, dan tolong menolong.

Selanjutnya, para mujahidin di sepanjang kawasan yang akan dilewati ada pula yang terpanggil untuk ikut bergabung long march. Mereka terbawa arus magnet jihad yang begitu besar dalam rombongan mujahidin Ciamis.

Sambutan hangat dari Gubernur Jawa Barat bersama Pangdam Siliwangi dan Kapolda Jawa Barat di Bandung turut menambah keharuan. Dan yang sangat menarik adalah kehadiran Aa Gym, ulama kharismatik yang dikenal dengan ceramahnya yang sejuk, bergabung dan naik kuda ke Jakarta.

Saudaraku mujahidin Ciamis, antum telah menjadi guru perjuangan bagi kami. Bahwa keberislaman bukan hanya pengakuan, tapi juga menuntut pengorbanan, baik harta maupun tenaga dan jiwa.

Ketika antum bertekad berangkat berjihad dengan mengumandangkan “Allahu Akbar”, antum benar-benar tercerahkan bahwa makna kalimat itu adalah membesarkan dan memenuhi panggilan Allah. Maka segala macam kendala yang bagi banyak orang seringkali tampak besar akibat dominasi hawa nafsu dan bisikan setan, semuanya menjadi kecil dimata antum.

Saudaraku mujahidin Ciamis, karakter dan semangat juang antum tunjukkan telah menumbuhkan harapan dan optimisme bagi kebangkitan ummat. Betapa rendahnya harga diri ummat akibat lemahnya akidah, karakter dan komitmen dalam membangun kekuatan kepemimpinan, politik dan ekonomi.

Sebagai misal, salah satu krisis nilai dan karakter dalam perpolitikan di negeri ini, yg berefek pada kerusakan bangsa yg lain, adalah besarnya pengaruh politik uang (money politics). Dan karena ummat Islam adalah komponen terbesar pada bangsa ini maka kerusakan moralitas rakyat dengan perilaku buruk tersebut tentu tidak dapat dilepaskan dari realiatas keummatan.

Saudaraku mujahidin Ciamis, antum (bersama mujahidin 212 lainnya) telah menumbuhkan harapan untuk kebangikitan bangsa. Bangsa ini terpuruk dalam segala aspek kehidupan: sosial, politik, ekonomi, hukum, dan lain-lain. Jika diusut pada intinya berasal dari kerusakan moral. Dampak sistemik dari kerusakan moral terutama adalah ketidakadilan. Sebagai contoh di bidang hukum.

Betapa ironis bahwa pada negara yang berdasar Pancasila ini, yang melindungi hak-hak beragama dan keragaman, tapi seorang penista agama mayoritas harus didemo lebih dari dua juta orang di Jakarta, ditambah semarak demo hampir di semua daerah, untuk kemudian bisa ditetapkan sebagai tersangka.

Ketidakadilan ekonomi juga sudah sangat parah. Tujuh puluh empat persen tanah dikuasai oleh hanya 0,2 persen warga. Demikian pula hanya 2000 orang (pengusaha besar) yang mengusai sekitar 80 persen kekayaan. Jurang antara kaya dan miskin begitu lebar dengan rasio gini mencapai 0,43; suatu angka yang sangat jauh melampaui ambang batas kehidupan sosial ekonomi yang normal. Pada akhir masa Orde Baru rasio gini “hanya” 0,35.

Realiatas tersebut sudah jauh menyimpang dari nilai-nilai yang diamanahkan oleh para pendiri bangsa (founding fathers) yang dirumuskan pada dasar negara Pancasila. Disamping masalah yang telah melilit bangsa itu, kita juga dihadapkan ancaman kedaulatan akibat dinamika kehidupan global yang juga semakin jauh dari keadilan. Mungkin demikian besarnya potensi ancaman global tersebut sehingga

Panglima TNI Gatot Nurmantyo begitu sering menyampaikan hal itu di depan publik, termasuk pada acara ILC TV One (8/11/16) dalam mengomentari aksi 411. Untuk mengatasi dan mengantisipasi berbagai masalah tersebut diperlukan “komitmen baru” dari segenap komponen bangsa dengan karakter dan semangat juang seperti yang antum telah tunjukkan pada Aksi Bela Islam III.

Saudaraku mujahidin Ciamis, antum telah mewarisi semangat juang Rasulullah dan para sahabatnya. Semangat perjuangan yang telah mengantarkan Islam menjadi ekspansif, eksis dan membawa rahmatan lil ‘alamin.

Saudaraku mujahidin Ciamis, antum telah mewarisi semangat juang para pahlawan ummat dan bangsa di seluruh nusantara dalam mengusir penjajah. Perlawanan yang hampir semuanya digerakkan dan dipimpin para ulama. Bangsa dan negara ini bisa berdiri karena semangat juang dan tumpahan darah mereka.

Saudaraku mujahidin Ciamis, aku cemburu padamu. Aku berharap, aku dan ummat di seluruh nusantara, bahkan dunia, tertular semangat juangmu. Tantangan ummat dan bangsa yang makin berat sungguh memerlukan banyak pejuang dengan karakter perjuangan seperti yang antum miliki.

Dari saudaramu yang lemah, dan mencintaimu karena Allah.
AQM

Abdul Azis Qahhar Mudzakkar. Anggota DPD RI 

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!