Napi Narkoba Pakai FaceTime Hindari Sadapan

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Polisi mengungkapkan sindikat narkoba asal Nigeria berkomunikasi dengan fitur FaceTime dalam penyelundup 158 kg sabu. Tersangka AC (38) yang merupakan napi Lapas Tangerang mengaku memanfaatkan fitur tersebut untuk menghindari sadapan.

“Sindikat Nigeria ini sudah pakai FaceTime. (FaceTime digunakan) untuk menghindari sadapan. Keterangan tersangka warga Nigeria (AC) seperti itu (pakai FaceTime),” kata Kepala Tim 2 Satgas Narcotics International Center (NIC) Direktorat IV Bareskrim Polri, Kompol Dony Setiawan, kepada detikcom di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (10/12/2019).

Dony menjelaskan FaceTime diandalkan para sindikat Nigeria karena penggunaannya tak memerlukan nomor telepon. Untuk berkomunikasi lewat FaceTime, pengguna ponsel hanya perlu mencantumkan user ID mereka.

Baca juga :  Berpontensi Bekerjasama, Dubes Jerman Kunjungi Papua

“FaceTime kan nggak muncul nomor. Kita selidiki dulu ke FaceTime-nya ini. Karena sudah dibuang BB (barang bukti) ponselnya sama kurir. Mereka ini sistem terputus, setelah berhasil komunikasi, transaksi, buang ponsel. Kita sedang dalami itu,” terang Dony.

Dony mengatakan penyidik juga sedang mendalami informasi rute perjalanan 158 kg sabu tersebut masuk ke Indonesia. AC mengaku sabu tersebut dikirim lewat ekspedisi.

“Masih kita periksa dari awal lagi. Pengakuan AC dan kurir, mereka awal terima barang dari no name di Bekasi, no name yang antar mobil serta barang itu. Kita masih selidiki ekspedisinya itu, kami belum ketemu ekspedisi apa yang dia pakai. Kan biasa ada kertas tempelan label ekspedisi yang di karton paket, nah itu dirobek,” katanya.

Baca juga :  Soal Revisi UU KPK, Jokowi Minta Tanggapan Pakar dan Menteri

Dari hasil pemeriksaan sementara, AC mengaku belum pernah bertemu dengan si pengirim barang, yaitu seseorang dari Nigeria. Dia hanya mendapat perintah untuk mengambil kiriman barang dari sebuah mobil yang di tinggal di suatu tempat.

“Sementara dia ngaku nggak pernah ketemu (orang yang menyuruh). Perantara AC dan orang Nigeria ini inisialnya A, A ini masih kita cari,” tutur Dony.

Sebelumnya, polisi mengungkap sindikat peredaran narkotika yang dikendalikan narapidana Lapas Tangerang berinisial AC (38). Dalam kasus ini, polisi menembak mati anak buah AC, yakni warga Indonesia berinisial EF (41) karena berupaya melarikan diri.

“EF ini dikendalikan oleh AC, di mana AC ini adalah warga negara Nigeria yang pada tahun 2008 ditangkap oleh Direktorat Tindak Pidana Narkoba dalam kasus yang sama, yaitu barang bukti kepemilikan heroin sebanyak 6,7 Kg dan sabu 5 Kg,” ucap Direktur Tindak Pidana Narkoba Brigjen Eko Daniyanto di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (2/12/2019).

Baca juga :  DPD RI : Miras Merusak, Perda Miras Mesti Diwujudkan

“Dengan keputusan (vonis) 15 tahun, kemudian banding, lalu ditolak, diputuskan lagi menjadi 20 tahun. Jadi saat ini statusnya adalah sebagai narapidana di LP Tangerang,” ujar Eko.

158 kg sabu disita polisi dari sindikat ini. Polisi menjelaskan barang haram tersebut didapat AC dari temannya yang seorang warga Nigeria berinisial TN. Kepada polisi, AC mengaku TN berada di Nigeria.

dtk

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!