Nasional

Corona Meroket di Era New Normal, Guru Besar FKM UI Sebut Ikuti Protokol Kesehatan Tidak Cukup

Ilustrasi

JAKARTA, EDUNEWS.ID -Sejumlah wilayah di Indonesia mulai melonggarkan pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan memasuki masa transisi menuju tatanan kehidupan baru (new normal) saat pandemi virus corona (Covid-19).

Misalnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang mulai menerapkan PSBB transisi mulai pekan pertama Juni 2020.

Kemudian Pemprov Jawa Barat melaksanakan PSBB proporsional untuk wilayah Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bekasi (Bodebek).

Tak ketinggalan, Pemprov Jawa Timur menghentikan PSBB di Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Gresik. Saat ini tiga wilayah itu menerapkan transisi menuju new normal.

Tiga wilayah yang melonggarkan pembatasan aktivitas warga ini menjadi penyumbang kasus positif Covid-19 tertinggi, khususnya DKI Jakarta dan Jawa Timur.

Baca juga :  Dwi Hari Cahyono Khawatir New Normal Picu Penambahan Pasien Covid-19 di Jatim

Di tengah pelonggaran pembatasan di sejumlah daerah, terjadi lonjakan signifikan kasus positif virus corona pada awal Juni 2020.

Terhitung sejak 5 hingga 11 Juni, jumlah kumulatif kasus positif di Indonesia sebanyak 6.477 kasus. Dalam rentang waktu itu, kasus harian yang memecahkan rekor terjadi pada 6 Juni dengan 993 kasus. Kemudian 9 Juni 1.042 kasus dan terakhir 10 Juni 1.241 kasus.

Sementara pada tujuh hari sebelumnya, yakni 29 Mei sampai 4 Juni, jumlah kumulatif kasus positif virus corona hanya 4.280 kasus. Dalam kurun waktu itu, lonjakan kasus tertinggi terjadi pada 31 Mei dengan 700 kasus baru.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Hasubullah Tabrany berpendapat lonjakan kasus di tengah kebijakan transisi ini karena masih banyak warga yang belum tes.

Baca juga :  Pemprov DKI Deteksi Penyebaran Virus Corona di Pusat Perbelanjaan Mal

“Kalau pendapat saya ya begitu. Yang belum dites dan belum ketahuan masih banyak, sehingga penularan masih terjadi,” tutur Hasbullah kepada CNNIndonesia.com, Jumat (12/6/2020).

Hasbullah mengatakan disiplin masyarakat saja tidak cukup dalam menekan penyebaran virus corona. Menurutnya, perlu langkah pemerintah lebih agresif dalam menelusuri kasus positif sehingga penularan tak terjadi di masyarakat.

“Jaga jarak, pakai masker, selalu cuci tangan dan badan, serta perkuat imun sistem badan (tidak cukup). Jadilah, kenaikan kasus tak terhindarkan,” ucapnya.

Advertisement

Senada, Epidemiolog UI Pandu Riono mengatakan pemerintah perlu meningkatkan pengamatan penyakit, mulai dari tes massal, penelusuran kontak, hingga isolasi pasien positif.

“Tes, tracing, isolasi dilipatgandakan. Pembatasan sosial pun berbasis komunitas,” ujar Pandu.

Pandu mengatakan kasus positif yang terjadi pada awal Juni atau setelah sejumlah daerah menerapkan masa transisi ini merupakan data pada dua pekan sebelumnya atau saat Lebaran.

Menurutnya, jika dalam beberapa waktu ke depan dapat terjadi penurunan, dapat dikatakan Indonesia sudah melewati masa puncak pandemi virus corona.

Pandu pun mengingatkan agar kebijakan yang diambil pemerintah tidak hanya berbasis pada pemulihan ekonomi semata, sehingga melakukan pelonggaran secara masif.

Meskipun demikian, pasien positif virus corona yang dinyatakan sembuh pada 5 sampai 11 Juni juga naik signifikan.

Jumlah kumulatif pasien sembuh dalam kurun waktu itu sebanyak 3.744 orang. Lonjakan pasien sembuh tertinggi terjadi pada 10 Juni dengan 715 orang.

Sementara pada 29 Mei sampai 4 Juni, jumlah kumulatif pasien positif sembuh sebanyak 2.652 orang. Tambahan pasien sembuh tertinggi terjadi pada 30 Mei dengan 523 orang.

Sedangkan kasus kematian pasien positif corona yang meninggal dunia juga naik. Dalam kurun waktu 5 sampai 11 Juni, jumlah pasien meninggal sebanyak 279 orang. Kemudian pada 29 Mei sampai 4 Juni, jumlah pasien meninggal sebesar 225 orang.

DKI Jakarta menduduki posisi teratas daerah dengan kasus positif terbanyak. Hingga kemarin, Kamis (11/6), DKI memiliki 8.650 kasus positif, disusul Jawa Timur dengan catatan 7.103 kasus positif.

Jawa Timur dalam beberapa waktu terakhir menjadi penyumbang kasus positif harian terbanyak dibandingkan daerah lain. Kemarin, Jawa Timur menyumbang 297 kasus baru. Disusul Sulawesi Selatan 141 kasus, Jakarta 128 kasus dan Kalimantan Selatan 69 kasus.

Sampai saat ini, jumlah kumulatif kasus positif di Indonesia mencapai 35.295. Dari jumlah itu, 12.636 orang dinyatakan sembuh dan 2.000 orang lainnya meninggal dunia.

cnn

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com