Nasional

Mantan Kepala Eijkman Sebut Vaksin Rusia Dipolitisasi

ilustrasi

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Mantan Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman periode 1992-2014 Sangkot Marzuki mengatakan klaim vaksin Sputnik berhasil menghasilkan antibodi Covid-19 hanyalah merupakan politisasi pemerintah Rusia.

Sangkot mengatakan Sputnik dalam jurnal The Lancet dilaporkan memang menghasilkan antibodi namun Sangkot menjelaskan belum tentu antibodi tersebut bisa menetralkan virus SARS-CoV-2.

“Klaim Rusia ini berhasil adalah politisasi untuk kepentingan politik. Sputnik V telah dimasak supaya enak dijualnya. Dalam jurnal itu tidak membuktikan antibodi menetralisasi virus sehingga virus tidak menginfeksi sel-sel lagi,” kata Sangkot saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (8/9/2020).

Sangkot yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPSI) mengungkap dibutuhkan uji klinis sesuai prosedur untuk membuktikan bahwa antibodi benar-benar menetralisir virus, dan harus ada bukti bahwa antibodi itu betul-betul memberikan kekebalan bagi orang yang divaksinasi.

Baca juga :  Syekh Ali Jaber: Saya Tidak Percaya kalau Pelaku Gila

Vaksin itu bukan hanya antibodi dan beraksi dengan virus, tapi betul-betul vaksin itu memberikan orang kekebalan yang lebih daripada yang tidak divaksin. Itu baru benar-benar uji klinis.

Sangkot menjelaskan sains tidak mempedulikan sebuah kebenaran yang berbahaya menggelisahkan atau memalukan. Bagaimana perasaan seseorang ketika kebenaran diungkapkan tidak ada artinya bagi sains. Satu-satunya hal yang relevan adalah kenyataannya.

Uji klinis fase III Sputnik V yang melibatkan lebih dari 2.000 orang dimulai pada 12 Agustus di Rusia, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Brasil, dan Meksiko. Produksi massal vaksin tersebut dijadwalkan akan dimulai September.

Namun, vaksin corona Rusia ini belum selesai melakukan uji klinis tahap III. Sehingga, timbul kritik ketika Rusia telah mengumumkan kalau vaksin ini bisa digunakan oleh publik.

Baca juga :  Meletus, Status Gunung Merapi Naik Level Siaga

“Begitu diverifikasi, kebenaran itu kukuh dan tidak dapat dinegosiasikan. Namun, kebenaran dalam politik adalah hal yang berbeda, seringkali bergantung pada perasaan manusia dan persepsi realitas,” ucap Sangkot.

Semua vaksin perlu diuji pada banyak orang, dari berbagai usia dan etnis, dalam uji klinis fase tiga. Uji coba tahap ketiga diperlukan untuk mendapatkan tingkat keyakinan yang tinggi bahwa vaksin melindungi dari infeksi.

Klaim Rusia bahwa vaksin Sputnik dapat menghasilkan antibodi berdasarkan pada uji klinis fase I dan II. Sangkot mengatakan dalam uji klinis I dan II, Sputnik V diuji kepada hanya kurang dari 100 orang.

Sebaliknya, beberapa vaksin di seluruh dunia sekarang memulai pengujian Fase III dengan masing-masing pengujian vaksin melibatkan 30 ribu orang.

Baca juga :  Peringati Sumpah Pemuda, Istana akan Gelar Nusantara Berdendang

Sangkot kemudian mengambil contoh salah satu jawaban yang bagus terkait klaim sains dari seorang politikus. Politikus itu adalah Calon wakil presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Kamala Harris.

Dalam interview dengan CNN, Harris yang mendampingi capres Joe Biden mengatakan hanya percaya pernyataan dari ilmuwan terkait pengadaan vaksin di AS. Haris tidak percaya dengan klaim dari Presiden AS, Donald Trump yang mengatakan vaksinasi massal akan ada di AS sebelum akhir tahun atau November.

Sangkot menyatakan pernyataan Trump terkait vaksin telah ‘dimasak’ sedemikian rupa agar menguntungkan dirinya menjelang Pilpres AS pada 3 November.

“Harris jawabnya bagus sekali, jawabnya saya hanya percaya kalau itu kata-kata dari ilmuwan kedokteran. Kalau itu dari mulutnya Trump saya tidak percaya,” ucap Sangkot.

cnn

To Top
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com