Nasional

Ponpes Al Furqon Muhammadiyah di Lamongan Dibakar Orang Tak Dikenal

Kebakaran / Ilustrasi

LAMONGAN, EDUNEWS.ID – Pondok Pesantren Al Furqon Muhammadiyah, Cabang Laren, Kabupaten Lamongan dibakar orang tak dikenal. Tidak ada korban dalam insiden ini. Namun, para santri menjadi trauma.

Karena itu, sejumlah pihak bersuara keras. Mereka meminta agar polisi segera bertindak dan menangkap pelaku.

Wakil Sekretaris PW Muhammadiyah Jawa Timur (Jatim), Biyanto mengatakan, aksi pembakaran ponpes Alfurqon tersebut sudah terjadi dua kali. Pertama, pada Jumat (1/1/2021) dan kedua pada Jumat (8/1/2021). Karena itu, dia mendesak agar polisi segara menangkap pelaku.

“Kejadiannya dua kali dan harinya sama. Saat itu, para santri sedang melaksanakan sholat Jumat. Jadi kejadiannya sekitar pukul 12.00 WIB. Peristiwa ini sudah dilaporkan ke Polsek Laren dan Polres Lamongan,” katanya, Senin (11/1/2021).

Dia menambahkan, sejauh ini belum diketahui siapa pelaku pembakaran tersebut. Apakah satu orang atau lebih berikut motifnya. Menurutnya, polisi agak kesulitan mengungkap kasus ini lantaran tidak ada saksi dan tidak ada petunjuk seperti kamera pengintai.

“Ya wajar kami tidak punya CCTV (kamera pengintai). Lokasi pondok ini ada di desa. Tapi kami yakin polisi memiliki kemampuan dan keterampilan untuk mengungkap kasus ini,” terangnya.

Baca juga :  Petinggi PAN Bakal Ikut Aksi Bela Palestina

Lebih jauh Biyanto meminta pada aparat kepolisian untuk membuka garis polisi atau police line di sekitar lokasi pembakaran. Sebab, pihaknya berencana melakukan perbaikan. Dengan begitu, proses pembelajaran bisa kembali dilakukan.

“Pondok pesantren tidak bisa melakukan pembelajaran daring karena keterbatasan fasilitas,” katanya.

Saat ini, dari 67 santri, kata dia, sebagian besar berada di rumah orang tuanya. Banyak santri yang masih trauma akibat asrama mereka dibakar. Bagi yang trauma, akan mendapatkan pendampingan trauma healing dari Universitas Muhammadiyah (UM) Sidoarjo.

Advertisement

“Para santri masih trauma kembali ke pondok. Mereka khawatir ketika di pondok dan sedang istirahat, asrama mereka kembali dibakar,” ujarnya.

Diketahui, dalam aksi pembakaran pada Jumat (1/1/2021) yang menjadi sasaran yakni asrama santri laki-laki. Kejadian yang kedua, pada Jumat (8/1/2021) yang dibakar adalah asrama santri putri. Sasarannya sama, yakni rak sepatu, sepatu serta puluhan timba untuk mencuci pakaian para santri.

Lebih jauh Biyanto meminta pada aparat kepolisian untuk membuka garis polisi atau police line di sekitar lokasi pembakaran. Sebab, pihaknya berencana melakukan perbaikan. Dengan begitu, proses pembelajaran bisa kembali dilakukan.

“Pondok pesantren tidak bisa melakukan pembelajaran daring karena keterbatasan fasilitas,” ujarnya.

Saat ini, dari 67 santri, kata dia, sebagian besar berada di rumah orang tuanya. Banyak santri yang masih trauma akibat asrama mereka dibakar. Bagi yang trauma, akan mendapatkan pendampingan trauma healing dari Universitas Muhammadiyah (UM) Sidoarjo.

“Para santri masih trauma kembali ke pondok. Mereka khawatir ketika di pondok dan sedang istirahat, asrama mereka kembali dibakar,” tuturnya.

Diketahui, dalam aksi pembakaran pada Jumat (1/1/2021) yang menjadi sasaran yakni asrama santri laki-laki. Kejadian yang kedua, pada Jumat (8/1/2021) yang dibakar adalah asrama santri putri. Sasarannya sama, yakni rak sepatu, sepatu serta puluhan timba untuk mencuci pakaian para santri.

inw

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com