Nasional

Ruas Jalan Tol Yogya-Bawen Mayoritas Lahan Pertanian

ilustrasi

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Rencana mega proyek pembangunan Jalan Tol Yogya – Bawen telah memasuki tahap sosialisasi pengadaan tanah yang diperkirakan selesai untuk etape pertama, pada 4 Agustus 2020 mendatang.

Ketua Tim Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) ruas Semarang- Yogya Heru Budi Prasetyo mengungkapkan dari 7,6 kilometer panjang ruas jalan yang akan dibebaskan lahannya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), khususnya kabupaten Sleman, mayoritas tanah pertanian.

“Persentasenya hampir 75 persen sawah,” kata Heru kepada wartawan usai menggelar sosialisasi di Balai Desa Margodadi, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, DIY, Rabu (29/7/2020).

Nantinya, lanjut Heru, ganti rugi yang akan diberikan dari pembebasan lahan tersebut rata-rata akan berbentuk uang tunai.

Baca juga :  Lahan Kritis Makin Meningkat, Ini Kata Legislator NasDem Sulsel

Dalam sosialisasinya, Heru memaparkan bahwa Peta Jalan Tol di DIY untuk segmen JC Sleman – SS Banyurejo akan melewati tujuh desa/kelurahan di tiga kecamatan, dengan panjang jalan sekitar 7.65 km. Salah satunya, Desa Margodadi di Kecamatan Seyegan yang diperkirakan ada 76 bidang tanah dengan luasan 55.478 meter persegi yang akan dibebaskan.

Sementara Kepala Dinas Pertanahan, dan Tata Ruang (Dispetaru) DIY Krido Suprayitno mengaku ada pertimbangan yang cukup berat untuk membangun jalan tol di wilayah Margodadi. Pasalnya di daerah tersebut terdapat gereja dan Sekolah SMK 17 Sleman.

Advertisement

Sebagian dari dua bangunan tersebut akan terkena pembebasan lahan. Namun demikian, pihaknya menegaskan bahwa kedua fasilitas umum tersebut tak perlu dipindahkan atau direlokasi, karena lahan yang dibebaskan itu masih bisa dimanfaatkan untuk fasilitas publik.

Mengingat, jalan tol di lintasan itu akan dibuat melayang (Elevated). Hanya saja, Krido mengimbau agar pihak pengelola segera mengajukan permohonan tertulis ke Satker supaya konstruksi jalannya nanti bisa disesuaikan.

“Trasenya tetap sama, cuma konstruksi bangunan tol dimungkinkan berubah,” ucap Krido.

Kepala Sekolah SMK 17 Sleman Eni Pujiastuti berharap akan ada solusi yang diberikan oleh Satker karena ada sepertiga bangunan berlantai dua dari sekolah tersebut yang terdampak, yakni lab, kantin, dapur, dan toko.

Ditanya terkait kemungkinan relokasi, Eni mengaku belum berpikir sejauh itu. Akan tetapi pihaknya menilai, secara umum, ketika dunia pendidikan dekat dengan jalan akan terasa kurang nyaman karena terganggu dengan kebisingan.

“Kami harus berkoordinasi dengan Yayasan terlebih dulu,” ujarnya.

cnn

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com