Nasional

Yusril : Ajakan Jokowi Pisahkan Agama dengan Politik bisa Timbulkan Masalah

Yusril Ihza Mahendra

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Pidato Presiden Jokowi di Barus, Sibolga, Sumatera Utara minggu akhir Maret yang lalu, dinilai dapat menimbulkan kesalah-pahaman. Ketua Umum Parta Bulan Bintang, Yusril Ihza Mahendra mengatakan karena persoalan hubungan agama dan negara itu persoalan sederhana yang bisa diungkapkan dalam satu dua kalimat seperti pidato Jokowi tersebut.

“Dalam sejarah pemikiran politik di tanah air, debat intelektual tentang hubungan agama dengan negara pernah dilakukan antara Sukarno dan Mohammad Natsir, sebelum kita merdeka. Debat mereka berkisar Sekularisme di Turki dan Kitab Al Islam wa Ushulul Hukm karya Ali Abdurraziq, seorang pemikir Islam dari Mesir di zaman itu,” kata Yusril, Rabu (29/3/2017).

Baca juga :  DPR RI Soroti Anggaran BPJS dan Kartu Pra Kerja

Yusril menjelaskan , dengan diterimanya Pancasila sebagai landasan falsafah bernegara kita, maka Negara RI adalah jalan tengah antara Negara Islam dan Negara Sekular. Yusril menambahkan, Indonesia tidak merdeka menjadi sebuah Negara berdasarkan Islam dan juga tidak berdasarkan Sekularisme yang seperti dikatakan Prof Soepomo dalam sidang BPUPKI yani ‘negara yang memisahkan urusan keagamaan dengan urusan kenegaraan’.

“Negara berasaskan falsafah Pancasila adalah kompromi yang dapat menyatukan antara pendukung Islam dan pendukung Sekularisme,” ujarnya.

Yusril mengatakan Jokowi tidak perlu mengutak atik jalan tengah yang bersifat kompromatis dengan ‘pemisahan politik dengan agama’. Apalagi, ajakan itu diungkapkan tanpa memahami dengan sungguh-sungguh latar belakang historisnya dan implikasi politiknya yang bisa mendorong kembalinya debat filosofis tentang landasan bernegara kita.

Baca juga :  Pemerintah Saat Ini Cenderung Menjadi Represif

“Dalam konteks kita membangun bangsa dan negara dewasa jnj, ajakan seperti itu lebih banyak membawa mudharat daripada membawa manfaat,” katanya.

Yusril menuturkan, dalam konteks historis seperti itu, secara filosofis mustahil kita akan memisahkan agama dari negara, dan memisahkan agama dari politik.

“Karena itu, saya dapat mengatakan bahwa ajakan Presiden Jokowi itu bersifat a-historis, atau tidak punya pijakan sejarah samasekali. Para pendiri bangsa seperti Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, H Agus Salim, KH Wahid Hasyim dan Ki Bagus Hadikusumo semua berpendapat seperti,” tambah Yusril.

EDUNEWS.ID

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com