News

Opini : Jokowi dalam Pusaran Propaganda Adu Domba dengan SBY

Ferdinand Hutahaen

Oleh  : Ferdinand Hutahaean*

OPINI, EDUNEWS.ID – Sutuasi politik Jakarta semakin hari semakin tidak terkendali dan cenderung semakin liar. Semakin tidak mengindahkan kaidah-kaidah berpolitik santun dan semakin mengabaikan norma-norma kepatutan atau menghalakan fitnah demi tujuan kekuasaan yang sesungguhnya tidak perlu dipertahankan dengan cara-cara yang tidak terhormat.

Mencermati dan menelaah fakta-fakta lapangan serta menghubungkan dengan analisa dan evaluasi realitas politik, maka siapapun anak bangsa ini harusnya menundukkan kepala, sedih, menangis melihat situasi dimana bangsa dan negara tidak lagi diatas segalanya, tidak lagi diatas segala kepentingan kelompok atau pribadi. Kepentingan bangsa dan negara terjerembab karena kepentingan kekuasaan sekelompok elit bangsa. Inilah keprihatinan mendalam, bangsa ini kehilangan negarawan dan guru bangsa, akhirnya trik dan intrik saling menjatuhkanpun menjadi biasa dan halal dibumbui dengan fitnah.

Manuver politik Presiden Jokowi dengan diplomasi meja makannya menjadi trend dua hari ini setelah manuvernya unjuk kekuatan militer yang seolah militer itu adalah kekuatan abdi penguasa, dan membelokkannya dari abdi negara. *Diplomasi meja makan yang dipertontonkan itu tentu membuat mata para kaum miskin terbelalak ingin juga merasakan nikmatnya makan mewah seperti jamuan politik ala Jokowi tersebut. Namun adakah jamuan politik itu membawa makna positif bagi bangsa? Waktu akan menjawabnya kemudian dengan kebenaran.

Baca juga :  Kunjungi Smesco, Ketua Diaspora Janji Promosikan UKM Indonesia

Jokowi dan SBY

Ada satu yang menarik meski sesungguhnya hal itu memalukan bagi bangsa ini, yaitu sikap mengotakngotakkan teman atau lawan yang dilakukan oleh Presiden. Sebuah sikap tidak negarawan dan kurang patut dipertontonkan kepada publik, karena presiden tidak boleh menunjukkan sikap bermusuhan atau menganggab kekuatan politik lain sebagai lawan apalagi sebagai musuh.

Mengapa Jokowi tidak mengundang Presiden RI ke 6 Soesilo Bambang Yudhoyono ke istana dan mengajak SBY juga mendiskusikan nasib bangsa kedepan?. Secara pribado dan politik, SBY tidak pernah bermusuhan dengan Jokowi bahkan saat pilpres Partai Demokrat berdiri dijalan tengah dengan tidak mendukung salah satu calon presiden kala itu. Sebuah sikap yang justru adalah sikap negarawan karena dukungan Presiden SBY kala itu kesalah satu pihak, akan diidentikkan sebagai dukungan yang berpotensi curang dan menjadikan pemerintah dalam posisi tidak netral. Politik jalan tengah itu sudah tepat dan terbukti pilpres berakhir dengan baik.

Baca juga :  Mahasiswa Makassar Tuntut Jokowi Mundur dan Pelaksanaan SI MPR

Berdasarkan info-info yang diperoleh dilapangan, sepertinya Presiden Joko Widodo sedang berada dalam pusaran propaganda adu domba dengan SBY. Ada kepentingan sebuah kelompok yang sangat tidak ingin JOKOWI dan SBY duduk satu meja. Apa kepentingannya? Apabila Jokowi dan SBY bisa duduk bersama maka semua informasi (fitnah) yang disampaikan oleh para pembisik tinggi itu akan mentah dan jernih serta terang benderang. SBY akan bisa mengklarifikasi secara langsung tentu dengan dukungan bukti dan fakta. Itulah ketakutan para pembisik tinggi itu sehingga segala upaya harus dilakukan untuk menjauhkan Jokowi dengan SBY. Jokowi berada dalam pusaran adu domba dengan SBY agar fitnah tidak terbongkar.

Presiden Jokowi semestinya tidak boleh mengambil sikap berbasis informasi yang tidak benar apalagi informasi yang mengadu domba dan bermuatan fitnah. Karena basis informasi sesat tersebut akan menyesatkan langkah Presiden Jokowi dalam mengambil sikap dan kebijakan. Sudah terbukti, bahwa fakta hari ini masalah politik Jakarta dan penegakan hukum kasus Ahok tidak kunjung berbuah sejuknya hawa politik Jakarta, tapi justru semakin panas. Hal ini tentu terjadi karena langkah presiden yang melangkah berbasis informasi menyesatkan.

Baca juga :  Setelah Ketua DPP PSI, Reklame Rommy Dicopot Pemrov DKI
Advertisement

Daripada menjadikan SBY sebagai lawan apalagi musuh, ada baiknya Presiden Jokowi mencermati pembisik tinggi disekelilingnya. Mengapa demikian? Karena para pembisik tinggi itulah yang paling berpotensi menjatuhkan presiden dan mengambil alih kekuasaan dan bukan SBY.

Mari kita berandai-andai sejenak. Andaikan terjadi revolusi sipil dan menggulingkan presiden, pertanyaannya siapa yang paling terdepan yang bisa mengambil alih kursi presiden? _Jawabannya bukanlah SBY sang Presiden RI ke 6, namun adalah mereka yang berada dilingkaran Jokowi sendiri, mereka yang berada dalam struktur pemerintahan serta elit partai politik pendukung Jokowi bukan yang diluar pemerintahan seperti saya, anda dan SBY. Inilah logika berfikir paling mudah dipahami.

Serangan politik kepada SBY

Sejak aksi 411, banyak sekali tudingan dialamatkan kepada SBY, baik oleh media besar maupun kecil atau bahkan sekedar blog pribadi yang menuliskan seolah SBY adalah aktor penunggang dari semua ini. Banyak opini disebar yang dalam hal ini kita sebut saja mereka buzzer politik. Mumgkin jugacadalah buzzer bayaran politik. Mereka menebar fitnah dan hoax dimedia-media dengan gencar. Tapi konyolnya adalah, tidak satupun dari tudingan itu yang membeberkan bukti konkret atas tuduhan yang dibangun. Semua hanya berbasis menghubung-hubungkan cerita fiksi yang bercampur dengan kebencian subjektif kepada pribadi SBY. Akhirnya kualitas opini buzzer politik tersebut tidak lebih dari karangan bebas, karangan bebas dengan myatan fitnah.

Saya ingin mengajak kita semua kembali masuk kedalam pikiran atau lamunan berandai-andai. Andaikan tudingan-tudingan yang dialamatkan kepada SBY itu benar dan punya bukti, mengapa aparat penegak hukum tidak melakukan penindakan hukum kepada SBY? _Jawabannya adalah karena memang tidak ada bukti keterlibatan SBY, dan SBY tidak seperti yang dituduhkan, maka itu tidak mungkin ada proses penegakan hukum._ Tapi semua ini adalah demi kepentingan politik, maka opini harus dibangun meski dengan fitnah dan informasi menyesatkan. Kasihan rakyat bangsa ini tiap hari disuguhi drama politik penuh kebohongan dan fitnah.

Saran bagi Presiden Jokowi

Presiden harus segera mengevaluasi lingkaran dalamnya. Inteligent errors atau informasi menyesatkan telah membuat presiden tidak kunjung bisa menyelesaikan masalah secara tepat. Sangat patut diduga, dalam lingkaran dalam atau lingkaran terdalam presiden Jokowi ada yang sengaja terus menyesatkan presiden sembari terus mengipasi bara api agar asap terus menebal, yang kemudian sang aktor itu muncul sebagai pahlawan dihadapan presiden. Mereka inilah yang sangat membahayakan presiden secara politik. Presiden harus waspada dan segera melakukan evaluasi konkret.

Dan kepada para konspirator pembisik sesat presiden, kami minta untuk berhenti menyesatkan presiden karena nasib bangsa dan negara ini berada ditangan presiden yang menjabat. Berhentilah menciptakan suasana tidak nyaman bagi negara ini, dan berikanlah informasi yang jujur dan bersih kepada presiden, agar Indonesia, negara yang kita cintai ini segera keluar dari kemelut dan kita punya cukup waktu untuk membangun bangsa dengan baik sesuai cita-cita Pancasila dan UUD 45.

Terakhir, sebaiknya Jokowi segera mengunjungi juga SBY atau mengundang SBY ke istana agar Jokowi terbebas dari pusaran adu domba dan kepemimpinan nasional berjalan dengan baik hingga akhir bhakti.

Ferdinand Hutahaean. Rumah Amanah Rakyat

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com