News

Pemerhati Harap Sekolah jadi Pendidikan yang Memanusiakan Manusia

 

TANGERANG, EDUNEWS.ID – Sekolah pada era revolusi digital ini diharapkan tidak hanya menjadi produk semata melainkan juga menjadi platform pendidikan. Dengan demikian, semua guru yang ada di dalamnya harus memiliki kemerdekaan, kebebasan, serta keberanian berkarya dan berkreasi untuk para anak didiknya.

“Karena pendidikan di Indonesia yang menstandarisasi seperti saat ini tak lama lagi akan bergeser menjadi pendidikan yang memanusiakan manusia,” kata pemerhati pendidikan, Muhammad Nur Rizal, di sela-sela Festival Pendidikan Sinar Mas Land di BSD City, Selasa (31/4/2019) lalu.

Problem di Indonesia, kata Rizal, para guru sering disibukkan urusan administrasi demi mengejar akreditasi sekolah. Akibatnya, fokus mereka adalah bagaimana mendongkrak nilai anak-anak didik. Tidak ada ruang bagi inovasi yang sebenarnya amat diperlukan di abad 21 ini.

Baca juga :  Kemendikbud Targetkan Sebelum 2019 Seluruh Desa Memiliki PAUD

“Seharusnya peran pemerintah tidak lagi memberikan standar melainkan membentuk eksosistem atau platform untuk berkembang bersama,” jelas Rizal yang merupakan pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) ini.

Rizal mengungkapkan model pendidikan seperti ini telah diterapkan secara jelas di Australia dimana dirinya menetap di sana selama tujuh tahun. Di sana, sekolah digunakan untuk pengembangan manusia serta membangun sikap mental serta pengetahuan mereka.

“Di sekolah-sekolah Australia, alih-alih menghukum ketika siswa berbuat salah, para guru justru mengajak mereka berdialog. Dampaknya, siswa menjadi memiliki motivasi belajar dan memiliki daya nalar yang lebih tinggi ketimbang siswa di Indonesia yang terbiasa dengan ujian sekolah,” paparnya.

Spirit perubahan, kata dia, perlu ditularkan pemerintah jika Indonesia tak ingin tertinggal dalam bidang pendidikan. Apalagi saat ini sudah banyak terdapat indikator terjadinya inflasi pendidikan, seperti banyak orang ramai-ramai menempuh pendidikan S2 dan S3 bukan untuk menjadi pengajar atau peneliti, melainkan hanya untuk mencari pekerjaan.

Baca juga :  Madrasah Negeri di Mataram ikut UN Berbasis Komputer

“Disrupsi terhadap sektor pendidikan tinggal menunggu waktu saja. Oleh karena itu perlu diciptakan sebuah gerakan untuk revolusi pendidikan di Indonesia,” tutur Rizal.

Saat ini, GSM sudah tersebar ke lebih dari 180 sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sedangkan di Tangerang, sudah terdapat sekitar 200 sekolah yang merupakan binaan dari program CSR Sinar Mas Land.

“Untuk membangun masyarakat yang madani di BSD City dan sekitarnya tentu membutuhkan pendidikan yang baik yang menyentuh segala tingkatan masyarakat. Bagi kami, berkolaborasi dengan GSM merupakan salah satu upaya nyata untuk mendorong peningkatan pendidikan yang merata bagi masyarakat,” ujar Direktur PT BSD Tbk, Syukur Lawigena.

Festival Pendidikan kemarin dimeriahkan dengan pameran dan perlombaan yang diikuti oleh siswa TK hingga SMA serta sekolah-sekolah madrasah di Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan Mengusung tema ‘Sekolah Menyenangkan untuk Pendidikan Indonesia yang Memanusiakan dan Memerdekakan’, Festival Pendidikan tahun ini  menghadirkan berbagai bentuk acara pendidikan, salah satunya pameran Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM Fair).

Baca juga :  Pemda Wajib Urus PAUD dan Kesetaraan

rpl

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!