News

Pemerintah Antisipasi Perubahan Iklim

 

 

BOGOR, EDUNEWS.ID – Ketua Umum Perhimpunan Meteorologi Pertanian Indonesia (PERHIMPI) Kasdi Subagyono menjelaskan, pembangunan pertanian ke depan akan dihadapkan pada berbagai kendala perubahan iklim akibat pemanasan global.

“Sehingga perlu ada upaya mitigasi penurunan emisi gas rumah kaca dengan penyesuaian diri terhadap kondisi perubahan iklim di sektor pertanian,” ujar Kasdi dalam Workshop Penanganan Perubahan Iklim Sektor Pertanian di IPB International Convention Centre, Bogor, Rabu (8/11/2017).

Salah satu upayanya, Kasdi menuturkan, mencari berbagai alternatif sumber saya air untuk pemanfaatan lahan pertanian yang selama ini kurang produktif. Caranya, meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dengan pemanfaatan air tanah dan optimalisasi air permukaan.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah melakukannya dengan meningkatkan IP dari 100 menjadi 200 dan 300. “Upaya ini setidaknya sudah berjalan di empat provinsi, yakni Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, NTB dan NTT,” ucap Kasdi.

Baca juga :  Pemerintah Klaim Harga Beras Mulai Turun

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Hari Priyono menuturkan, perubahan iklim adalah suatu tantangan nyata yang harus segera direspon. Terlebih, iklim ekstrim dua tahun belakangan ini memiliki potensi lebih besar untuk mengganggu ketahanan pangan Indonesia.

Untuk menanggulangi perubahan iklim, Hari menjelaskan, dibutuhkan fokus yang lebih mendalam terhadap tataran operasional. “Misal, dalam tiga tahun terakhir Kementerian Pertanian secara masif telah melakukan rehabilitasi jaringan irigasi kurang lebih sekitar 3,2 juta ha. Hal ini untuk mengefisienkan air”, ujarnya.

Hari menambahkan, Kementerian Pertanian sebenarnya telah melakukan tindakan adaptif terhadap perubahan iklim di sektor pertanian. Pengembangan beberapa varietas komoditas padi yang tahan terhadap kekeringan telah diluncurkan.

Tetapi hal ini perlu didukung tindakan komprehensif dari berbagai aspek agar pada tataran pelaksanaan di lapangan mampu berjalan efektif. Hari juga berharap, workshop bisa menghasilkan rekomendasi yang bersifat komprehensif dan tuntas, jangan sampai menyisakan masalah lain.

Baca juga :  Pemkot Pare-Pare Fasilitasi Korban Gempa Sulbar

Ia mencontohkan, penanaman komoditas di satu aliran irigasi perlu adanya manajemen tanam yang baik. Jika tidak, wilayah yang berada lebih ke hilir justru mendapatkan kekeringan.

“Fokus penanggulangan perubahan iklim di sektor pertanian bukan saja untuk meningkatkan produksi pangan, tetapi yang lebih penting lagi bagaimana upaya peningkatan kesejahteraan petani,” ucap Hari.

Mengangkat tema Gerakan Panen dan Hemat Air Untuk Meningkatkan Produksi Pangan Menghadapi Perubahan Iklim”, workshop diikuti lebih dari 100 peserta. Mereka terdiri dari tim perubahan iklim Kementan, organisasi profesi, dinas pertanian, perguruan tinggi, dan BPTP.

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com