News

Polisi Sebut Selain Lempar Bom Molotov Pengunjuk Rasa Putuskan Kabel Listrik Peneumatic Kapal

JAKARTA,EDUNEWS.ID – Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan (Polda Sulsel) Komisaris Besar Ibrahim Tompo mengatakan ada belasan orang yang diamankan dalam aksi menentang kapal Boskalis yang menambang pasir di lokasi tangkap nelayan, Pulau Kodingareng, Sabtu pagi (12/9/2020).

Mereka diamkan untuk dimintai keterangan terkait aksi perusakan kapal Boskalis. Menurut dia, sejumlah nelayan melemparkan bom molotov ke arah kapal.

“Beberapa nelayan dan Walhi meminta untuk menghentikan kegiatan dengan melempari batu dan bom molotov ke atas dek kapal sehingga menimbulkan kebakaran di beberapa titik dan melakukan pemotongan kabel listrik peneumatic sehingga kapal tidak bisa melakukan pengerukan di satu sisi,” kata Ibrahim.

Baca juga :  Nelayan Kodingareng akan Kembali Menerima Bantuan Dana CSR Sebesar Rp 700 Juta

Lanjut Ibrahim ,dirinya menuturkan tim intel mengamankan beberapa orang yang diduga menjadi provokator dari aksi demonstrasi anarkis tersebut.

“Tim intel dan kapal taktikal membawa mahasiswa dan masyarakat nelayan di atas ke Mako Ditpolairud Polda Sulsel untuk dilakukan pemeriksaan. Terhadap 12 orang tersebut saat ini masih kami lakukan pemeriksaan.” tuturnya.

Aksi Pelemparan Molotov saat aksi nelayan dan mahasiswa yang melakukan unjuk rasa penolakan tambang, Sabtu (12/9/2020)

Sementara itu, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) mengatakan 11 orang ditangkap oleh Polair Polda Sulawesi Selatan saat melakukan aksi, Warga merasa resah sehingga melakukan aksi.

Warga berangkat ke lokasi penambangan menggunakan 45 kapal lepa-lepa dan 3 kapal jolloro.

Baca juga :  Prestasi Oke tapi Korupsi Banyak, Eks LIPI Sebut Jokowi Bisa Seperti Soeharto

Mereka melakukan aksi hingga pukul 08.50 Wita sampai kapal Boskalis meninggalkan lokasi, pun warga masih mengikuti kapal tersebut.

Advertisement

Pukul 09.53 Wita, sejumlah massa aksi yang berkumpul di dekat pulau tiba-tiba didatangi Polair dengan sekoci. Mereka kemudian menghadang, merusak jolloro milik nelayan dan menangkap 11 peserta aksi tanpa dasar yang jelas.

“Satu orang nelayan atas nama Daen Pasang dipukul aparat,” kata Kepala Kampanye JATAM, Melky Nahar, kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Sabtu (12/9/2020).

Melky menjelaskan 11 orang yang ditangkap terdiri dari delapan orang nelayan dan 3 pers mahasiswa dari UKPM Unhas dan UPPM UMI. Sampai saat ini Melky belum mendapat kabar dari kepolisian mengenai kondisi 11 orang tersebut.

“Teman-teman di lapangan sedang cek terus ke Polair. Teman-teman jejaring lokal, seperti LBH Makassar dan Walhi Sulsel yang akan kawal di lapangan,” kata Melky.

Melky menduga kepolisian kongkalikong dengan PT Boskalis selaku pemilik kapal dan Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah. Sebab warga sudah menolak penambangan dan mengadu kepada Pemprov Sulsel namun tidak ditanggapi dengan baik.

“Indikasinya bisa terlihat pada proses penangkapan terhadap nelayan yang terus terjadi, tanpa diikuti alasan yang jelas, semena-mena. Lalu, kapal Polair Mabes Polri dan kapal Polair Polda Sulsel juga melakukan pengawalan terhadap kapal Boskalis yang melakukan penambangan pasir,” ujar Melky.

Lebih lanjut, Melky menjelaskan bahwa penambangan pasir dilakukan untuk proyek reklamasi Makassar New Port. Sejak 13 Februari kapal Boskalis melakukan penambangan di sejumlah perairan.

cnn

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com