Ekonomi

Rencana Impor 500 Ribu Ton Beras, Pemerintah ‘Bunuh’ Petani

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID-Pemerintah memutuskan untuk mengambil langkah impor demi mengamankan pasokan beras. Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan, sebanyak 500 ribu ton beras akan segera didatangkan dari Thailand dan Vietnam pada akhir bulan ini.

“Saya tidak mau mengambil resiko kekurangan pasokan. Saya mengimpor beras khusus,” ujarnya, dalam konferensi pers di Auditorium Kementerian Perdagangan, Kamis (11/1/2018).

Mendag menjelaskan, beras yang akan diimpor adalah beras kualitas khusus yang tidak ditanam di Indonesia. Jenis beras tersebut memiliki spesifikasi bulir patah di bawah lima persen. Meski masuk dalam golongan beras khusus, Enggartiasto memastikan komoditas pangan utama itu akan dijual dengan harga medium.

Pemerintah sendiri telah menunjuk Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) sebagai perusahaan yang akan melakukan impor.

Keputusan impor diambil karena saat ini tengah terjadi kelangkaan pasokan beras medium yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Meski pemerintah menyatakan panen masih terjadi, pasokan beras dianggap tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Sementara, panen raya diperkirakan baru akan terjadi pada Februari-Maret mendatang.

Enggartiasto memandang urusan pangan rakyat adalah urusan prioritas. Oleh karenanya, ia meyakini keputusan impor merupakan solusi terbaik. “Jangan ada pertentangan karena petani juga kosumen yang harus beli beras,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Perdagangan juga menginstruksikan pada suplier dan distributor untuk tidak menahan stok dan mengambil keuntungan di balik tingginya harga beras. Kementerian Perdagangan sendiri, lewat Permendag Nomor 20 Tahun 2017, mewajibkan seluruh distributor untuk melaporkan badan usahanya berikut gudang dan stok.

“Apabila mereka tidak melapor dan ditemukan di gudang tersedia beras yang tidak dilaporkan, kita anggap penimbunan,” katanya.

Penolakan terhadap opsi impor beras yang rencananya akan dilakukan pemerintah, terus berdatangan. Selain dari kalangan petani, penolakan opsi tersebut juga disampaikan pejabat daerah di lumbung padi nasional, Kabupaten Indramayu.

”Kami berharap impor beras tidak terjadi,” ujar Sekda Kabupaten Indramayu, Ahmad Bahtiar, saat ditemui di Desa Sleman, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Kamis (11/1).

Bahtiar mengatakan, jika opsi impor jadi dilakukan, maka petani akan sangat dirugikan. Pasalnya, beras impor akan datang saat petani nanti mulai memasuki panen raya.

”Kalau beras impor datang, ya sudah Wassalam. Habis petani,” tutur Bahtiar.

Bahtiar mengungkapkan, sebagai daerah lumbung padi nasional, para petani di Kabupaten Indramayu akan sangat merasakan dampak buruk dari kehadiran beras impor. Mereka akan merugi karena harga gabah milik mereka akan jatuh.

Bahtiar berharap, untuk menambah produksi beras, maka pemerintah harus terus berupaya meningkatkan produktivitas padi milik petani. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan sentuhan teknologi.

Seperti diberitakan sebelumnya, rencana pemerintah untuk membuka opsi impor beras mendapat penolakan dari para petani di Kabupaten Indramayu. Mereka mengatakan, impor akan membuat harga gabah petani menjadi turun.

“Saat harga gabah jatuh, maka petani pasti akan rugi,” tutur Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang.

Sutatang mengakui, harga gabah dan beras saat ini memang cukup tinggi. Namun, dia meminta agar pemerintah membiarkan petani menikmatinya terlebih dulu untuk sementara ini. Apalagi, pada Februari mendatang akan mulai ada panen di sejumlah daerah.

“Saat panen, harga gabah dan beras akan turun lagi,” tandas Sutatang.

 

REP | EDUNEWS

Facebook Comments

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!