News

SAS Institute Sebut MCA Bukan Bagian Islam

 

 

JAKARTA, EDUNEWS.ID – Idiom muslim yang dipakai sindikat penyebar konten provokatif berbau SARA dan informasi palsu, Muslim Cyber Army, telah melukai umat Islam.

Sebab, MCA menyematkan idiom muslim untuk beraktivitas menyebar kebencian antar umat, yang terang-terang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Begitu ujar Direktur Said Aqil Siradj (SAS) Institute, Imdadun Rahmat dalam keterangan tertulisnya kepada redaksi, Rabu (14/3/2018).

“Untuk itu, kita harus tegas, menegasikan MCA bukan bagian dari penguatan Islam,” tegasnya.

Lebih lanjut, Imdadun menjabarkan tentang paradok yang terjadi di era Revolusi Industri 4.0. Di satu sisi, era ini membuka peluang platform informasi yang egaliter.

Artinya, setiap orang atau kelompok bisa membuat kantor beritanya masing-masing. Tapi di sisi yang sama, era ini juga membuka potensi indormasi hoax menjadi semakin besar pula.

Baca juga :  Harga Ayam Kampung di Kendari Tembus Rp300.000 per Ekor

Atas alasan itu, Imdadun mengajak umat Islam Indonesia untuk melawan setiap duplikasi simbol Islam yang disalahgunakan pihak tak bertanggung jawab dalam menebar kejahatan.

“Ini sama sekali bukan Islam. Mereka adalah kelompok yang mencari keuntungan di tengah rentannya konflik horizontal masyarakat,” tegasnya.

Ia menegaskan bahwa SAS Institute akan selalu berada di garda depan dalam melawan penyebaran konten provokatif dan ujaran kebencian di media sosial. Utamanya, jika konten itu disebar oleh pihak-pihak yang mengatasnamakan diri sebagai Islam.

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!