News

Upacara dan Serpihan Sejarah Hari Lahir Pancasila

EDUNEWS.ID-Hari ini kembali di Sekolah untuk mengenang satu tahapan bersejarah yang pernah dilalui bangsa kita. Satu tahapan bersejarah bagi Bangsa Indonesia, yakni memperingati tanggal 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila. Mengingat kembali peristiwa sejarah bangsa menjadi hal yang penting untuk membangkitkan kembali rasa nasionalisme kita sebagai satu bangsa. Bung Karno mengatakan JASMERAH, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah.

Seperti seluruh Negara di dunia, sebagai sebuah Negara yang berdaulat Indonesia juga memiliki ideologi Negara yang kita sebut Pancasila. Secara yuridis penetapan tanggal 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila yakni ketika Presiden Joko Widodo memberikan sambutan pada peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945 di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat pada 1 Juni 2016.

Dalam sambutanya Presiden Joko Widodo mengatakan, “Dengan keputusan Presiden (keppres), tanggal 1 Juni ditetapkan, diliburkan, dan diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila,”. Selanjutnya Presiden menandatangani Keppres No. 24 Tahun 2016 langsung dilokasi peringatan.

Hari ini tepat 74 tahun yang lalu, yakni 1 Juni 1945, dari sekolah ini SMA Negeri 20 Jakarta hanya berjarak 3 kilo meter di Jl. Taman Pejambon No. 6, RT.9/RW.5, Kecamatan Senen, Kota Jakarta Pusat sebuah bangunan bersejarah, kini disebut Gedung Pancasila, menjadi saksi sejarah ketika, Ir. Soekarno membacakan Pidato dihadapan 65 anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pada Pidato inilah untuk pertamakali Ir. Soekarno menawarkan istilah Pancasila sebagai asas ideologi Negara Republik Indonesia.

Baca juga :  Heboh, Wali Kota Jakbar dan Jakpus Tertidur saat Djarot Bacakan Pidato Jokowi

Gedung Pacasila yang menjadi saksi bisu sejarah dicetuskannya ideologi Bangsa Indonesia, pada zaman Hindia Belanda adalah Gedung Volksraad atau Dewan Rakyat. Diantara perwakilan Indonesia yang pernah menduduki Volksraad antara lain H. Omar Said Cokroaminoto, Mohammad Hoesni Thamrin, H. Agus Salim, Otto Iskandardinata, Dr. Radjiman Wediodiningrat dan lain-lain.

Dalam pidato di Gedung Pancasila tersebut, selain menawarkan istilah Pancasila sebagai dasar Negara, Ir. Soekarno juga menawarkan lima sila yakni (1). Kebangsaan Indonesia, (2). Internasionalisme atau Perikemanusiaan, (3). Mufakat atau Demokrasi, (4). Kesejahteraan Sosial dan (5). Ketuhanan yang berkebudayaan.

Selain Ir. Soekarno yang berpidato menyampaikan dasar Negara dihadapan anggota BUPKI terdapat juga tokoh bangsa lain seperti Mohammad Yamin pidato tanggal 29 Mei 1945 dan Mr. Soepomo pidato tanggal 30 Mei 1945 juga menyampaikan pandangannya tentang dasar negara. Pidato Bung Karno mendapat sambutan yang baik dari sejumlah hadirin. Mohammad Hatta dalam bukunya, “Menuju Gerbang Kemerdekaan”, mengenang Pidato Bung Karno tanggal 1 Juni 1945, Bung Hatta menulis, “Pidato itu disambut hampir semua anggota dengan tepuk tangan riuh. Tepuk tangan yang riuh sebagai suatu persetujuan”.

Baca juga :  PPP : Peringatan Hari Pancasila jangan Sekedar Seremonial Belaka

Setelah pidato Bung Karno maka dibentuk Panitia Sembilan yang bertugas meramuruskan dasar Negara. Panitia Sembilan ini terdiri dari Soekarno, Mohammad Hatta, Marami Abikoesno, Abdul Kahar, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Mohammad Yamin dan Wahid Hasdjim. Dalam sebuah rapat terbatas Panitia Sembilan bersama 38 anggota BPUPKI tanggal 22 Juni 1945 dihasilkan rumusan dasar Negara yang disebut Piagam Jakarta.

Diskusi marathon yang panjang dan alot para tokoh bangsa tentang dasar Negara pada akhirnya diputuskan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tanggal 18 Agustus 1945 yang menetapkan rumusan Pancasila yang sah dan sistimatika serta terdapat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yakni (1). Ketuhanan Yang Maha Esa, (2). Kemanusiaan yang adil dan beradab, (3). Persatuan Indonesia, (4). Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan (5). Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Rumusan Pancasila hasil sidang PPKI melanjutkan rumusan Panitia Sembilan dalam Piagam Jakarta yang hanya menghapuskan sebagian teks Sila ke-1 yakni “kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.

Hasil rumusan Pancasila setelah ditetapkan PPKI maka dalam hukum bersifat memaksa dan mengikat, artinya sebagai warga Negara harus mamatuhi dan melaksanakan nilai-nilai Pancasila. Pancasila dinilai Cendekiawan Muslim, Yudi Latif dalam bukunya Negara Paripurna sebagai sistim nilai telah sempurna. Tantangan terbesar kehidupan berbangsa dewasa ini justru adalah mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga :  Puluhan Ribu Polisi Siap Amankan Pengumuman Pemenang Pemilu 2019

Sebagai ideologi Negara, Pancasila harus senafas dengan tarikan nafas kita, harus selangkan dengan ayunan kaki kita, harus seirama dengan gerak laku kita. Di ruang-ruang pendidikan seperti sekolah Pancasila harus menjadi spirit bersama warga sekolah. Bagi siswa nilai Pancasila diimplementasikan dengan semangat menuntut ilmu, saling menghormati, dan penghormatan yang tinggi terhadap kemanusiaan. Bagi guru, pegawai dan bahkan security nilai Pancasila terjewantahkan dalam semangat profesionalisme malaksanakan tugas dan amanah yang diberikan.

Sebagai epilog mari kita renungkan kalimat bijak dari Ir. Soekarno, “apa yang kuperbuat hanyalah menggali lagi mutiara lima dari bumi Indonesia itu, dan mutiara lima ini aku persembahkan kepada bangsa Indonesia yang berupa lima dasar daripada Pancasila”. Dalam kesempatan lain Ir. Soekarno juga mengatakan, “Permohonanku kepada Allah SWT. ialah saudara-saudara bisa membaca di dalam dada Bung Karno memohon kepada Allah SWT. Supaya Negara Republik Indonesia tetap berdasarkan Pancasila”.

 

SMA Negeri 20 Jakarta, 01 Juni 2019

Abdul Malik Raharusun, M.Pd
Guru Sejarah

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!