News

Wibawa Sastra Indonesia Merosot, Fajar Pujianto : Manifestasi Keegoisan Sastrawan Zaman Sekarang

Fajar Pujianto

 

SEMARANG, EDUNEWS.ID- Tidak dapat dipungkiri, bahwa sastra merupakan salah satu produk kebudayaan bangsa yang harus dilestarikan keberadaannya. Berbagai macam cara ditempuh agar banyak sastrawan muda mampu lahir dan berkembang, menggantikan sastrawan-sastrawan sepuh yang mungkin telah mengalami senjakala produktivitas sebab faktor usia yang tak lagi muda.

Dalam hal ini, Indonesia patut berbangga hati karena semakin hari tampak semakin bertambah saja jumlah sastrawan muda yang menunjukkan eksistensinya baik melalui lomba kepenulisan, buku antologi bersama, buku solo, maupun media massa.

Mereka berbondong-bondong mencipta karya, menonjolkan kuantitas sebagai bukti produktivitas, hingga seluruh lapisan masyarakat bumi pertiwi akan mengerti bahwa sastra Indonesia masih gagah bernapas.

Namun kenyataannya memang tiada gading yang tak retak. Seperti yang dikeluhkan oleh seorang pegiat literasi asal Banyumas, Fajar Pujianto, ketika ditemui di Burjo Saung Sara, Semarang, Senin (16/9/2019).

Baca juga :  Andi Arief Minta Mahfud MD jangan 'sok tahu' atas Kasus yang Dialaminya

Ia menuturkan, membludaknya karya sastra belakangan justru berbanding terbalik dengan mutu yang dapat disaksikan. Bagaimana sastrawan Indonesia masa kini cenderung sekadar ingin cepat populer dengan membuat karya secara serampangan agar dianggap produktif oleh khalayak.

Padahal, karya sastra yang baik dan berkualitas tinggi tentu tidak bisa digarap dengan tempo yang terburu-buru.

“Menurut saya itu egois. Di saat banyak calon sastrawan yang ingin serius belajar sastra, katakanlah lewat rubrik sastra yang ada di koran-koran, tapi yang tersuguh malah karya biasa saja yang dilabeli sebagai sastra cuma karena penulisnya sudah dianggap punya nama oleh kurator naskah,” ucap pendiri Sekolah Kampoeng Menulis (SKM) Indonesia tersebut, dalam keterangannya ke edunews.id, Selasa (19/9/2019).

Baca juga :  KAMALI Bau-Bau Kendari Kecam Pelaku Aksi Teror Bom di Surabaya dan Sidoarjo

Ia menambahkan, perbedaan antara sastra populer dan sastra serius pun sekarang menjadi semakin samar.

Seperti yang sudah diketahui bahwa sastra populer hampir tidak bisa dikatakan sebagai sastra sebab isinya sekadar dirangkai untuk mengaduk perasaan, sedangkan sastra sendiri sejatinya selain indah dalam bahasa juga harus mengandung unsur intelektual yang nantinya sanggup dijadikan bahan diskusi para penikmatnya.

“Tak sedikit sastrawan Indonesia mengeluhkan sikap masyarakat awam yang memandang sastra semacam bacaan rendah,” ujarnya.

Mereka tidak sadar, terkadang itu adalah buah dari kecerobohan mereka sendiri. Merasa sudah punya nama mentereng di kancah kesusastraan, selanjutnya mereka cukup berpuas diri dengan membuat karya nirkualitas, yang tentunya akan tetap dimuat media sebab mereka punya nama.

Baca juga :  Para LSM Penentang Pidana LGBT

“Akibatnya bisa dilihat, warga awam semakin menganggap sastra sebatas bacaan sampah, karena memang karya semacam itu yang sekarang banyak beredar di banyak tempat,” ujar dia.

Fajar berharap, agar siapa pun yang mengaku sebagai sastrawan wajib memiliki kepedulian terhadap harga diri sastra itu sendiri.

Kemudian, para kritikus sastra hendaknya juga mampu bersikap objektif serta jujur dalam menilai sebuah karya sastra, yang artinya benar-benar terlepas dari rasa tidak enak hati kepada sang pencipta karya sastra. Demikian kiranya supaya ke depan Sastra Indonesia sanggup meraih kewibawaan tingginya kembali di mata para pembaca. (rls/Lianna)

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!