Puisi

Puisi Desy Lestari

Perpisahan I

Pada saat itu,
Jemariku telah berhenti mengetuk-ngetuk pintu kenangan yang diam
Tentang kau, aroma ilalang, dan pelangi yang gugur di rerumputan
Pada saat itu,
Aku berhenti menatapmu ketika aku menatapmu
Wajahmu yang menekuk dalam gelisah
Sekeranjang Blackberry yang kau petik dengan jemari basah
Keinginan, harapan, impian
Segala sesuatu memburam,
Kecuali air mataku

Perpisahan II

Dari sana aku melihat
Wajah keringmu di bentangan Transkarpatia
Pada deretan Dogwood legam
Yang menghitam disengat teriknya matahari

Dapatkah aku bertanya padamu,
Malam ini
Di malam keseratus kau memilih pergi
Di mana itu bebunga Jonquil?
Dan ledakan semerbak kuntum Dafodill?

Angin melolong mematahkan patung kepala malaikat di halaman rumahku
Bebatang Poui hitam berayun-ayun menggelantungi udara
Di sini
Kerinduan akanmu melepaskan pegangannya
Di sini
Hujan melepaskan jubah panjangnya

Baca juga :  Puisi: Bermimpilah Naila

Begitu sering aku menyaksikan malam terbakar
Menciumi pelupuk mataku yang lebam karena tangismu
Sementara badai yang sedih membunuhi kupu-kupu

Kau ingat, Fleur?
Bait-bait sedih yang kau tulis di St. Sophia
Ketika malam yang dingin menggeledah rumah-rumah
Kau dan aku terbaring di sana
Dengan tulang-tulang berderak dan darah membeku

Perpisahan III

Dari sini
Aku dapat melihat surut gelombang di dahimu
Danau yang mengering di matamu
Musim panas dan wajah-wajah muram
Bocah laki-laki yang berteduh di bawah batu api
Gulungan-gulungan surat tak bersayap di balik punggunggnya

Ahh . . .
Kini cinta menyentuh pendengaranmu tanpa diriku
Dan desah kebahagiaanmu mengusik udara disekitarku
Serupa tangisan dari bibir sungai yang muram
Aku mengikutinya . . .
Segala keinginanku yang tersesat jalan

Baca juga :  Puisi: Rindu Yang Terpendam

Namun siluetmu telah jauh meninggalkan pantai
Dan burung kecil di dadamu itu tak lagi berdebar
Di bentangan jarak hampa ini
Kau telah pergi terlalu jauh

Sebab aku tak lagi mendengar gema langkahmu
Di lorong-lorong tua Nove Mesto
Dan dinding – dinding kelabu yang runtuh di atas bayanganmu
Segala kenangan menghilang

Malam Acaciaku . . .
Bulan Juni yang membakar bunga-bunga
Lihatlah Vesuvius mengeluh
Darah menyusuri jalanan, dari telaga air matanya yang keruh
Jika kita tiada berjumpa
Aku ingin mereka menemukanku,
Hidup di antara debu dan jemarimu, kekasihku yang malang

Desy Lestari. Alumnus UMY, Travel writer, Staff Brand di Perusahaan Kosmetik Impor, dan aktif di KBM. Kegiatan cuma kerja dan backpacker-an tak jelas. I believe in me, work hard, playing hard. Bisa berbagi informasi di email: [email protected]

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com