Puisi

Menunggu Purnama yang Beribu

Menunggu Purnama yang Beribu

Tak ada kesunyian paling renta, kecuali menanti.
Ada sesengut harapan, reguk ke dalam jiwa.
Menerpa embung di melati fajar.
Terpagut dalam doa dan cinta yang memutih.
Kerlingan purnama, menerka harapan.
Menyelinap di antara senyum dan tangis.
Ditirahkan dari langit kesedihan.

Buah kehidupan, buah rempah.
Menyisip di antara dentin sunyi.
Kalap berlalu, berbagi di antara dedaunan.
Kabut menurut, di antara lenting pagi.
Adakah rasa yang paling buta kecuali mencintaimu

Resah terbesar, resah membatin.
Sejumput rindu, menghibahkan kenangan.
Ranum di pelepah mata, mengalir bersama hujan.
Membiru bersama langit.
Kabut telah ingkar, memuput kenangan.
Ia mesti terlewati, di sepah-sepah keringat.

Baca juga :  Ramadhan Hitam

Menunggu, berpeluk asa.
Menyiangi hari di antara remah-remah kali rindu.
Meredam kelakar lintingan darah.
Memuput resah dan sunyi.
Membibit rindu, membibit dirimu.

Jalan menuju ke kepadamu…….
Di purnama yang beribu.

 


Widia Pangestu
Perempuan Pecinta Puisi

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com