Puisi

Puisi: Mengunjungi Mantan, Menjenguk Ingatan

Lelaki itu ada dalam kamarmu

Mungkin sejak dulu, sejak melulu hilang kabarmu

Mukanya pucat, di keningnya

Berjatuhan dingin keringat

 

Apakah mei ini bulan cemburu?

Aku datang padamu, memanggul

Seransel rindu, sebotol sprite

Dan sekuntung irisan nanas madu

Agar kau percaya betapa ingatan

Takkan gugur jika dua cairan itu kau campur

Kau minum, berharap di rahimmu taka ada cabang kenang berbujur

 

Tapi kenangan telah menghampar di seantero kamar

Selimut pemberianmu, pintu yang kuak

Dan jendela yang dulu kita tutup

Sebelum bercinta

Juga dinding yang memotret  nama kita

Dan buku-buku berisi puisi-puisi

Karanganku

 

Lihatlah, cermin yang menjurus dari pintu

Baca juga :  Karya Anak Bangsa, Film 'Prenjak' Harumkan Nama Indonesia di Kancah Internasional

Masih juga menangkapku

Seperti lensa kamera yang pernah menangkap

Jalinan tubuh kita

 

Masih ingatkah, saat pekikmu

Mendenyar

Membikin retak langit-langit sadar

Setelahnya lagu-lagu india kau putar

Kita sama tergelak karena tetangga

Ikut menyanyi daari luar

 

Masuklah, katamu kemudian

Setelah lama kita tak bercakap

Ragu pada kecurigaan masing-masing

Siapa lelaki itu dan kenapa aku datang di awala pekan

 

Aku menyambat selipar, berlalu

Menyisih pagar

 

Kenapa kau, Tanyamu

 

Setiba di rumah

Layar ponselku dipadati tanda seru

“pukimak kau! Jangan lagi kau muncul dikehidupanku. Babi kau!”

 

Barangkali rindu adalah peluh yang meluap di kening lelaki itu

Tak ia seka di hadapanku yang penuh curiga

Baca juga :  Puisi-Puisi Nurfajri Hasbudi

Menatap resleting celananya

 

Sabila Anjangsana, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!