Puisi

Puisi-Puisi Aditya Rizqi Labib Majdi

#1 Sebuah Buku

 

Namamu seperti sebuah buku

Yang ingin ku baca namun

Akhirnya Ku tutup juga

 

Dirimu adalah buku lama

Yang ingin ku tinggalkan

Namun terus terbawa hingga ke bulan

 

Buku yang dingin, namun penuh kenang

Dan cerita-cerita masa lampau

Antara aku dan dirimu

 

Menghabiskan ribuan gelas kopi

Jika ku mulai membaca gerak tubuhmu.

 

Membuka tabir jika kau adalah kini orang yang ingin ku benci namun ku cintai setulus hati.

 

 

#2 Buku Desain

 

Sore itu, aku sengaja mampir ke toko buku.

Membeli beberapa buku desain.

Temanku bertanya “Apa kau ingin menggambar sesuatu?”

Baca juga :  Sesumbar Nomer 3

 

Ya, aku ingin menggambar ulang isi ruang dalam hatiku.

Menghapus bayang tubuhmu dalam otakku.

 

#3 Rindu yang Pulang

 

Rindu-rindu yang pulang, menceritakan dirimu di kota jogja. Kau bercerita sering mampir ke kedai kopi langgananku hanya untuk sekedar mengingat bahwa aku dan kamu pernah ada di tempat itu.

 

Rindu yang hilang, bercerita jika dahulu di jogja pernah ada kita. 2 orang yang bersatu karena cinta.

 

Rindu yang tak pulang dan hilang. Menghadirkan bayang dan kenangan jika jogja hari ini sudah tak ada lagi kita.

 

 

#4 Benturan

 

Aku; diantara hati dan otak yang selalu berbenturan.

Baca juga :  Puisi: Tualang Patah

Di antara logika dan perasaan yang selalu tak sependapat.

Di antara ego dan akal yang tak ingin berdamai.

 

Aku; dalam keadaan hati rindu namun otak menolak bertemu.

Dalam keadaan melupakan sosok acuh dirimu.

Dalam kegelapan disaat senja memutuskan untuk pergi dan berlalu.

 

Aku; terbentuk oleh benturan-benturan partikel dalam tubuhku.

Hidup dizaman siang dan malam yang tak pernah bertemu.

Dan kita… yang tak pernah menamai kita sebagai kita yang sebenarnya.

 

 

#5 Tergenang

 

Diluar sana hujan, aku sedang mengaduk minuman ini sendirian. Menelan the hangat ini yang harusnya manis namun kenyataan begitu pahit. Tak kutambahkan gula, karena gula dalam hidupku telah hilang.

Baca juga :  Puisi: Aku dan Sekitarku

Membuat semuanya begitu pahit dirasa.

 

Hujan ini begitu dingin, menggigil seluruh tubuh ini.

Udaranya begitu khas, masuk melalui pori-pori kulit menusuk hati yang cacat karena takdir semesta.

 

Jalan penuh berisi air, menggenang semuanya yang perlu di genang.

Hatiku tergenang oleh hal-hal yang tak seharusnya terjadi. Hujan begitu lebat menutupi pandangan.

Menghilangkan wujudmu pelan dan perlahan-lahan.

 

 

Aditya Rizqi Labib Majdi. Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Teknologi Yogyakarta.

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!