Puisi

Puisi-Puisi Nurfajri Hasbudi

Perempuan Bercadar Sutera

Masihkah ada yang menawan
Di negeri tanpa perawan
Setelah dilalap tuan-tuan rupawan
Yang memangkas harapan perempuan
Dari lahannya di penghujung zaman

Inilah aku perempuan yang naas
Di teras sembilu yang ganas
Telah kusikat sekat dalam sakit
Menanti khalifah sang petuah

Jubahku menjadi resah
Saat kerudung dirundung salah
Aku pecah ditengah gibah
Bincang orang seperti lintah
Merontah pada rintih
Yang bahkan tak tersentuh

Inilah aku perempuan yang terasingkan
Yang mahir menjuntai khimar
Berjalan semampai tak melambai
Meski tasbihku tertindas
Pekikku tegas dan tandas
“Aku bukan teroris”
Aku hanya haus di taman surga yang tandus

Inilah aku perempuan berjubah hitam
Rapat tak berjarak pada kain
Yang menghijab gelap syahwat
Akulah perempuan bercadar sutera

Baca juga :  Keberanian Di Dalam Hati

 
Menunggu Dajjal

Saat pantai bira tak lagi gembira
Mendengar kabar yang menyamar
Pemudaku kini memar di atas ikrar
Pusaka merah putih dibayar
Nista pemangku wewenang di balik layar
Sumpah pemuda menjadi sampah
Orasi-orasi hanya menjadi kisah

Di lautan panrita lopi tak mengalir iba
Di kota pa’niki tidak mengangkasa lagi keadilan
Daratan yang katanya kaya pandai besi
Toh, melecit mesra dentingan botol dan gelas-gelas ballo’
Pemuda-pemudi tubarania ri gowa silariang

Demi lentera api jiwa
Di balik nafas jahiliyah baru
Adakah lafal bait kebesaran
Dalam suci yang terkubur zaman
Nafas tersengal nafsu
Mihrab meracuni magrib

Tipu ala kanjeng saja kau terpikat
Apakah kau menunggu dajjal?

Baca juga :  Cinta Dalam Keterasingan

 
Menolehlah, Ibu!

Ada pagi yang hangat dalam secangkir teh yang kau tuang
Bersama obrolan-obrolan yang mendidih
Meletup mengeroyok perutku
Sedikit pekat tapi nikmat
Mari bersulang! Setidaknya, gaduh cangkir itu sedikit menghibur
Ditenteng adikku mengitari sofa kumal

Sayur bening telah hidang di meja makan
Sejumput dua jumput nasi
Penghalau keroncongan siang ini
Mari duduk bersila santap bening kasih
Aku dilema, antara dua rasa
Sama gurih, sama putih
Lidah dan hati bercakap bersamaan
Dalam semangkuk rasa tak berperisa

Telah kau sambut serabut senja
Menanti malam dari bilik jendela
Kau tutup malam dengan salam
Yang kau sapakan pada purnama
Lelah tengah meresah

Sini , bu!
Kugelarkan peraduan pada bangsal terelok
Kusapu jalan meniti nyenyak tidurmu
Kita tidur bertiga bersama adik
Kusapu air mata derita pada pilu yang menghardik

Baca juga :  Wisata Batu Nong Dan Cerita Rakyat Lekong

Tak kusangka tidurmu sepulas itu
Hingga kau lupa menoleh
Kau lanjutkan jalan yang kutiti dalam setengah perjalanan surgamu
Menolehlah, ibu!
Aku kehilangan oksigen
Sesak dalam gelap
Merintih dalam sendu
Memandangi goresan luka, murka dan duka

Tubuhmu jangan kaku seperti itu
Kenapa adik kecilku menangis meraung?
Kulihat banyak tamu berjubah hitam
Sembari menebar senyum bernanah
Seolah mendung gelap menarikku sangat sekarat
Sementara aku masih menyudut di sini
Dalam sarang lamunan hampa
“Mengapa Izrail tega merenggutmu?”

 
Nurfajri Hasbudi. Mahasiswa Jurusan PPKn FIS UNM. Bergiat di Komunitas Denah Sastra UNM.

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com