Puisi

Puisi-Puisi Widia Pangestu

#1 Puisi Di Mata Jendela

 

Kudapati senja merona merah saga

Bibirmu menggulung pelangi

Kuharap, ini akhir mengatupkan luka

 

Kamu tatap aku lewat mata jendela

Seumpama, kamu ingin pergi selamanya

Matamu gigil mengecup kening pagi

 

Semburat jingga pergi malu-malu

Aku terbaring kaku

Seperti kata orang, aku mati terkulai luka

 

 

#2 Kota

 

Kota itu kenangan yang paling buruk

Ia serigala memangsa siapa saja

Seluruh waktu digunakan berlari

Pesan-pesan manusiawi berlalu seperti angin

Sepanjang riwayat hanya rumah-rumah mati

Jalan-jalan maupun kelip lampu kota seringai neraka

Hidup dipaksa tengkurap di bawah telunjuk

Harapan terus dipupuk menyemai surga

Apa kalian sudah tahu itu?

Baca juga :  Puisi: Tut Wuri Handayani

Kalian diajari mati perlahan-lahan dan merenggut nafasmu sendiri

 

 

#3 Kuasa Perempuan

 

Di air matanya aku berkaca jadi pengantin hujan

Gerimis darah jatuh perlahan-lahan

Lalu padanya aku memeluk senja yang berdarah

 

Suatu hari aku mengusap bibirnya

Kulitku melepuh menyeringai dendam

Perlahan-lahan menjadi teduh

Kelembutannya mengiris benci

Perlahan-lahan sembuh

Berakhir jatuh, tak pernah kembali

 

Widia Pangestu. Perempuan Pejalan

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!