Puisi

Puisi : Senjakala dari Tanah Merah

Senjakala dari Tanah Merah, Pesan dari Surga

Aku mengenang, pucuk yang patah. Getah menetes remah nafas dendam.
Aku tersungut sunyi, mendehem di pagi buram.
Ada tanya, ada getir, ada tangis, dan benci
Kini dendam mulai tersulut, dosa-dosa masa silam terungkit kembali.

Kenangan darah mengepul atas nama Tuhan.
Sayatan belati, di lubang vagina. Itu amalan yang ditasbihkan kebenarannya. Adakah rasa yang lebih manusia lagi ?.

Berilah aku setetes anggur merah, darah Yesus membasuh tenggorokanku, sepotong roti di tangan Yesus, tuk mengisi perutku. Aku hanya kaum papa, butuh kasih.

Aku pejalan di pasir nanah, oase pun tiada, doaku tenggelam di lubang nista. Adilkah Tuhan? ketika aku bersujud kepadamu. Omongan mereka lebih besar darimu. Janjimu di Tanah perjanjian belum jua aku temui.

Keesanmu akan dirimu, diungkai dimana-mana. Atas nama kebenaran. Nyawa pun sedemikian murah, tersapuh angin sekejab. Siut terdengar, di mana-mana “aku ingkar padamu” belum cukupkah kebesaranmu kuteriakkan di setiap menjelang pagi, dan di saat matahari menubir langit.

Mungkin, aku sering mengetuk pintu-pintu surga. Syair-syairmu aku gunakan membual kebenaran. Perkataanmu kepegang “janganlah kau berbuat kerusakan di muka bumi” yang lain menimpalnya “aku justru memperbaiki keadaan”. Entah ini perkataan siapa ?

Sungguh puitis, lema-lemamu itu di punggung sapi betina. Katamu ini, sungguh benar adanya. Para pemasyhurmu, mengungkai ayat-ayatmu membenarkan pengenyahan. Kerusakan atas nama ayat-ayatmu digulirkan.

Kitabmu, sumber penghidupan. Terjual laris di mimbar kuliah. Menunaikan panggilanmu, menanti ajal. meneriakkan keadilan, berarti menggali kuburan sendiri. Di Tanah merah, di mana bertumpah satu atas nama kebenaran, berdarah merah, berbahasa satu “lenyapkan”
Hanya menunggu ketukan pintu. Katamu.

Hariku, lebih baik berjalan ke tanah surga. Tapi, beri aku jalan. Aku kaum papa butuh hidup, butuh pusarah di tanah lahirku. Dengarlah jerit tangisku, ketika darah mengucur deras, sudah cukup aku yang berlalu. Bukalah aib yang kalian tunaikan. Biarkan keadilan membuka tabirnya. Allah pun tak restu atas perbaikan yang kalian buat.

(Qs: Al baqarah ayat 9-13)

Penulis
Sampean

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!