Puisi

Sajak-sajak Nurwahidah Saleh

Di Lorong Sunyi Batinku

 

Di Lorong Sunyi Batinku, aku berdiri tegak menatap cakrawala

Kupanggil namamu lelakiku. Apakah kau tak mendegarku?

Malam berkeluh kesah. Angin berhembus pongah

Menampar kulitku, memeluk jiwaku yang payah

Aku merindukan aromamu, merengkuh tubuhmu

Lalu mendengar degup jantungmu

 

Kupanggil namamu di lorong sunyi batinku

Aku berdiri resah di runcing duri kerinduan

Suara kuhampir habis berteriak, persis penjual ikan di PasarCekkeng

Tapi jarak sesak dan hanya mampu berhayal

Lalu melukismu di dalam sajak

Sebab kau telah meminang selainku, wanita yang buat hatimu trenyuh

Biarkan aku mampus dikoyak-koyak sunyi dan rasa cemburu

 

(Bulukumba, 22 Juni 2016)

Baca juga :  Pena Hijau Takalar Geliatkan Tradisi Literasi

 

 

 

Di Hatiku, Luka KauToreh

 

Di bawah rembulan tak kulihat setitik cahaya di kota ini

Hanya kunang-kunang bertebaran di udara lengang

Sudah tujuh kilometer jalanan kotaku tempuh

Langkahku melambat karena luka di hati mendera

Aku memilih pergi agar  tak ada kebencian di antara kita

Agama moyangmu melarang dendam dipelihara

Meski kau tahu betapa amarah mengisi reruang dada

Selalu teringat hari ketika jumpa

Aku dibuai ombak rayumu dulu

Mungkin kau tak ada bedanya

Dengan politisi yang menjual diri demi sebuah kursi

 

(Yogyakarta, Maret 2015)

 

 

Menulis Rindu

 

Aku tak pernah mengira

Tuhan mempertemukan kita

Agar kutetap bergelora, enggan pasrah dalam derita

Baca juga :  Teruntuk Ukhtiku; Hijrah dan Istiqomah

Kini Tuhan mengirim hadiah yang tak bisa kutukar dengan apa pun

Kecuali dengan pertemuan

Ya, kasihku, kenangan dan rindu ini saling padu : di lampu merah itu

Telah kulihat sosok yang menyerupai Nabi Yusuf

Advertisement

Sungguh tak bisa kulukis sempurna dalam huruf

 

Usai pertemuan itu, aku dihantui bayang-bayangmu

Dan rindu membeku di hati

Hanya mungkin cair jika kita suatu waktu

Rindu ini membawaku pada harapan tuk sampai pada inti perasaan

Rindu ini, kasih, akhirnya kuhimpun dalam sajak

Yang kapan sajak bisa kau simak

 

(Bulukumba, Juli 2016)

 

 

IdaNurwahidah Saleh adalah perempuan kelahiran Bulukumba, 09 Nopember 1994. Hobby naik sepeda dan berkelana. Alumni  AMA Yogyakarta jurusan Manajemen Obat dan Farmasi. 

Akhirnya ida menggali bakatnya dengan menulis. Salah satu karyanya sebuah cerpen. Dimuat di Majalah Nusantara Yogyakarta.  Sebuah antologi puisi ”Tunggu Aku Mengucap Cinta”. Puisi-puisinya di suarakan di Radio Cempaka Asri  102,5 FM Bulukumba dan Radio Bintang  96,6 FM Bulukumba.  Sekarang ia kembali di Buttapanritalopi Bulukumba menjadi terapis di sebuah Klinik Rumah Sehat Wildan dan aktif di  Sekolah Sastra Bulukumba (SSB) Bisa bertukar sapa di FB IdhaDaengSaleh. Email: [email protected]

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com