Buku

Kekalahan Ilmuan Indonesia

Oleh: Sampean*

BUKU, EDUNEWS.ID – Wacana ekologi beberapa dekade terakhir mengalami perkembangan pesat sejak dipopulerkan oleh Gilber white tahun (1920-1793). Seiring perkembangan disiplin wacana ekologi selalu mengalami lompatan epistemologi dan metodologi di ranah kajiannya. Scoones (1999) menggambarkan bahwa perkembangan awal kajian ekologi berfokus pada asumsi “keseimbangan alam” yang menganggap alam berjalan statis dan stabil dalam menjelaskan fungsi dan strukturnya.

Pandangan ini, berimplikasi terhadap teori dan praktek pengetahuan dalam memahami lingkungan. Lompatan selanjutnya, pemahaman ekologi membalikkan pandangan ekologi sebelumnya yang menganggap “alam tidak seimbang” yang berimplikasi terhadap pengembangan kajian paradigma baru dalam ekologi. Paradigma baru tersebut menjadi bakal kelahiran ekologi politik yang telah mencapai tepi akhir dari kajian ekologi yang membuka batas-batas dalam ranah [kajian] ekologi.

Kelahiran ekologi baru ditemukan gagasan kesamaan konseptual dan metodologi dalam melihat prospek dan tantangan jenis baru dalam interaksi interdisipliner kajian ekologi. Oleh karena itu, Perkembangan ekologi baru melibatkan berbagai irisan disiplin keilmuan dalam memahami lingkungan tentang kompleksitas persoalan lingkungan dan manusia yang melampaui kajian-kajian Antropologi, Sosiologi, sejarah, biologi, Geografi, dan disiplin-disiplin ilmu yang lain.

Irisan-irisan pengetahuan tersebut memicu debat-debat baru dalam kajian ekologi dan menawarkan prospek kerja sama interdisipliner. Tiga elemen utama dalam membangun paradigma ekologi baru menurut Scoones (1999) yakni; pertama, kepedulian terhadap perkembangan dinamika ruang dan waktu tempat tinggal manusia untuk menjelaskan perubahan lingkungan; kedua, peningkatan pemahaman terhadap lingkungan sebagai bentukan dan tempat terjadinya interaksi terhadap manusia [Agen-struktur]. landasan ; ketiga, memahami kompleksitas dan ketidakpastian sistem ekologi sosial dalam merencanakan, mengatur, dan mengontrol ketidakmungkinan kehidupan umat manusia.

Tiga elemen dasar yang diungkapkan Scoones menjadi ontologi dari ekologi yang menempatkan hubungan kompleks antar manusia dan alam [bukan manusia] dalam sebuah siklus kehidupan. hubungan probalematik ini dijadikan dasar atau pijakan ekologi politik dalam menawarkan kajian baru dalam berbagai disiplin keilmuan. Pencapaian terakhir dari kajian ekologi politik sudah sampai tepi akhir dalam kajian disiplin keilmuan. Satu sisi, kajian ekologi membuka debat baru dan ranah penelitian baru ekologi.

Dalam buku The Routledge Handbook of Political Ecology yang diedit oleh Tom Parrault, Gavin Bridge, dan James McCarthy menggambarkan ranah [lingkup] baru ekologi politik yang melibatkan 52 ilmuwan dengan 48 ranah kajian. Selama ini, ekologi politik berkutat pada kerusakan, risiko, ketidakpastian, pengaturan, kontrol, akses terhadap sumber daya [lingkungan].

Buku ini menawarkan arah baru ekologi politik dalam debat akademik, isu-isu sosial, gerakan sosial, serta perspektif baru memahami situasi sosial kontemporer sebagaimana yang diungkapkan Professor Giorgos Kallis dari Autonomous University, Barcelona, Spanyol dan Professor Tania Li, Department of Anthropology, University of Toronto, Kanada.

Tepi Terkini Ekologi Politik
Kajian ekologi politik terkini bukan sekadar menghubungkan manusia dengan alam sebagai tempat tinggal. Tapi, kajian ekologi politik menghidupkan hubungan alam dengan manusia dengan berbagai macam relasi; pengetahuan, modal, kuasa, identitas dan kebertubuhan. Dimensi-dimensi ini menjadi bangunan terkini ekologi politik.

Dimensi pengetahuan, ekologi politik harus dipahami sebagai dialog gagasan dan praktek sosial. Dialog gagasan harus membuka debat epistemologi dan metodologi sebagai praktek pengetahuan yang merefleksikan dan mereproduksi hubungan kekuatan sosial. Oleh Karena itu, pengetahuan harus menghasilkan pemahaman kritis terhadap konstruksi pengetahuan sebagai proyek emansipasi, keberpihakan, dan akademis.

Perdebatan epistemologi dan metodologi dalam buku ini, Rebecca Lave menyajikan analisis teori aktor-jaringan [Actor-network theory] sebagai kerangka konseptual analisis ekologi politik. Sedangkan, ekologi politik sebagai praktek sosial pengetahuan dilihat dari penelitian David Damaritt berusaha membongkar atau meruntuhkan perbedaan pengetahuan para “ahli” dan pengetahuan ilmiah. Pembongkaran dilakukan untuk membuka partisipasi masyarakat dalam sains yang selama ini tidak merepresentasikan dan melibatkan publik dalam peningkatan hasil penelitian ilmiah (hal.12). Baik tulisan dari Rebecca Lave maupun David Damaritt berimplikasi pada tulisan Leah Horowitz dan Joe Bryan terhadap produksi pengetahuan yang melibatkan basis lokalitas dan pemetaan partisipasi sebagai kerangka metodologi dalam mempertimbangkan kolaborasi lintas budaya dan sejarah dalam produksi pengetahuan geografis, dan hubungan kekuasaan yang sering kali diperdebatkan dan sangat tidak setara (Hal 211).

Dalam ranah yang lain, praktek pengetahuan yakni menyangkut hubungan metabolik antara alam dan (kapitalis) masyarakat dalam berkontribusi terhadap transformasi lingkungan. Hubungan ini menunjukkan akumulasi dan eksploitasi yang dilakukan manusia terhadap alam. Model hubungan ini berimbas pada risiko, bahaya dan kerentanan kehidupan manusia. Aspek ini adalah kajian paling lama dalam ekologi politik dalam melihat proses hubungan manusia dengan fisik [lingkungan] yang dikembangkan oleh James Wescoat. Hubungan metabolik yang lain dapat dilihat dari perubahan iklim dari karya Diana Liverman dan keadilan sosial dan ketahanan pangan dari Celia Lowe.

Praktek hubungan metabolik antara manusia dan lingkungan sudah berlangsung lama dan berdampak pada ranah kebertubuhan manusia mengenai penyakit menular, obesitas, dan kesehatan tubuh tidak luput dari perhatian dari ekologi politik. Ranah ini ditunjukkan dalam tulisan Brian King dalam memeriksa ekologi politik penyakit dan kesehatan, menempatkan pertanyaan medis dan ilmiah ini secara tepat dalam konteks sosial, politik, dan lingkungan.

Dalam hubungan metabolik menyangkut modal dan alam [non manusia] sebagai produksi kapitalis alam. Ekologi politik pada ranah ini meliputi aspek pembangunan, pemenuhan kebutuhan masyarakat, industrialisasi, dan perdagangan. Ranah ini menunjukkan hubungan eksploitasi atau ketimpangan terhadap alam dengan manusia yang berkorelasi dengan hubungan kuasa terhadap alam. Puncak pencapaian manusia adalah penundukan terhadap alam dengan mekanisme kerja pengaturan “akses dan kontrol” terhadap sumber daya.

Dampak ketimpangan yang diakibatkan oleh eksploitasi “akses dan kontrol” memicu kepedulian terhadap ekologi yang mendorong terhadap pengaturan sosial dan tata kelola lingkungan dan sumber daya. Pengaturan tersebut juga berkaitan erat dengan kepentingan ekonomi dalam mengembangkan keanekaragaman hayati. Maka ranah ini, pengaturan sosial-ekologis berhubungan erat dengan pengembangan ekologi politik dan upaya mempertahankan keanekaragaman hayati terikat dengan proyek budaya, politik, dan ekonomi. Pengaturan-pengaturan sosial-ekologi mempengaruhi pandangan neoliberalisme terhadap alam maupun perubahan peran negara dalam tata kelola lingkungan. Model relasi kuasa dalam pengaturan sosio-ekologi dari Foucauldian di mana peraturan dapat dicapai bukan dari aparatur dan wewenang negara tetapi melalui rasionalitas dan mentalitas yang ditanamkan dalam masyarakat sebagai ” Subjek”.

Kemudian, Perasaan politik ekologis yang dikembangkan dalam bab oleh Celia Lowe, yang mempertimbangkan apa yang dipertaruhkan dalam munculnya biosekuriti sebagai rasionalitas peraturan dalam pelestarian kehidupan manusia dari risiko.

Pada aspek selanjutnya, ekologi politik turut memperhatikan identitas dalam perbedaan akses dan kontrol atas alam. Pertimbangan identitas merujuk pada perbedaan gender dalam mengakses dan mengontrol sumber daya. Dalam tulisan Rebecca Elmhirst menunjukkan bahwa identitas gender diproduksi sebagai bagian dari kompleksitas subjektivitas identitas. tulisan lain yang menyinggung persoalan identitas mengenai kajian postkolonial yang menekankan pada karya politik dan intelektual dari indegeneous dari berbagai literatur akademik sebagai dokumen kebijakan, gerakan sosial, dan intervensi akademis. Di ranah yang lain, aspek ekologis sangat penting memperhatikan pemahaman tentang politik lingkungan yang dipolitisir atau didepolitisasi untuk melihat penggunaan akses dan kontrol dalam pemanfaatan ekologi.

Kekalahan
Buku ini mengabarkan pada kita bahwa Amerika dan Anglo Saxon masih mendominasi dan terdepan dalam pengembangan keilmuan di dunia termasuk kajian ekologi politik. Dari 52 ilmuwan yang berkontribusi dalam buku ini tidak satu pun yang berasal dari luar universitas Amerika dan Anglo Saxon. Para kontributor hanya menjadikan Asia dan Afrika sebagai ladang pengetahuan yang tidak habis tergali termasuk dalam berbagai kajian keilmuan. Penulis-penulis berupaya membuka ruang-ruang interaksi ilmu dalam berbagai kajian interdisipliner maupun multidisipliner yang membuat kajian ekologi politik makin kaya dan melintasi batas teritorial. Mereka masih menjadi bagian dari pelopor ide dan gagasan pengembangan keberagaman pengetahuan.

Kekayaan pengetahuan di belahan dunia Asia dan Afrika termasuk India, Afrika Selatan, dan Indonesia menjadi tempat riset dan pengembangan wacana ekologi politik dunia. Tapi, ilmuwan negara-negara luput dari perhatiannya. Kehadiran buku ini, sekali lagi kita menyangsikan kekalahan ilmuwan-ilmuwan Indonesia dalam pengembangan kajian ekologi. Sebab, di buku ini, Indonesia hanya dijadikan objek penelitian yang menyimpang gudang pengetahuan yang tidak tergali oleh ilmuwan Indonesia sendiri.

IDENTITAS BUKU
Judul : The Routledge Handbook of Political Ecology
Penulis : Tom Parrault, Gavin Bridge, dan James McCarthy (Editor)
Penerbit : Roudledge Taylor and Francis Group (London dan New York)
Cetakan : I, 2015
Tebal : xxi + 646 Halaman
ISBN : 978-1-138-79433-7

Sampean. Mahasiswa Pasca Sarjana Sosiologi Pedesaan Institut Pertanian Bogor.

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!