Buku

Mengulik Tentang Syi’ah Sunni dalam Konstelasi Politik Timur Tengah

 

Ia adalah bara api yang menyala kembali dari waktu ke waktu dan ikut mewarnai sejarah, teologi, hukum, dan politik Islam”

 

REVIEW, EDUNEWS.ID-Dalam kancah politik internasional, studi terkait kawasan Timur Tengah tidak pernah ada habisnya. Hal ini dikarenakan kawasan Timur Tengah merupakan kawasan yang paling strategis serta perkembangannya memberikan dampak yang penting bagi dunia. Melimpahnya kandungan minyak di kawasan Timur Tengah menjadikan kawasan tersebut memiliki daya tarik tersendiri bagi dunia internasional. Namun, apakah kekayaan minyak dapat menjadikan kawasan Timur Tengah hidup dalam perdamaian dan terbebas dari adanya konflik?

Ternyata dibalik melimpahnya kandungan minyak, kawasan Timur Tengah memiliki sudut kegelapan. Hal tersebut diungkap dalam tulisan Ahmad Sahide yang berjudul Syi’ah Sunni Dalam Konstelasi Politik Timur Tengah yang menyajikan sudut pandang lain terhadap kawasan Timur Tengah. Berkembangnya studi terkait isu-isu kawasan Timur Tengah dan perkembangan dinamika politik di kawasan Timur Tengah yang melatarbelakangi Ahmad Sahide merilis buku ini yang dijadikan edisi kedua dari buku Ketegangan Politik Syi’ah-Sunni di Timur Tengah yang telah terbit pada tahun 2013. Secara garis besar, buku ini berfokus untuk melihat bagaimana dampak konflik Syi’ah-Sunni yang dapat mempengaruhi hubungan antar pemerintahan atau hubungan internasional antar negara.

Baca juga :  Menelisik Novel Di Bawah Naungan-Mu

Konflik Syi’ah-Sunni merupakah salah satu konflik etnik yang sudah berlangsung selama empat belas abad. Konflik inilah yang juga turut mewarnai dinamika politik di kawasan Timur Tengah sampai hari ini. Dalam sejarahnya, dua mazhab dalam Islam, Syi’ah-Sunni telah menciptakan ketegangan, gejolak politik, dan ketidakharmonisan hubungan antar negara karena perbedaan pandangan keduanya. Sebagai golongan mayoritas, Sunni selalu menganggap bahwa Syi’ah merupakan golongan yang salah. Oleh karena itu, pembahasan terkait konflik Syi’ah-Sunni Dalam Konstelasi Politik Timur Tengah ini terbagi menjadi enam pembahasan yang diawali dengan latar belakang masalah. Dalam bagian pertama tersebut, penulis menjelaskan kerangka berfikir terlebih dahulu, sehingga memudahkan para pembaca dalam memahami alur konflik Syi’ah-Sunni.

Baca juga :  Perang Salib Dan Pengaruhnya Terhadap Kemajuan Ekonomi Eropa

Di bab kedua, penulis menjelaskan bagaimana sejarah lahirnya mazhab Syi’ah-Sunni, perbedaan mendasar kedua mazhab serta penyebaran geografis kedua mazhab tersebut di kawasan Timur Tengah. Konflik Syi’ah-Sunni dimulai pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW. Umat Islam lebih sering terlibat dalam berbagai konflik dan perselisihan yang ditandai dengan perselisihan yang berkaitan dengan siapa yang akan menggantikan posisi Nabi Muhammad SAW. Hingga wafatnya, Nabi Muhammad SAW tidak menunjuk diantara para sahabatnya untuk menjadi penerusnya. Prosesi inilah yang kemudian menjadi sejarah lahirnya berbagai mazhab dalam Islam yang mewarnai dinamika politik di Timur Tengah, terutama mazhab Syi’ah-Sunni. Perbedaan mendasar pandangan Syi’ah dan Sunni dijelaskan oleh penulis dengan menyajikan tabel. Hal ini sangat membantu para pembaca untuk lebih paham terhadap banyaknya perbedaan pandangan kedua mazhab tersebut. Penyebaran geografis kedua mazhab yang dibahas dalam buku ini diuraikan kedalam empat contoh negara, yaitu Republik Islam Iran, Republik Arab Suriah, Mesir, dan Arab Saudi.

Memasuki pembahasan ketiga, penulis bercerita terkait sejarah konflik Syi’ah-Sunni di Abad ke-10. Ketegangan-ketegangan politik yang terjadi di kawasan Timur Tengah mulai terbangun ketika adanya dinasti yang beraliran Syi’ah (Dinasti Fatimiyah) dan Sunni (Dinasti Umayah).  Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sebagai agama perdamaian dunia, justru dijadikan sebagai alat dan simbol politik baik oleh kedua dinasti. Hal tersebut menyebabkan munculnya konflik antar golongan. Ketegangan antara golongan Syi’ah dan Sunni bermula ketika kelompok Syi’ah beranggapan bahwa yang berhak menjadi pemimpin adalah keturunan dari Fatimah binti Rasulullah. Selain itu, hal lain yang menjadikan kedua golongan tidak dapat Bersatu adalah karena adanya kebiasaan dari golongan Sunni yang mengkafirkan, menghina, mencerca, dan melakukan kebohongan kepada golongan Syi’ah. Singkatnya, mazhab Syi’ah dan Sunni sama-sama berpendapat bahwa hanya kelompoknya lah yang pantas untuk meneruskan posisi Nabi Muhammad SAW. Ketegangan antara Syi’ah-Sunni mencapai puncaknya pada abad ke-20 dengan adanya Revolusi Islam Iran yang dicetuskan oleh ulama Syi’ah.

Baca juga :  Puisi dan Penyair yang Tak Sempat Tenar
Advertisement

Pada bab keempat, buku ini membahas mengenai dampak konflik Syi’ah-Sunni Terhadap Perkembangan Politik di Timur Tengah. Revolusi Islam Iran yang terjadi pada tahun 1979 telah menyebabkan peta politik berubah total dan mengakibatkan keretakan hubungan Iran dengan negara-negara Barat. Hal ini bermula ketika Imam Khoemini mengubah orientasi politik Iran yang semula pro-Amerika kemudian berbalik menjadi kontra dengan Amerika yang ditandai dengan pengambil alihan Kedutaan Besar Amerika dan Kedutaan Besar Israel yang diserahkan kepada Palestina. Sebagian orang beranggapan bahwa Revolusi Islam Iran merupakan sumber inspirasi dan motivasi, sedangkan di satu sisi yang lain menganggap bahwa revolusi ini merupakan suatu ancaman terhadap stabilitas keamanan di Timur Tengah. Selain memicu kemarahan negara-negara Barat, revolusi ini juga memicu terjadinya lebih banyak konflik yang bernuansa ideologis kedua aliran di kawasan Timur Tengah.

Penulis mengatakan bahwa terdapat pembaharuan dalam buku terbitan kedua ini yang mana pembaharuan tersebut terdapat di bab lima. Penulis mencoba untuk membaca peta konflik Syi’ah-Sunni pascaperistiwa Arab Spring sejak awal Januari 2011 yang ditandai dengan adanya harapan lahirnya sistem politik yang lebih baik dan demokratis. Arab Spring merupakan kesempatan bagi kedua mazhab untuk saling memperkuat pengaruhnya dan menyingkirkan lawannya dalam politik di kawasan Timur Tengah. Konflik Syi’ah-Sunni yang berlangsung saat peristiwa Arab Spring turut memperburuk konflik-konflik berkepanjangan yang terjadi di Timur Tengah. Selain itu, adanya konflik Syi’ah-Sunni yang berlansung selama Arab Spring juga memberikan dampak buruk dalam kerukunan beragama di Indonesia.

Secara keseluruhan, buku ini menarik dan sangat cocok dibaca untuk para penggiat isu-isu kajian Islamic Studies dan Timur Tengah. Penulis telah berhasil dalam membangun alur cerita yang runtut terkait konflik Syi’ah-Sunni yang berlangsung di kawasan Timur Tengah. Meskipun terdapat beberapa istilah dalam Bahasa Arab yang sulit untuk dipahami bagi beberapa orang, akan tetapi penulis mensiasatinya dengan penggunaan tabel dalam menjelaskan perbedaan terkait ideologi Syi’ah dan Sunni. Hal tersebut sangat membantu pembaca untuk lebih memahami isi buku secara keseluruhan.

 

Direview oleh Diana Mutiara Bahari, Mahasiswa Hubungan Internasional Program Magister, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com