Buku

Perang Salib Dan Pengaruhnya Terhadap Kemajuan Ekonomi Eropa

Oleh : Ahmad Sahide*

RESENSI, EDUNEWS.ID-Bernard Lewis, seorang orientalis dari Amerika, mengatakan bahwa interaksi atau pertemuan antara Barat dan Timur terjadi dalam tiga aspek, diplomasi, perdagangan, dan perang. Dalam pertemuan tersebut, orang-orang selalu mengidentikkan diri melalui asal-usul (keturunan), agama, bahasa, sejarah, nilai-nilai, adat kebiasaan, dan institusi-institusi.

Perang Salib (crusades) merupakan salah satu bentuk pertemuan antara Barat (Eropa) dan Timur (Islam) dalam bentuk perang yang disusul dengan perdagangan dan diplomasi. Pertemuan yang menumpahkan darah ribuan umat manusia tanpa adanya perasaan bersalah atau berdosa dari pihak-pihak yang berperang karena perang ini dianggap sebagai salah satu bentuk dari perintah Tuhan. Inilah yang disebut oleh James Turner Johnson sebagai perang suci, perang yang memiliki kekuatan untuk menumpahkan darah, yakni konflik-konflik yang memiliki hubungan sosial, motivasional, dan ideologis yang kuat dengan suatu tradisi agama besar. Di dalam kultur Barat, ide perang suci muncul di dalam tiga konteks sejarah besar: Perjanjian Lama, Perang Salib, dan perang agama di era paska-Reformasi.

            Menurut Carole Hillendbrand Pertemuan pertama bangsa Eropa dengan Islam terjadi akibat kebijakan-kebijakan ekspansif negara Muslim baru, yang terbentuk setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. Pada 632 M. Satu abad kemudian, orang-orang Islam telah menyeberangi barisan pegunungan di antara Perancis dan Spanyol dan menaklukkan wilayah-wilayah yang membentang dari India utara hingga Perancis selatan. Pertemuan yang juga disebut-sebut sebagai penaklukan ini, setelah melalui pertempuran yang begitu sengit, merupakan lonceng kebangkitan umat Muslim, bangsa Arab pada awal Abad VII M, dan menjadi tanda kehancuran Kekaisaran Sasania dan Romawi yang pernah merasakan masa-masa kejayaan sebelum datangnya Islam. Arus ekspansi Islam yang semakin tidak terbendung ini membuat orang Barat gelisah dan ketakutan untuk dikuasai oleh Islam. Akhirnya Perang Salib pun tidak terhindarkan lagi. Oleh karena itu Dr. Ajat Sudrajat menggambarkan bahwa Perang Salib merupakan reaksi Eropa Kristen terhadap kaum muslimin yang telah menyerang dan mengambil alih wilayah-wilayah Kristen sejak tahun 632 M. (hal.48).

Kebangkitan Eropa

Bila Perang Salib ini dijadikan sebagai salah satu acuan untuk melihat masa kini (to see the present in the past), maka para sejarawan berpendapat bahwa perang ini merupakan awal kebangkitan bagi Eropa di kemudian hari (sampai saat ini) dan mengakibatkan dunia Islam mengalami kelemahan dan kehancuran peradabannya yang ditandai dengan penghancuran buku-buku hasil karya para ilmuwan Islam oleh Bangsa Mongol.

            Buku “Perang Salib dan Kebangkitan Kembali Ekonomi Eropa”, karya Dr. Ajat Sudrajat, mencoba mengkaji lebih mendalam dan lebih khusus pengaruh Perang Salib terhadap kebangkitan ekonomi Eropa. Doktor keluaran Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga ini menggambarkan bahwa pada abad awal ke-8 M., kehidupan perdagangan di Eropa telah mati suri sejak laut Mediterania (laut Tengah) dikuasai oleh kaum muslimin. Bahkan sampai pada abad ke-10, Eropa masih dalam keadaan miskin, terbelakang, dan buta huruf (hal.14-15). Faktor teologis merupakan salah satu, lanjut Ajat Sudrajat, faktor yang menyebabkan keterbelakangan Eropa pada masa itu di mana sejak awal Gereja telah memandang sinis atau bahkan memusuhi kegiatan perdagangan dan komersial pada umumnya.

            Namun, sejak abad kesebelas sampai Perang Salib usai, cara pandang orang-orang Eropa Kristen mulai berubah dan mencintai dunia perdagangan. Bahkan menurut Prof. Dr. M. Abdul Karim, sejarawan UIN Sunan Kalijaga, faktor perdaganganlah yang menyebabkan Perang Salib fase ketiga (Perang Salib terjadi 9 kali, namun Philip K. Hitti membaginya ke dalam tiga fase; kemenangan Eropa Kristen, kemenangan Islam, dan mencair) mulai mencair. Perjalanan Tentara Salib menuju Yerusalem menjadi awal ditemukannya pelabuhan-pelabuhan dan rute-rute perdagangan yang menghubungkan antara Timur dan Barat sehingga orang-orang Eropa Kristen berubah pikiran dan lebih tertarik untuk berdagang daripada berperang. Sehingga Perang Salib, dengan demikian, telah membangkitkan kembali aktivitas perdagangan dan komersial pada umumnya di Eropa. Dan lahirlah revolusi Industri di Eropa sebagai kelanjutan dari fase kebangkitan ekonomi Eropa yang dimulai sejak Perang Salib tersebut.

Mengapa buku ini penting?

Perang Salib memang berakhir dengan perdagangan antara Timur dan Barat, tetapi relasi perdagangan ini hanya membawa keuntungan besar bagi Eropa yang kita bisa lihat dan rasakan sampai Abad kedua puluh satu ini. Hal itu, dalam pandangan Calore Hillenbrand,  karena adanya respons yang berbeda dari kedua belah pihak. Bagi orang Barat, Perang Salib merupakan bidang kajian yang populer berkaitan dengan studi Barat Abad Pertengahan. Sementara Islam tidak melihatnya demikian. Orang Eropa bangkit karena belajar dan membangun relasi dengan dunia Timur. Eropa tidak mengisolasi dirinya dari dunia luar. Inilah, hemat penulis, yang kita bisa tiru dari Eropa yang bangkit pasca Perang Salib dari keterpurukannya. Di mana hal ini dapat digambarkan oleh Dr. Ajat Sudrajat di dalam buku yang tebalnya 234 halaman tersebut. Oleh karena itu, kita  untuk bangkit dari ketertinggalan tidak dengan mengisolasi diri, melainkan terbuka dan mau belajar.

Buku ini adalah disertasi Ajat Sudrajat sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Doktor pada tahun 2009 dari UIN Sunan Kalijaga dan sudah dipertanggungjawabkan di depan penguji. Lebih dari itu promotornya adalah prof. Dr. M. Abdul Karim, setahu penulis sebagai mahasiswanya, yang sangat teliti dan cermat baik itu dalam hal-hal tekhnis penulisan, sistematika dan keilmiahannya, maupun data-data sejarah yang tidak diragukan lagi validitasnya. Namun sebagai manusia, masih terdapat beberapa kesalahan pengetikan dari buku ini. Tapi bukan berarti itu dapat mengurangi tingkat keilmiahan dan validitas dari buku “Perang Salib dan Kebangkitan Kembali Ekonomi Eropa” ini.

Ahmad Sahide, Dosen Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Data Buku

Judul Buku                  : Perang Salib; Kebangkitan Kembali Ekonomi Eropa

Penulis                                    : Dr. Ajat Sudrajat

Penerbit                       : Leutika, Yogyakarta

Tebal                           : iv + 234 halaman

Tahun Terbit               : 2009

ISBN                           : 979-19799-3-6

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!