Buku

Resensi Buku : Menapaki Sejarah Politik Indonesia

RESENSI, EDUNEWS.ID-Sejarah selalu bertumpu pada kemampuan manusia mengarsipkan peristiwa dan menuturkan cerita dari masa ke masa. Pengarsipan peristiwa dilakukan melalui pendokumentasian gambar, tulisan, artefak, nisan, dan menhir. Tulisan – tulisan dari Ahmad Sahide adalah bagian dari dokumentasi peristiwa sejarah perpolitikan di Indonesia. Esai – esai Ahmad Sahide sudah merangkum peristiwa  politik di negeri ini, Indonesia,  pasca reformasi.

Rangkuman peristiwa dihimpun dalam kumpulan esai pertamanya, Kebebasan dan Moralitas (2013), kedua, Kekuasaan dan Moralitas (2016); Ketiga, Demokrasi dan Moral Politik (2018), dan karya terbarunya, Demokrasi dan Mahkota Politik (2020). Karya keempat ini memotret peristiwa politik sejak 2014 – 2019 yang mengingat kita pada polarisasi politik antara Koalisi Merah Putih (KMP) dan Koalisi Indonesia Hebat (KIH). Polarisasi politik pasca terpilihnya, Joko Widodo – Jusuf Kalla (Jokowi – JK) dari tulisan Demokrasi dan Mahkota Politik, sudah meramalkan terbentuknya dua kubu besar yang akan bertarung dalam pemilihan presiden periode 2014 – 2019. Polarisasi elite dimulai dari peristiwa politik partai Golongan Karya (Golkar) yang diulas dalam esai yang berjudul Kemenangan ARB, Kekalahan Golkar (Hal 2). Tulisan esai ini memicu polarisasi internal partai yang berpengaruh terhadap sikap politik setiap kubu di internal partai Golkar dalam pemilihan presiden tahun 2014. Polarisasi ini juga diikuti oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Puncaknya, pada pemilihan presiden tahun 2014 antara  Jokowi – JK dengan Prabowo Subianto – Hatta Rajasa.

Baca juga :  Fenomena Ketegangan Wajah Emanuel Lavinas

Rekaman peristiwa di kumpulan esai ini akan selalu mengingatkan kita pada masa kelam di era reformasi yakni polarisasi elite yang berimbas pada polarisasi warga negara. Polarisasi ini memicu peristiwa – peristiwa sara yang tidak bisa dipungkiri diciptakan dan direncanakan oleh – oleh elite politik. Dari tulisan Demokrasi dan Mahkota Politik. Maka, yang paling bertanggung jawab dalam polarisasi berbau sara tersebut adalah para elite politik yang berada di lingkaran kekuasaan maupun elite yang tersingkir dalam pusaran kekuasaan. Ketegangan elite kembali menguat pada pemilihan gubernur DKI Jakarta pada tahun 2016 yang menggunakan sentimen agama. Peristiwa ini dideskripsikan dalam tulisan yang berjudul Ahok (Hal 162) dan Menilik Pertarungan Ahok, Agus, dan Anis (Hal 203), dan Ahok dan Polemik Persentuhan Agama – Politik (Hal 211). Sampai hari ini, polarisasi yang mengarah disintegrasi yang terus menjadi alat politik dan digunakan menarik simpati publik. Bentuk komunikasi politik ini adalah bentuk komunikasi paling banal dari para politisi yang dungu.

Baca juga :  Kilas Sejarah 'Hari Buku Nasional'

Politik pecah belah tersebut diperkuat dengan peran media dalam membingkai berita (framing). Media – media Indonesia mengarahkan opini publik sesuai ideologi dan sikap politik pemiliknya.  Peran media dalam pemilihan presiden tahun 2014 diurai dalam tulisan Media Dalam Kontestasi Politik 2014

Advertisement
(Hal 20). Tulisan ini menyoroti polarisasi media menjadi dua kubu besar berdasarkan dukungan politik kepada calon presiden masing – masing, TV One dan MNC Group mengarahkan opini publik ke kubu Prabowo Subianto sedangkan Metro TV mengarahkan opini publik ke kubu Jokowi – JK (Hal 22).

Demokrasi dan Mahkota Politik sebagai kumpulan esai tidak hanya membingkai peristiwa polarisasi politik. Tapi, tulisan ini juga mengurai peristiwa politik dengan menggunakan pendekatan biografis, Peristiwa politik yang terpusat pada narasi tokoh. Esai – esai ini banyak menyoroti ketokohan Jokowi, Jusuf Kalla, Ahok, Megawati Soekarno, dan Susilo Bambang Yudhoyono dalam membingkai peristiwa politik nasional. Jika, menggunakan perspektif kajian postkolonial, tulisan terjebak bias elite yang menempatkan sejarah politik berdasarkan narasi orang besar. Tulisan ini luput memotret peristiwa – peristiwa politik dari orang – orang pinggiran yang tidak pernah terpotret oleh media. Maka, tulisan ini mendukung narasi yang dikonstruksikan media – media besar di Indonesia.

Secara umum tulisan mengurai isu – isu politik nasional yang dibubuhi dengan isu kebudayaan dan politik global dalam perspektif kebangsaan seperti tulisan  Menyemai Ruh Kebangkitan (Hal 48), Pesan Kebangkitan (Hal 104). Kedua tulisan ini mendeskripsikan pentingnya peningkatan riset dan kesadaran literasi dalam membangun bangsa. Bangsa yang hebat adalah bangsa yang menghargai ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi. Di esai Pesan Kebangkitan, penulis mengutip Bernard Lewis (1993) bahwa kebangkitan barat dibangun dari sains dan ilmu pengetahuan, Institunalization of Doubt (Hal 49). Selain itu, beliau menulis tentang teori nasionalisme dari ketegangan antara Valentino Rossi dengan Marc Marquez sebagai dari peristiwa ketegangan identitas (Hal 130).

Secara keseluruhan kumpulan esai ini dalam  Demokrasi dan Mahkota Politik : catatan reflektif terdiri dari peristiwa politik dan kebudayaan yang diurai secara sederhana dan lugas. Tulisan – tulisan di dalam buku ini harus ditempatkan pada peristiwa historis dan pembelajaran sejarah kebangsaan. Catatan reflektif dapat digunakan sebagai rujukan dalam menyusun rangkaian historis politik kebangsaan yang utuh dari karya – karya sebelumnya. Tentunya, rangkaian karya penulis pada seri keempat menjadi potret kematangan penulis dalam menulis esai – esainya. Di seri keempat karyanya ini, nuansa keilmuan dan pemikiran beliau semakin kuat mewarnai tulisan – tulisan beliau. Konsepsi teoritis dijelaskan berdasarkan kasus yang mudah diserap dan dibaca oleh siapa pun. Model tulisan ini, alpa di dalam jurnal – jurnal ilmiah, enak dibaca dan mudah dipahami. Maka, tulisan jurnal adalah tulisan yang jumud dan susah dipahami oleh orang – orang awam.


Penulis Resensi : Sampean

Identitas Buku

Judul           : Demokrasi dan Mahkota Politik : Catatan Reflektif Kebangsaan

Nama          : Ahmad Sahide

Halaman      : X + 241 hal.

Tahun          : 2020

Penerbit       : The Phinisi Press

Edunews.

Kirim Berita via: [email protected]/[email protected]
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com