SAMPEAN

Gundukan Sampah, Pengerukan Alam

Oleh: Sampean*

SKETSA, EDUNEWS.ID – Sampah bicara perseteruan dan perebutan ruang sosial. Hampir di setiap kota di negeri ini bergumul sampah, kerap kali pula kota-kota bertetangga berseteru gara-gara sampah. Kota Makassar berseteru dengan kota Gowa, kota Jakarta berseteru dengan kota Bekasi. Perseteruan itu bermula dari pembagian ruang antara penampung sampah dan pembuat sampah. Kota yang berfungsi sebagai pusat (Makassar dan Jakarta) memproduksi sampah sebesar-besarnya.

Kota pinggiran atau pendukung pembangunan kota pusat (Gowa dan Bekasi) menampung sampah sebanyak-banyaknya. Kota pusat bergumul dengan ketakutan dipenuhi sampah. Tapi, tidak pernah sadar akan kelakuannya, yang membudayakan belanja, konsumtif, dan bergaya. Kota pinggiran menadah dan menumpuk sampah setinggi-tingginya, di area bank (Penampungan) sampah menikmati aroma tidak sedap dan keringkihan orang-orang miskin. Kota-kota pun berseteru dalam tata kelola.

Di balik perseteruan itu, selalu ada kalkulasi untung dan rugi. Kalkulasi keuntungan dan kerugian ketika kota “pusat” bicara kebersihan lingkungan dan penataan tata ruang kota. Kota pusat takut diselimuti pembusukan dan penumpukan sampah tiap hari. Maka, sampah yang diproduksi di kota pusat dialihkan ke kota pendukung atau pinggiran untuk menampung sampahnya.

Sementara, keuntungan yang didapatkan kota pinggiran mendapatkan insentif dana APBD untuk pengelolaan sampah. Kerugian wilayah penampungan karena mengalami kerusakan ekologi, sumber penyakit, dan bau tak sedap. Dari sirkulasi pertukaran untung dan rugi kadang berjalan tidak sesuai harapan, polemik berkecamuk seperti peristiwa setahun silam, November 2015, Ahok berpolemik dengan Anggota DPRD dan Pihak pengelola sampah Bantar Gebang.

Baca juga :  Max Weber, Menimbang Berahi Sosial

Polemik ini bisa saja terulang dengan kota-kota yang lain dalam pengelolaan sampah. Polemik yang berkecamuk tiada lain akibat ketidakberdayaan serbuan sampah tiap hari.

Sampah.
Di tahun 2016, Indonesia memproduksi sampah setiap hari mencapai 175.000 ribu ton per hari atau setara 64 juta ton per tahun. Indonesia hanya kalah dari Cina dalam hal produksi sampah di dunia. Jakarta saja memproduksi sampah 7.000 ton per hari (dibagiin.com). Sedangkan, Makassar memproduksi sampah 400 ton per hari di tahun 2015 (liputan6.com).

Dari jumlah produksi sampah ini, kita sudah bisa bayangkan. Jika tidak diangkut dalam sehari, kota-kota akan diselimuti sampah dan bau busuk menyengat di kota itu. Dari jumlah produksi sampah itu pula betapa besar gundukan sampah dan baunya di area penampungan sampah tersebut.

Gundukan sampah itu sedang berbicara kepada kita antara kaya dan miskin, antara hidup cukup dan tidak cukup, melarat dan tidak melarat. Bahkan, lebih dari itu sampah bicara orang-orang yang tersingkir dan pengerukan alam.

Sampah yang menggunung. Tentunya, tidaklah dibuat oleh orang-orang miskin. Justru orang miskinlah yang hidup di kisaran gundukan sampah itu. Saban hari gunungan sampah itu tidak pernah lepas dari orang-orang miskin yang mengais rezeki halal, sisa-sisa orang kaya.

Di penampungan sampah juga, sedang hidup sekelompok hewan yang tersingkir, sapi merumput di atas sampah, kucing berebutan makanan dengan tikus. Di tempat penampungan sampah kerap kali kita dapati kucing, yang kumal lagi kerdil. Kucing-kucing itu sedang tersingkir dari rumah-rumah tuangnya. Di kota-kota besar kita bisa temui kucing liar, yang tak segarang di hutan.

Baca juga :  Acara Penarikan KKN Kependidikan PGSD FIP UNM Berlangsung Antusias

Hidup kucing di bantaran sampah hampir serupa dengan orang-orang miskin di sekitarnya. Lihat mereka, berpakaian sisa pembuangan sampah, atap, dinding, dan alas rumah semuanya dari sampah.

Sampah Bicara kemiskinan, boleh dicermati dari getir Cuplikan cerpen Ahmad Tohari (Kompas, 21/08/2016) “Tawa Gadis di Padang Sampah”, menguraikan kisah hidup anak pemulung Korep dan Carmi, dan Sopir Darmi. Carmi yang memimpikan memakai sepatu mahal dengan kaki yang bersih.

Mimpi gadis kecil itu terwujud dapat memakai sepatu impiannya dan, “…. para pemulung pun berdiri dan tersenyum ketika memandang Carmi dan Korep pergi meninggalkan padang sampah. Carmi tertawa-tawa, tentu karena ada sepasang sepatu di kakinya….Tetapi, Semua warga padang sampah tahu Carmi dan Korep tak punya rumah untuk pulang….”.

Jika Ahmad Tohari mengulas kegetiran hidup di padang sampah, Linda Ibrahim dalam esainya “Fast Fashion: Mengguncang Dunia, Menggerus Alam” (Kompas, 19/11/2016) mengurai gaya hidup orang-orang kota menggerus Alam, cara bergaya orang kota berbanding lurus dengan pengerukan alam dan perasan keringat buru. Dari esai ini kita dapat mencermati pakaian yang kita pakai memiliki rantai pengerukan alam dan sumber polusi terhadap lingkungan kita. Pakaian-pakaian yang kita pakai akan berakhir digundukan sampah.

Baca juga :  New Media : Ruang Tanpa Buku, Mungkinkah?

Gaya hidup pun berbanding lurus jumlah produksi sampah yang dibuat tiap hari. Betapa banyak sampah yang kita buat mulai dari kemasan makanan yang kita makan, botol minuman, pakaian, kemasan kosmetik, alat-alat elektronik, dan perobatan rumah tangga yang rusak. Sampah yang dibuat dari sisa konsumsi yang berlebih, perilaku yang serupa ini, adalah perilaku menyimpang dari masyarakat itu sendiri. Masyarakat tidak pernah sadar atas perilaku atas kebiasaan buruk dibuatnya.

Wajar ketika David Inglis dan Christhoper Thorre (2012 : 87) menyatakan bahwa manusia bertindak setengah sadar dalam menjalankan rutinitasnya. Betapa tidak Indonesia pun dinyatakan darurat sampah, perilaku kita tidak pernah berubah. Sampah kita terus produksi dengan gaya hidup berlebihan dan bermewahan, yang pada akhirnya jadi sampah.

Pada akhirnya, rutinitas yang kita dilakoni dalam lingkaran kemewahan, tak paham atas penderitaan orang-orang yang berada di bantaran sampah. Dua ruang kultural diproduksi secara berbeda, satu hidup dengan menyampah, satu lagi bertahan hidup dari sisa orang menyampah. Satu mengalami kematian nurani, satunya lagi mengalami jeritan. Dua-duanya, tidak pernah dipertemukan dalam kesetaraan, kecuali orang-orang miskin dijadikan ladang amal bagi si kaya.

Sampean, Lahir di Bulukumba, 10 Februari 1989. Penulis Pernah Bergiat di Komunitas Belajar Menulis (KBM) di Yogyakarta. Alumni Sosiologi UNM. Dan, sementara menempuh pendidikan pasca sarjana Sosiologi Pedesaan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!