SAMPEAN

Tragedi Budaya dan Pemalsuan Manusia

Oleh : Sampean*

SKETSA, EDUNEWS.ID – “Ubahlah cara memperoleh kekayaan, segalanya akan berbenturan dengan kekuasaan dan sistem kekayaan sebelumnya”. Ujaran ini diungkapkan Alvin Toffler di tahun 1990 dalam karyanya berjudul Powershihft Knowledge, Wealth, And Violence At The Edge Of The 21 ST Century. Ungkapan ini bukan sekadar basa-basi menggambarkan masa depan. Meskipun, ungkapan ini tidak sepenuhnya benar dalam konteks kekinian. Sebab, cara memperoleh kekayaan sangatlah dinamis, bahkan dalam pertukaran “uang” mengikuti perkembangan teknologi. Alat Tukar yang digunakan untuk meningkatkan kekayaan tidak lagi dilihat dari susunan nilai melekat pada kertas, logam, dan sejenisnya, yang sifatnya teraba. Penggandaan uang bisa dilakukan dengan menggunakan logika pasar, hanya mengikuti permainan nilai pada layar laptop dengan sistem perdagangan forex. Uang pun bisa ditambang di dunia maya dengan bitcoin dengan mata uang elektronik. Pelipatgandaan nilai uang bisa dilakukan melalui perdagangan saham di pasar modal. Maupun dengan cara mistis.

Cara memperoleh kekayaan terus bergerak dinamis tetapi tidak sepenuhnya berbenturan dengan kekuasaan. Bahkan, kekuasaan mendukung perubahan tersebut. Dengan segala kemudahan mencapai jumlah kekayaan yang melimpah. Kekuasaan beroperasi memudahkan akses kekayaan demi pemapanan kekuasaan. Hubungan kekuasaan dan kekayaan (modal) sekutu abadi, yang mengontrol kewenangan dan ruang gerak masyarakat. Toffler pun menambahkan bahwa kekuasaan yang paling telanjang ketika dilingkupi dengan penggunaan kekerasan, kekayaan, dan pengetahuan. Tirani pun berjalan mulus dengan penghambaan terhadap uang. Jauh sebelum Toffler, Marx telah mengungkapkan uang adalah kekasih yang pencemburu, uang dan Manusia tidak boleh diantarai yang lain (Widyanta, 2004 : XIV). Sebab, dapat menyebabkan perbenturan dalam memperolehnya. Restu kedua hubungan tersebut sangat tertentukan oleh logika pasar. Selama perubahan mekanisme pertukaran dan memperoleh kekayaan sesuai kehendak pasar. Maka, tidak akan terjadi perbenturan dengan apapun termasuk kekuasaan.

Baca juga :  Senjakala Pe(kerja) Bahasa

Ramalan Toffler mendapatkan kenyataan apabila dibenturkan dengan struktur sosial dan budaya masyarakat. Sebab, dampak real dari dinamika “ekonomi uang” adalah masyarakat. Akses masyarakat terhadap sumber kekayaan semakin sulit ketika telah memasuki ruang modernitas. Di ruang modernitas tersebut, masyarakat dituntut untuk berkompetisi untuk keluar dari lilitan perangkat birokrasi dalam memperoleh kekayaan. berbagai cara pun harus ditempuh untuk memperoleh kekayaan termasuk pengkhianatan terhadap pemilik kekayaan (Rakyat). Jalan cepat mengakses kekayaan. Dengan cara, dekat dengan kekuasaan, dan ilmu pengetahuan,. Perselingkuhan “modal” dan kekuasaan sulit terhindarkan untuk menciptakan tragedi kebudayaan dan pemalsuan kemanusiaan.

Tragedi budaya menurut ujaran George Simmel ketika masyarakat terdampar kebudayaan subjektif dan kebudayaan Objektif (Ritzer, 2012 : 305). kebudayaan objektif adalah kebudayaan yang bertumbuh berdasarkan arus modernitas. Sementara, kebudayaan subjektif adalah kebudayaan bertumbuh yang melingkupi kedirian individu. Ketegangan tersebut tragedi budaya dalam arena sosial. Di mana masyarakat yang tidak mampu bersaing di arena yang disiapkan modernitas harus tersingkir. Penciptaan dan kepemilikan kekayaan adalah hanya orang yang memiliki kuasa dan modal. Satu di antara kehormatan ataupun lari dari kenyataan yakni bunuh diri.

Tragedi budaya, dapat dilihat dari kasus “bunuh diri” dan korupsi. kegagalan kekuasaan memberikan rasa adil bagi masyarakat dan Kesulitan akses kekayaan. Peristiwa bunuh diri Suhartono dan Sulistiorini pada tanggal 11 Agustus 2016 di Desa Butuh, Kecamatan Keras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, aib negara yang tidak terekspos. Mereka memutuskan bunuh dengan menenggak racun bersama karena terlilit utang. Kematiannya meninggalkan ironi kemanusiaan, kesulitan akses terhadap sumber penghidupan dan logika “ekonomi uang” melilit keluarganya, harus dilepaskan dengan cara bunuh diri.

Alasan lilitan utang adalah cara bunuh yang tragis sekaligus ironi. Sementara, di lingkaran kekuasaan, akses “kekayaan” diperoleh dengan mudah. Kemufakatan jahat memperoleh kekayaan dan kekuasaan dapat dengan mudah disepakati. Kontrak PT. Freeport diperpanjang diam-diam, yang sebelumnya gaduh dengan pencatutan nama Presiden Joko Widodo dan wakil Presiden Yusuf Kalla dalam pembagian saham PT. Freeport. Dan, Sang Pencatut nama presiden dan wakil Presiden, Setya Novanto dipulihkan oleh Majelis Kehormatan DPR (MKD), dengan dalih ketidakterbuktian secara hukum. Pada tanggal 27 September 2016 menyatakan bahwa MKD tidak pernah menyatakan putusan bersalah terhadap Setya Novanto. Pengguguran kesalahan terhadap Setyo Novanto pengkhianatan terhadap masyarakat. Dua kasus ini menunjukkan kekuasaan tidak pernah peduli dengan rakyat kecil, penguasa selalu memetingkan stabilitas kedudukannya.

Baca juga :  Hari Bumi dan Kebijakan yang Bersikukuh Merusak Lingkungan

Penyimpangan pada budaya dalam masyarakat, atau tumbuhnya subkultur dalam tatanan sosial tidak lepas dari perselingkuhan kekuasaan dan modal. Kesulitan yang terus tumbuh dalam tatanan sosial akan selalu melahirkan lecutan dan kekagetan budaya. Termasuk pemalsuan manusia. St. Sunardi menukilkan bahwa manusia dipalsukan dengan menghilangkan harkat manusia, yang digantikan dengan uang (Widyanta, 2004 : xxi). Manusia di mata penguasa sebagai alat mengoperasikan kekuasaan dan memperoleh kekayaan. Tanpa, individu-individu dan masyarakat demokrasi tidak berjalan. Tanpa, uang kekuasaan beroperasi dengan sangat pincang. Maka, rakyat dibutuhkan untuk menjalankan kekuasaan di bawah kekangan seperangkat aturan dan kebijakan yang serba sulit. Maka, segala akses terhadap sumber penghidupan dipersulit agar rakyat terus menghamba pada penguasa.

Penggadaan Uang Antara Tragedi atau Keajaiban

Ketidakseimbangan dalam memperoleh kekuasaan dan kekayaan sub-kultur bertumbuh dengan berbagai keunikannya. Termasuk, penggandaan uang yang dilakukan Ki Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Walaupun, tradisi magis ini warisan historis masyarakat Indonesia. Cara ini tetap akan bertubrukan di arena modernitas karena tidak mengikuti logika pasar dan kekuasaan. Perilaku tersebut dianggap budaya yang menyimpang dan kesesatannya dibekukan agama. Model penggandaan uang yang dilakukan oleh Ki Dimas Kanjeng adalah alternatif selain bunuh diri untuk lari dari kesulitan ekonomi uang. Para pengikutnya menggantungkan harapan kemudahan memperoleh kekayaan dan akses terhadap sumber penghidupan, yang serba tertentukan dengan nilai uang, pasar, dan kekuasaan.

Baca juga :  'Globalisasi Itu Awal Yang Indah?'

Kehidupan manusia di muka bumi ini semuanya bergantung pada logika uang. Buang kotoran harus ditukar dengan uang, hutan dibakar supaya nafas dibeli dengan uang, dan tontonan pun harus dibeli dengan uang. Tidak ada gerak tubuh manusia yang tidak terakumulasi dengan uang; tidak ada lagi yang gratis di muka bumi ini, nafas saja harus dibeli. Segalanya harus diukur dengan uang. Inilah yang sesungguhnya pemalsuan manusia dengan uang seperti yang diungkapkan St. Sunardi dalam pengantar buku Sosiologi Kebudayaan Goerge Simmel.

Penipuan yang dilakukan Ki Dimas Kanjeng terhadap para pengikutnya dan kasus bunuh diri di Desa Butuh, Kecamatan Keras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur bukanlah persoalan mentalitas manusia diuraikan Mochtar Lubis di taman Ismail Marzuki Jakarta, 6 April 1977. Tapi, ini persoalan kesulitan akses sumber penghidupan dan kegagalan negara memberikan keadilan terhadap warganya. Tatanan sosial yang berkembang pun mengikuti ekonomi uang dan logika pasar. Sehingga menghancurkan ekologi sosial yang dibangun atas struktur sosial berkeadilan. Tragedi Budaya, pemalsuan manusia dan pelahiran sub-kultur, kegagalan kekuasaan dan pemerintah mengakomodir kepentingan rakyatnya. Mistifikasi cara menghindari dari pemalsuan manusia.

Sampean, Lahir di Bulukumba, 10 Februari 1989. Penulis Pernah Bergiat di Komunitas Belajar Menulis (KBM) di Yogyakarta. Dan, sementara menempuh pendidikan pasca sarjana Sosiologi Pedesaan Institut Pertanian Bogor (IPB)

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com