SASTRA

Beautiful Mistake

Oleh: Ismi Amin

Hay, nama ku Ismi Amin Wigesti, bisa dipanggil Ismi. Kegiatanku saat ini kuliah. Aku adalah salah satu Mahasiswa bidikmisi akuntansi UMY 2016. Perjalananku hingga menjadi salah satu mahasiswa bidikmisi UMY sangat panjang dan tidak pernah terbayangkan oleh diriku sendiri maupun orang lain. Dimulai pada saat aku lulus SMP, saat itu aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah di SMK dengan tujuan agar dapat langsung mencari pekerjaan. Tetapi saat aku duduk di kelas dua SMK, aku tertarik untuk melanjutkan kuliah dan tidak ingin langsung kerja. Salah satu faktor yang mendorongku untuk kuliah adalah di STAN.

Sejak saat itu aku termotivasi untuk belajar lebih giat lagi, agar nilai rapor ku memenuhi syarat kuliah di STAN. Sejak saat itu pula, aku mulai melakukan kegiatan seperti lari pagi setiap hari Minggu. Mulai berlatih soal-soal Ujian Seleksi Masuk STAN, meminjam buku, dan bertanya kesana-kemari. Di kelas tiga aku juga belajar giat untuk Ujian Nasional, agar nilai UNnya sesuai dengan syarat yang telah ditentukan STAN. Setelah aku tryout UN, aku dan teman-teman diberitahu oleh BK bahwa pendaftaran SNMPTN telah dibuka. Kemudian kami diberikan pasword untuk masuk ke dalam sistem. Butuh proses yang panjang untuk bisa masuk ke akun pribadi, karena banyak yang mengakses situs tersebut. Kami juga harus meneliti dan mengoreksi apakah data yang telah dimasukkan sekolah sudah benar dan sama dengan rapor. Jika belum maka kami harus melaporkannya ke BK.

Kami harus bergantian mengisi data, karena tidak semua dari kami memiliki laptop. Ketika di rumah aku dan kakak juga membahas mengenai universitas mana yang akan aku pilih. Aku dan kakakku tidak mengetahui bagaimana trik untuk menentukan universitas yang tepat dan berpeluang besar agar bisa masuk. Akhirnya aku memilih Universitas Gajah Mada sebagai pilihan pertama dan Universitas Negeri Yogyakarta sebagai pilihan kedua. Pilihanku tersebut merupakan kesalahan besar, karena aku menetapkan UNY sebagai pilihan kedua. Secara otomatis UNY tidak mau menerima aku yang telah menjadikannya sebagai pilihan kedua, apalagi disandingkan dengan UGM. Sebelum pengumuman aku sudah mengira pasti tidak akan diterima dan yakin tidak akan kecewa dan sedih. Benar saja saat pengumuman aku tidak lolos keduanya. Saat mengetahui kenyataan tersebut, semua yang telah aku siapkan untuk tidak akan sedih dan kecewa hilang seketika. Aku merasa menyesal, kecewa, sedih, ditambah ketika melihat teman-temanku yang diterima di universitas bagus, hal itu menambah kesedihan dan kekecewaanku. Tetapi aku tidak terlarut dalam kesedihan yang berlangsung lama, ketika aku ingat dengan tujuan awalku yaitu kuliah di STAN.

Baca juga :  Puisi: Bermimpilah Naila

Hingga tiba saatnya yang ditunggu-tunggu yaitu pengumuman kelulusan. Alhamdulillah, aku lulus dengan nilai yang cukup memuaskan dan dapat memenuhi syarat kuliah di STAN. Tetapi di tengah jalan aku mulai goyah, apakah jalan yang akan aku ambil ini baik? Jika aku kuliah di STAN berarti aku akan meninggalkan Jogja, meninggalkan ibu dan keluarga. Pernah terlintas dipikiranku, apa yang akan terjadi jika aku pergi? Apakah ibu akan sehat jika aku tinggalkan? Mungkin saat aku masih bersamanya ibu masih sehat, lalu bagaimana jika aku sudah pergi. Memang benar sudah ada alat komunikasi, tapi apakah itu cukup ampuh? Bagaimana jika ibu bilang baik-baik saja padahal sedang menahan rasa sakit. Apakah ibu akan kuat melaksanakan tugas rumah tangga tanpa aku yang biasa membantunya? Pekerjaan ibu pasti akan menjadi berlipat, sedangkan tidak ada yang membantunya. Ayah sudah meninggal. Kakak sibuk bekerja untuk membantu ekonomi keluarga dan rela meninggalkan bangku kuliah demi kami. Adik masih kecil dan sibuk belajar. Semua itu yang menjadi pertimbanganku.

Selain itu, aku dan adikku lulus bersamaan. Adikku akan masuk SMA, tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jika aku kuliah di STAN juga tentu butuh biaya yang tidak sedikit pula. Sedangkan biaya untuk mendaftar kuliah saja sudah mengeluarkan banyak biaya. Hingga pada suatu malam ibu berkata kepadaku,

“Nak bagaimana kalau kuliahmu ditunda sampai tahun depan saja? Ibu tidak kuat kalau membiayai kaliah berdua, untuk makan saja kita mengandalkan uang dari kakakmu, kasihan juga kakakmu kalau juga harus membiayai kalian berdua!” Aku hanya bisa diam beberapa saat dan air mataku mulai menetes.

“Aku masih punya uang sisa lebaran tahun kemarin Bu, jadi bisa digunakan untuk biaya mendaftar STAN dan sisanya kalau lolos bisa untuk beli tiket.” jawabku.

“Terserah kau saja Nak, tetapi ibu tidak bisa membiayaimu nantinya,” jawabnya dengan mata yang berkaca-kaca. Aku hanya berharap akan ada keajaiban yang Allah berikan.

Hingga tiba waktunya pendaftaran STAN, aku bergegas segera mendaftarkan diri bersama teman-teman. Lalu aku mengumpulkan berkas yang diperlukan. Aku juga harus melakukan verifikasi berkas di Balai Diklat Keuangan Yogyakarta, aku berangkat pukul 06.00 pagi agar mendapatkan antrian depan. Alhamdulillah, aku mendapatkan antrian depan dan tidak perlu menunggu lama. Aku mendapatkan tempat tes di GOR Amongrogo. Saat waktunya tiba untuk tes, aku berangkat bersama teman dan siap mengerjakan soal-soal yang diberikan. Ini adalah tahap pertama Ujian Masuk STAN dan masih ada dua tahap lagi. Aku sangat yakin akan lolos tes ini, karena aku sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari sebelumnya. Saat aku memasuki ruang ujian, ternyata banyak yang mendaftar, belum lagi peserta yang tes ditempat lain. Beberapa hari setelah selesai tes, ketika tiba waktunya untuk pengumuman tahap pertama ternyata keyakinanku salah. Aku tidak lolos tahap satu dan itu hal yang aku takutkan sejak awal. Aku marah pada diriku sendiri kenapa bisa tidak lolos dan aku marah kepada Allah, kenapa Dia tidak mengabulkan permintaanku padahal di setiap doaku, kuselipkan doa agar Dia mengabulkannya. Mungkin ini akibat aku tidak menuruti nasihat dan perintah orang tua. Tetapi apa yang bisa aku lakukan, hanya bisa menyesal dan merenunginya, tetapi tidak dapat mengubahnya.

Baca juga :  Puisi-puisi Sampean

Aku putus asa. Aku bingung apa yang harus aku lakukan, tidak mungkin aku hanya diam saja meratapi kegagalan ku. Aku mencoba bangkit dan melihat peluang lain yang masih ada yaitu SBMPTN dan Ujian Seleksi Mandiri atau memilih bekerja. Aku berpikir ketika aku ingin mendaftar SBMPTN maka aku juga harus menyiapkan uang untuk pendaftaran. Di sisi lain aku juga tidak menyiapkan materi untuk tes SBMPTN, karena hanya berfokus pada tes STAN. Sedangkan materi STAN dan SBMPTN jauh berbeda. Aku juga tidak memiliki buku soal-soal SBMPTN. Tetapi aku bertekad dengan sisa uang yang aku miliki mendaftar SBMPTN. Aku memilih Universitas Negeri Yogyakarta dan Universitas Diponegoro jurusan Akuntansi. Lagi-lagi aku melakukan kesalahan, aku tidak melihat passing gradenya. Aku mendapat tempat tes di kampus dua UNY, dekat GOR Amongrogo. Ternyata saat tes, aku sendirian, teman-temanku yang lain tes di kampus satu UNY jalan Colombo.

Saat mengerjakan aku tidak dapat fokus penuh pada soal, karena ada hal lain yang mengganggu pikiranku yaitu ada tes wawancara untuk bekerja saat itu. Selain itu soal yang diujikan juga bukan soal yang mudah. Jadi aku hanya mengerjakan yang aku bisa, ditambah lagi perutku yang lapar karena tidak membawa bekal makan hanya membawa minum. Setelah habis waktu mengerjakan tes, aku langsung bergegas keluar ruangan dan pergi untuk wawancara. Sesampainya di tempat, wawancara telah berakhir dan aku harus wawancara lagi hari Rabu. Pada hari Rabu, aku melakukan tes dan wawancara. Setelah melakukan serangkaian tes kerja dan wawancara aku disuruh untuk menunggu, nanti akan dikabari lewat SMS. Tetapi sampai sekarang tidak ada SMS yang masuk, yang berarti aku tidak diterima kerja. Itu sangat menyebalkan dan menyakitkan. Apalagi saat pengumuman SBMPTN ternyata namaku juga tidak ada dalam daftar nama mahasiswa yang lolos. Hal ini membuatku tambah frustasi, sedih, dan pastinya kecewa. Untuk sementara waktu aku memutuskan untuk melamar kerja lagi dan lagi, mengirim surat lamaran kerja, dan mengikuti wawancara. Tetapi semua itu tidak ada hasilnya dan tidak ada respon dari pihak perusahaan.

Baca juga :  Cerpen: Tinta

Pada akhirnya seorang teman mengajakku bekerja di mall, bagian toko baju bayi. Awalnya aku kira pekerjaannya enak, ternyata jauh dari yang aku bayangan. Aku harus berdiri seperti SPG, berdiri berjam-jam dan itu sangat melelahkan dan membuat kakiku sakit. Selain itu jarak rumah ke mall lumayan jauh dan harus membayar parkir setiap datang bekerja. Setelah aku pertimbangkan gaji yang diberikan tidak sebanding dengan apa yang aku lakukan. Sehingga keesokan harinya aku membuat surat pengunduran diri dan memutuskan untuk berhenti. Aku mulai mencari informasi lagi mengenai universitas yang masih membuka Penerimaan Mahasiswa Baru. Aku memutuskan untuk pergi ke UMY untuk mencari informasi mengenai Penerimaan Mahasiswa Baru bersama tetanggaku yang suaminya bekerja di UMY. Aku mengambil formulir pendaftaran dan daftar biaya perkuliahan yang harus dibayarkan jika sudah diterima. Aku terkejut melihat biaya yang dibayarkan sangat fantastis. Terpikirkan olehku, aku tidak jadi mendaftar karena sangat mahal dan ibu pasti tidak mampu membayarnya. Aku mencoba mendaftar melalui jalur PNUAN yang tidak membayar dan tidak perlu melakukan tes dan aku lolos, tetapi tetap saja harus membayar banyak jika sudah lolos. Aku mencoba bertanya pada petugas Penerimaan Mahasiswa Baru apakah ada beasiswa yang bisa meringankan. Ternyata ada dari PLN, tapi hanya sedikit dan bagi keluarga ku walaupun sudah mendapat beasiswa dari PLN tersebut tetap saja masih mahal. Sehingga aku memutuskan untuk tidak mengambilnya.

Advertisement

Tidak berhenti sampai disitu, aku juga mencari beasiswa bidikmisi lain, ternyata ada bidikmisi Seleksi Mandiri PTN dan PTS. Aku memilih Universitas Semarang untuk bidikmisi PTN, karena hanya UNNES Universitas terdekat yang membuka Seleksi Mandiri Bidikmisi. Selain itu, aku juga memilih UMY karena akreditasi akuntansinya sudah A dan paling bagus di antara PTS yang ada di sistem bidikmisi, selain itu jarak rumah ke kampus juga dekat. Ketika aku mendaftar UNNES dan UMY, aku juga mendaftar Seleksi Mandiri UPN jalur bidikmisi. Tanpa berpikir panjang aku langsung pergi ke warnet untuk mengisi formulir pendaftaran pada sistem bidikmisi ketiganya. Pertama aku mengisi formulir UNNES. Setelah selesai mengisi pendaftarannya aku tidak membaca langkah selanjutnya dan aku lanjut mengisi formulir pendaftaran UMY. Saat mendaftar di UPN aku harus mengirim SMS dahulu ke panitia agar mendapatkan password. Karena aku tidak kunjung mendapatkan balasan dari pihak UPN aku memutuskan untuk pergi ke kampus dan menanyakan hal tersebut. Ternyata benar ada kesalahanpahaman. Aku yang sudah mengirim pesan, tetapi dikira belum mengirim pesan, sehingga pihak panitia tidak memberikan respon berupa password yang dikirimkan via SMS. Setelah aku mendapatkan password aku langsung melengkapi data-data dan dokumen yang diperlukan. Aku juga pulang pergi ke sekolah untuk melengkapi data dan meminta legalisir. Setelah beberapa hari aku fokus mengisi data UPN, aku baru sadar bahwa aku terlambat untuk melakukan verifikasi berkas UNNES. Padahal setiap aku membuka web UPN pasti aku membuka web UNNES. Mungkin ini sebab karena aku tidak membaca lengkap langkah-langkahnya. Secara otomatis berarti aku gagal mendaftar di UNNES. Tetapi aku berpikir positif, mungkin Allah tidak merestui jalan yang ku pilih dan Dia memiliki jalan yang lebih indah.

Sejak saat itu aku kembali membaca langkah-langkah pendaftaran UMY dan UPN secara cermat dan teliti. Ketika aku masih mengisi data-data UPN, saat itu juga pengumuman bidikmisi UMY tahap pertama. Ternyata namaku tidak muncul dalam daftar Mahasiswa penerima bidikmisi UMY. Aku mencoba tegar tetapi air mata ku tidak mau berhenti menetes. Aku iri kepada sahabatku, kenapa dia yang mengetahui informasi bidikmisi UMY dari aku malah dia yang lolos sedangkan aku tidak. Aku hanya bisa berserah diri dan meminta yang terbaik padaNya. Kemudian aku melanjutkan mengisi data dan aku berpikir masih ada satu kesempatan lagi untuk aku perjuangkan secara maksimal yaitu UPN. Karena ini kesempatan terakhirku, maka aku memutuskan untuk membeli buku materi SBMPTN, agar aku bisa belajar lebih giat lagi dan lolos tes. Pada pagi hari, handphoneku berbunyi tetapi tidak tahu dari siapa. Ketika aku menjawab teleponnya, ternyata itu adalah telepon dari panitia penerimaan mahasiswa baru bidikmisi UMY 2016. Beliau memberitahukan bahwa aku lolos tahap pertama, aku kaget dan senang. Aku tidak menyangka padahal jelas-jelas namaku tidak tertera dalam pengumuman. Beliau menyuruhku untuk mengikuti tes esok hari. Aku langsung tambah semangat belajar dan langsung memberi tahukan hal ini pada ibu. Ibu terlihat sangat bahagia mendengarnya.

Aku fokus untuk belajar dengan buku baruku. Aku belajar untuk dua kali tes yaitu tes UMY dan tes UPN. Saat tiba waktunya tes UMY, aku langsung berangkat pagi dan di kampus aku masih belajar dengan buku baru yang materinya belum pernah aku pelajari sebelumnya seperti geografi, sejarah, dan sosiologi. Aku terkejut ketika aku sudah masuk ruang ujian dan mengerjakan soal, ternyata materi yang aku pelajari seperti geografi, sejarah, dan sosiologi tidak ada satu pun soal yang keluar. Materi yang diujikan hanya Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Tetapi aku tidak meyesal mempelajarinya karena tetap akan dipakai untuk tes selanjutnya di UPN. Setelah selesai tes, aku diberitahu untuk menunggu hasilnya beberapa hari lagi di web UMY. Kini saatnya aku fokus belajar untuk tes UPN, walaupun hanya tinggal satu minggu waktu yang tersisa untukku belajar. Beberapa hari kemudian, hari ini adalah pengumuman tahap kedua UMY. Aku membuka pengumuman tersebut dan alhamdulillah namaku tercantum dalam pengumuman tersebut. Aku hanya tinggal menunggu tahap ketiga yaitu home visit, tetapi aku sudah optimis kalau aku pasti diterima tahap ketiga.

Kini saatnya untuk tes UPN. Aku mendapatkan tempat tes di kampus dua, jalan babarsari. Tetapi aku tidak membaca informasi tersebut di kartu peserta dan aku tidak mendatangi tempat ujian satu hari sebelum tes dimulai. Sehingga aku tidak mengetahui informasi bahwa aku tes di kampus dua. Dengan percaya diri aku langsung saja datang ke kampus satu, jalan Ring Road. Langsung saja aku bertanya pada satpam di mana ruangan ku. Ternyata aku salah kampus, satpam tersebut memberitahu bahwa aku seharusnya di kampus dua. Aku diberikan petunjuk oleh satpam tersebut jalan menuju kampus dua. Lalu aku langsung mengikuti petunjuk satpam itu. Padahal aku belum pernah melewati jalan itu. Aku hanya mengikuti kata hatiku saja. Untung saja aku berangkat lebih pagi, sehingga aku masih bisa mencari kampus dua di jalan babarsari. Setelah ketemu kampusnya, aku lagi-lagi dengan percaya dirinya langsung memarkirkan sepeda motor di gerbang depan, lalu aku bertanya kepada penjaga parkir di mana ruangnya. Lagi-lagi aku salah, seharusnya aku lewat gerbang belakang. Kemudian aku keluar dan pergi mencari gerbang belakang. Akhirnya ketemu dan aku masih memiliki beberapa menit untuk istirahat dan sejenak membaca buku.

Tidak lama kemudian, waktu tes tiba dan aku memasuki ruang ujian. Lalu aku mengerjakan soal-soal yang diujikan, ternyata beberapa materi dalam bukuku keluar dalam soal. Tetapi sama saja aku hanya membaca materi tersebut sekilas jadi aku lupa. Aku hanya bisa berdoa dan menyerahkan semuanya pada Allah SWT. Akhirnya tes selesai dan aku langsung pulang. Hasilnya akan diumumkan di web UPN. Saat menunggu pengumuman UPN, aku juga menunggu panitia penerimaan mahasiswa baru datang ke rumahku untuk home visit. Tetapi belum ada yang datang ke rumah. Sehingga aku memutuskan untuk pergi ke kampus dan bertanya. Ternyata home visit akan dilakukan pada sore hari, hari itu juga. Aku dan ibu di rumah menunggu kedatangan mereka. Dan akhirnya mereka datang, dan langsung melihat-lihat rumahku. Meraka bilang bahwa pengumuman tahap ketiga akan diumumkan beberapa hari ke depan di web UMY.

Beberapa hari berlalu, sekarang tiba saatnya pengumuman UPN. Aku membuka webnya dan ternyata terdapat tulisan maaf anda belum lolos. Ditolak itu biasa tapi ditolak berkali-kali itu menyakitkan. Mungkin ini bukan jalan indah yang Allah pilihkan. Aku hanya tinggal menunggu keajaiban yang telah Allah siapkan. Aku masih memiliki satu harapan lagi yaitu bidikmisi UMY. Tetapi aku mencoba melamar pekerjaan lagi, untuk jaga-jaga jika aku tidak lolos, setidaknya aku sudah memiliki pekerjaan. Mencari kerja juga tidak semudah seperti yang dibayangkan. Aku juga harus menunggu panggilan dan wawancara. Saat aku berusaha mencari kerja, aku membuka pengumuman bidikmisi UMY. Memang Allah itu Maha Esa, Dia sudah merencanakan yang terbaik bagi hambanya. Belum tentu yang di rencanakan seorang hamba lebih indah dari rencana Tuhan. Alhamdulillah ternyata namaku tercantum dalam daftar mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi UMY. Aku sangat senang, bahagia, tidak menyangka dan tidak dapat diunggkapkan melalui kata-kata. Ini jawaban atas segala doa ku dan menjadi hadiah ulang tahun Uibu yang ke-60. Betapa bahagianya ibu ketika mendengarkan pengumuman itu. Aku jadi ingat firman Allah (Al-Baqarah : 216) “…boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.“

Dahulu aku sangat tidak ingin kuliah di UMY padahal ibu menyuruhku untuk kuliah di UMY, tetapi aku menolak dengan alasan biaya yang mahal dan bukan universitas negeri, hanya universitas swasta tidak sebanding dengan UGM atau UNY yang hampir seluruh mahasiswa adalah anak orang kaya dan tidak sebanding dengan aku juga. Aku juga tidak berminat masuk di universitas yang berbasis terlalu condong ke arah agama bukan universitas umum. Tetapi Allah memilihkan jalan yang mungkin menurut aku tidak baik tapi menurutNya baik. Memang restu ibu dan Allah itu yang utama. Yang tidak pernah aku upayakan dan aku usahakan ternyata telah Allah gariskan. Mungkin ini jalan Allah agar aku lebih mendekatkan diri kepadanya. Aku sangat menyesal telah membenciNya dulu saat banyak ditolak, saat tidak diterima SNMPTN, STAN, SBMPTN, dan seleksi mandiri. Aku berpikir Allah tidak adil tapi semua anggapanku salah, buktinya sekarang bahwa Allah masih menyayangiku dan memberikanku kesempatan untuk kuliah di UMY dengan beasiswa bidikmisi. Aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Allah. Ya Allah mohon maafkan segala kesalahan hambaMu ini.

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com