SASTRA

Bullying Menjadi Tradisi

Oleh: Muhammad Rizky Indra Wijaya

CERPEN, EDUNEWS.ID – Ini adalah kisah nyata yang pernah aku alami. Perkenalkan namaku Muhammad Rizky Indra Wijaya aku lahir di Sleman, 17 Februari 1997, aku anak dari seorang yang sangat sederhana. Ketika aku lahir Ayahku tidak ada disampingku untuk mengadzankanku dan itu digantikan oleh Pamanku. Ketika umurku satu tahun aku dan ibuku dibawa Ayahku ikut denganya ke Bogor atau sering disebut Kota Hujan. Aku dibesarkan dan dididik keras disana aku dihajar, dipukul, disabet, dan dikurung dikamar Mandi pada malam hari ketika aku melakukan kesalahan seperti, berbicara keras, malas belajar dll.

Oke langsung saja pada aku kelas 4 SD, di SDN Nanggewer 04. Tempat ayahku bekerja bangkrut dan Ayahku di PHK, setelah PHK besar-besaran yang dilakukan tempat Ayahku bekerja, orang tuaku memutuskan untuk pulang kampong tapi bukan ke Sleman melainkan ke Magelang. Dan inilah awal penderitaan yang kurasakan.

Baca juga :  Cerpen: Tengadah Jemariku, Uapkanlah Bagai Embun

Ketika aku pindah sekolah, aku berbeda sekali dengan teman-teman baruku. Aku ketika itu memiliki penampilan Putih berponi dan sipit seperti orang cina pada umumnya. Aku yang saat itu tidak mengerti Bahasa jawa sering mengalami pembullyian dan sering dipalak uang jajanku, sampai kejadian bullying itu membuatku depresi dan membuatku tidak naik kelas dan itu membuatku stress sampai aku pernah berfikir untuk mengakhiri hidup dengan membenturkan kepala ke tembok, tapi itu sama sekali tidak berpengaruh.

Lalu aku mendapatkan teman baru lagi, dan kukira bully yang kualami akan selesai, tapi malah berlanjut dan sampai suatu bullying yang sangat parah dan membuatku harus masuk Rumah Sakit 2 hari karena ketika aku pulang sekolah aku dihajar oleh 5 orang temanku dan membuatku babak belur dan itu aku menangis dari jalan dekat sekolah sampai rumahku yang berjarak sekitar 2,5 Km dan itu aku jalan kaki. Lalu orangtuaku mengetahui kalo aku adalah korban bully dan melaporkan ke Kepala Sekolah untuk menindak teman-temanku yang mengkroyok aku. Dan sejak saat itu mereka semakin membenci aku dan semakin membully aku.

Baca juga :  Puisi-puisi Sampean

Dan sekarang aku dapat menyimpulkan bahwa sebuah bullying bukan sebuah keasikan maupun keisengan belaka melainkan sebuah tradisi yang terus berjalan untuk seseorang yang berbeda dan itu lahir dari mereka korban bullying yang ingin membalaskan dendam kepada orang lain, supaya mereka merasakan apa yang dirasakan oleh korban.

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!