SASTRA

Cerpen: Hiburan Malam

Oleh: Titin Widyawati

 

Di luar rumah.

Suhu udara mengajak warga membalut tubuh dengan kain tebal. Langit cerah, bintang pun bertebaran liar. Tak ada kabut kala itu, kecuali pada setitik langit yang mengepulkan kemurkaan kelabu. 24 Juni 2015, kalender berucap pilu, tatkala puluhan warga lari berbondong-bondong ingin menyaksikan sebuah aktraksi. Sepeda motor menarik gas cepat. Pemuda juga pemudi mengambil langkah untuk pergi ke sebuah tempat. Anak belia digendong, selimut diboyong. Sementara raut muka yang baru saja terbangun dari alam mimpi menampakkan keterkejutan setengah mati. Sejenak lupa harta, dan kecantikan diri.

“Cepetan ke sana! Cepetan!” jeritan yang tak pernah dipahami waktu.

“Bangun!” seakan memaksa semua nyawa untuk lari tunggang-langgang. Untungnya tidak, mereka berjalan atau berlari pada satu arah saja.

Wajah tegang berebut jalan, keringat bak intan di kening masing-masing orang. Anak-anak kecil bahkan lupa memakai sendal. Si renta yang menjemput senja tak lelap tidurnya, terganggu derap kaki yang tak beraturan. Gemuruh gelombang suara merobek keheningan malam. Ia pun ikut lari mencari tahu apa yang terjadi. Gubuk-gubuk warga sejenak ditinggal. Tak ada yang dijadikan bekal, kecuali pakaian tidur, dan hape dalam genggaman, serta bau air liur yang sempat tertuang di atas bantal.

“Ayo, cepetan lihat!” suara salah satu dari mereka.

Pentongan warga terus dipukul. Satu pemuda menjerit-jerit dengan suara parau. Membangunkan keseluruhan warga dalam kemelut dingin yang memabukkan.

Baca juga :  Cerpen: Hiburan Terindah

Langit hitam belaka, tajamnya menembus ruh rembulan yang terang benderang, gemerlap bintang pun menjadi peraduan malam, hanya saja pada satu titik tergambar amatlah mencekam. Mendadak ia menjadi gumpalan kabut yang menerobos langit ke tujuh. Mengundang mata-mata iba untuk menyaksikan dirinya. Ia membunuh hati puluhan insan. Layaklah jika malam itu ia menjadi pusat perhatian.

*     *     *

         Di dalam rumah.

Ia menggeliat saat kautarik selimut tebal yang sudah tiga jam melilit tubuhnya. Kebulatan retinanya sampai-sampai tak mampu ditampakkan. Dagunya mengangguk-angguk lunglai. Dingin menyapu kesadaran otaknya. Alangkah damai saat dua kelopak matanya diperijinkan kembali tertutup lama. Masih duduk setengah badan, ke dua kaki berselonjoran. Rambutnya terjurai berantakan. Tak ada secuil senyum, meski kusut tak menawan.

“Ayo lihat! Warga sudah berbondong-bondong menuju tempat itu!” suaramu keluar tergesa-gesa. Napasmu tersengal-sengal. Sepuluh jemari kakimu tak sabar lagi merayapi jalan aspal. Lari mengejar hal yang membuatmu penasaran setengah mati. Tak peduli waktu mengajakmu bercinta di pembaringan kembali. Jam dinding yang berdetak-detak terus menuntut lensamu untuk lelap. Kala roda waktu berhenti pada angka satu tepat, waktu terhangat untuk memetik lelap dalam peluk malam yang senyap. Namun kerusuhan warga yang berlari-lari di luar rumahmu, menggelitik hatimu untuk melakukan kebodohan yang sama, mengusir gigilmu yang mendekap.

Baca juga :  Ayam yang Serakah

“Cepetan Sabrila! Bangun! Ayo lihat! Aku penasaran!” teriakanmu tetap tak membuat dirinya terjinggat. Ia hanya menguap. Ke dua tanggannya sigap menggayuh bantal guling untuk kembali didekap.

“Aku ngantuk! Hiburan tak menarik! Aku mau tidur.” Celetuknya membuatmu semakin bertambah geram. Kali ini dengan paksa kautarik telinga Sabrila, yang merupakan kakak kandungmu. “Mau di rumah sendirian? Semua warga pada pergi!”

“Pergi untuk apa?” pertanyaan itu mengalir lirih dengan getaran parau pita suaranya. “Aku lelah sekali!” keluhnya. “Belum waktunya sahur.” Bulan ramadan menyongsong waktu itu. Biasanya ia kaubangunkan pukul setengah empat, mengajak makan di meja makan yang pucat, tanpa Mamak tanpa Bapak. Kalian berdua tinggal sepasang hati tanpa cinta orangtua. Ayah sedang menunggu nasib surga atau neraka di dalam alam baka, Mamak membuang tenaga untuk mengumpulkan harta di persinggahan kota Yogyakarta. Saat di luar puluhan orang lari mengejar pemandangan baru dalam mata mereka, bergandengan tangan erat dengan orangtua, kautabah membujuk rayu kakakmu yang malas itu.

“Semua orang menontonnya! Ayolah bangun, Sabrila!” Meski ia kakak kandungmu, namun kau enggan memanggilnya ‘Kak’. Rasa hormat itu akan melunturkan keakrabanmu dengannya. Sabrila, si gadis polos yang selalu menampakkan sifat kekanak-kanakan. Tubuhnya lebih pendek darimu. Tak pantas jika ia mendapat gelar sebagai kakak kandungmu. Apalah daya ketika lembaran takdir sudah ditorehi tinta seperti itu. Kau bahkan selalu bersikap lebih dewasa daripadanya.

Baca juga :  Puisi : Meniti Rindu

“SABRILA! BANGUN!” suaramu membentur di dinding-dinding ruangan yang dilapisi warna cokelat pucat. Memantul pada bingkai foto kusam yang tertempel di pusar dinding. Jendela kamar pun ikut berderik-derik, lantaran suaramu membuat dewa angin malam terbangun dari keheningan panjang. Hanya kau dan kakakmu yang masih tersisa di kampungmu, bersekat kamar yang tak lagi megah dalam pandang. Hening menjalar dari ujung kampung. Jejak langkah yang sempat berebut langkah lenyap seketika. Suasana bertambah dramatis saat lampu rumahmu mati.

“MATI LAMPU!” orang pertama yang berteriak mati lampu adalah kakakmu. Kauterkekeh tipis, sadar bahwa gadis dengan rambut berantakan itu nyalinya ciut dalam kegelapan. Kaulongok jendela. Cahaya rembulan meremangkan jalan aspal di depan rumah yang cacat dan berlubang. Kauambil korek senter dari kantong bajumu, sudah kaupersiapkan tadi sebelum membangungkannya.

“Hanya tinggal kita berdua!” matamu melotot. Tangan kirimu berkacak pinggang. Sementara yang kiri menyorot wajahnya dengan senter. Cahaya itu menembus lensa Sabrila. Ia berkedip-kedip sebentar mengumpulkan nyawa yang sedari tadi melayang-layang dalam genggaman tangan impian. Akhirnya ia terbangun. Duduk menatapmu terheran-heran. Tampak sekali bahwa saudaramu itu dipermainkan kantuk.

Advertisement

“AYO LIHAT!” entah sadar atau tidak. Sabrila loncat dari ranjang, langsung berjalan tergesa-gesa sempoyongan menabrak apa saja yang ada di depannya menuju ruang depan, menghampiri pintu rumah. Menarik, sekilas memandang langit. “Indah, tapi—” suaranya tersendat. “Ambilkan kerudung!” angin bebas mulai menyetubuhinya. “Juga jaket tebalku!”

Kaudatang membawa kain penutup aurat. Ia memakainya sembarang. Rumah tetangga-tetanggamu senyap tak berarti. Hanya beberapa jendela mereka yang berderik-derik diembus angin. Tanaman di teras rumah ikut merayumu untuk segera pergi dengan melenggokan tubuhnya. Ia siap berjalan mengendus jejak warga yang lain.

“Tunggu dulu!” kautahan lajunya. “Gelap akan mengundang maling, semua warga lari ke tempat itu.” Entah tempat mana yang kaumaksudkan, bibir waktu hanya mampu mendesah bingung.

Sabrila berkerut kening. Memandang wajahmu yang dipantuli sinar rembulan. “Sampai berpikir seperti itu?” rupanya ia heran. “Tapi benar juga.” Lanjutnya.

“Apa benda berharga milikmu?”

“Aku bisa hidup jika makan, benda berharga dalam hidupku hanyalah sesuatu yang bisa menghasilkan makanan.” Sedikit tampak gigi tak rapi kakakmu. Kauhela napas kesal. Kembali masuk ke dalam rumah mengambil dompet dan alat komunikasi. Hanya itu, tak ada yang lain. Permata intan kau tak pernah memiliki, apalagi menyimpan sampai mengenakan.

*     *     *

         Kau sesak napas. Sabrila melotot tajam seakan tak yakin dengan pemandangan yang dilihat. Puluhan orang, bukan! Tepatnya ratusan warga yang datang dari kampungmu juga kampung tetangga atau seberang, berderet berantakan di tepian jalan. Tak sedikit pula yang menyebrang ke sana kemari penuh keterkejutan. Teriakan. Mati lampu semakin menambah suasana menjadi menakjubkan.

Subhanallah!” salah seorang di sisimu berzikir. Ia memakai selendang di bahu. Kerudung tak menutup dada tampak tak rapi. Pias lentera dari ujung pasar menerangi wajahnya. Kau tak sempat menyapa. Hanya saja sanggup menebak bahwa ia adalah orang Islam.

Astaghfirullah,”

Innalillah!”

Busyet!”

Sialan!”

Gila!” macam zikir yang berbeda saling susul.

Adegan di ujung pasar. Membuat puluhan sepeda motor berhenti di tepian jalan. Mobil-mobil berjalan layaknya keong yang lambat, menumpahkan ratusan orang yang lari tunggang langgang. Raungan sirine mengiramai suasana menjadi bertambah menegangkan.

“Lihat sebelah sana!” kautarik lengan Sabrila. Matanya tergenang karena merasa pedih. Bibirnya tak henti-hentinya merapalkan doa. Kauterobos warga yang merapat menonton adegan itu. Tak sempat mengucapkan permisi atau salam untuk berbasa-basi. Bahkan kaki mereka ada pula yang kauinjak.

“Ya Allah, kenapa bisa sampai seperti ini?” desisan suara warga melayang di ambang udara. Riuh pasar meramu kegelisahan jiwa manusia.

“Ada apa?” dan pertanyaan itu akan terlontar kepada siapa saja saat sepeda motor berhenti sembarangan. Kemudian yang ditanya menunjuk ke ujung pasar. Dengan mulut menganga, terhiasi wajah yang tegang. Penanya pun lantas akan diam dan tak berkata-kata, kecuali memuji Tuhan.

“Ya Allah.”

         *     *     *

         “Lihat itu, Sabrila!” katamu menunjuk seseorang yang diangkat beberapa orang dan dimasukkan ke dalam mobil bok.

“Apakah ia meninggal? Kenapa bukan Ambulance?” Ia pun menoleh mengikuti arah telunjukmu. Menggelengkan kepala beriringan dengan airmatanya yang keluar.

“Aku pikir ada apa, tadi—” Sabrila mencoba mengingat-ingat dirimu saat membangunkan tidurnya. “Ini menyedihkan sekali.” Kicaunya seraya memandang puluhan orang berjalan tunggang langgang menyelamatkan masing-masing barang mereka. Sepatu-sepatu, pakaian, piring-piring dan macam-macam sembako.

Mobil-mobil pick up berdatangan sigap membawa barang dagangan untuk diamankan. Puluhan orang menjerit dengan isakan tragis saat mengetahui hartanya ludes tanpa sepenggal makna yang berarti.

“Minggir-minggir!” suara sopir mengusir beberapa langkah kaki yang menyebrang jalan tak beraturan. “TIN! TIN! TIIIIINNNN!” bunyi klakson mobil di belakang mobil pick up tersebut.

Woi minggir!”

“Mengerikan.” Kau yang mendengar teriakan-teriakan itu berdecak. Sementara ratusan warga hanya menjadi penonton. Seolah musibah itu dijadikan hiburan malam sebelum sahur.

“Ya Allah, pemadam kebakarannya kehabisan air.”

“Ini warga kenapa tidak bantu sih? Malah pada nonton! Dikira hiburan apa?” Sabrila, kakakmu asal ucap tanpa kendali. Kaubungkam mulutnya dengan paksa. Menarik tubuhnya pelan untuk mundur.

“Diam!”

“Aku tak tega melihat orang lari-lari ngangkutin barang mereka!” teriaknya.

“Kamu mau bantu, Sabrila? Kita hanya bisa melihat!”

“Aku mau!” ia berjalan mengeluari kerumunan. Menyebrang jalan tanpa menunggu persetujuanmu. Benar-benar anak kecil yang keras kepala. Gumammu dalam hati.

“SABRILA! BAHAYA!” urat-urat lehermu menegang. Tapi tak digagas. Gadis itu terus melangkah maju untuk masuk ke dalam pasar.

Orang di sekitar memandang kalian berdua dengan tatapan sinis.

Lima mobil pemadam kebakaran sedari tadi bolak-balik menjinakkan api yang melumat habis pertokoan di dalam pasar. Api bermula dari sebuah toko ketupat di belakang pasar, menjalar ke kanan dan ke kiri. Asapnya mengepul di udara, menciderai satu titik langit yang seharusnya indah. Ia membuat mata bintang berlinang kepedihan. Seakan ingin terus mengundang warga untuk bergerombolan datang menuju tempat kejadian. Tak ada aliran listrik di dalam toko tersebut. Kemungkinan besar ada yang bermain api di balik hiburan malam ini. Pasar ini sudah direncanakan akan dibangun pada tahun 2017 mendatang.

*     *     *

         02 Juli 2015. Devita Fashion. Mengenang terbakarnya pasar Kaliangkrik. 24 Juni 2015.

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com