SASTRA

Cerpen: Hiburan Terindah

Oleh: Kasman McTutu*

CERPEN, EDUNEWS.ID – Menjadi warga kompleks perumahan yang sesak dengan rumah sangat sederhana sekali memang penuh kisah yang tak pernah habis. Mulai dari gosip terbaru yang terganti tiap pagi saat belanja sayur bareng, atau saat bertemu di pinggir jalan depan play group saat mengantar anak, maupun di arena arisan bulanan kompleks. Kisah-kisah bertemu, terutama cerita kejelekan tetangga kita sendiri, atau ungkapan rasa sirik atas prestasi para jiran.

Namun ada satu tema yang bisa meyatukan suara semua faksi ibu-ibu di kompleks, soal hiburan favorit. Meski ada blok pencinta sinetron Hindustan dan fans drama Korea, mereka tak akan saling menyerang dan saling menjatuhkan. Mereka malah saling menunggu untuk menceritakan pengalaman masing-masing saat menikmati episode terakhir sinetron kejar tayang yang selalu bikin deg-degan.

Aku yang baru tiga pekan jadi penghuni kompleks, ikut tenar berkat sinetron Hindustan dan drama Korea. Aku selalu punya informasi terdepan. Suamiku yang bekerja di sebuah perusahaan distribusi, rajin membawa pulang flashdisk, isinya episode terbaru sinetron Hindustan dan drama Korea yang lagi viral. Mereka selalu mencariku, sekadar untuk meng-copy file episode terbaru sinetron Hindustan dan drama Korea yang kupunya untuk mereka tonton segera.

Aku merasa menjadi seperti pengedar flm bajakan paling murahan sedunia, tak ada bayaran apapun, semua bisa meng-copy dengan gratis. Maka demikianlah, belum sebulan, popularitasku sudah menyaingi ketenaran Bu RT yang rutin keliling menagih piutang Tupperware-nya dengan suara melengking-lengking bak anjing ceking, padahal badannya lumayan subuh.

Oh ya, aku hampir lupa, ada satu tema lagi yang bisa menyatukan kami, membuat kami sepakat untuk tidak membahasnya, nyaris tanpa suara, tak ada gosip, tak ada sirik, bahkan tak ada kisah tentangnya. Ibarat buku, cuma tercetak sampulnya, isi dalamnya masih polos tanpa isi, tanpa tulsan, tanpa tanda baca. Namanya Bu Hilwa, mengenalkan diri sebagai Ummu Naurah, ikut arisan kompleks, tak pernah telat membayar, selalu hadir tepat waktu, senyum kepada semua orang, namun tak pernah ikut ngerumpi, apalagi menggosipkan tetangga.

Baca juga :  Puisi-Puisi Ridvan Satria Pradhana

Saban hari bila bertemu saat belanja sayur ke pa’gandeng langganan kompleks kami, Daeng Tiro, mukanya tetap dengan senyum, tak ada cemberut di sana. Cara menawarnya elegan, bila sekali dia mengajukan harga dan tidak disetujui oleh Daeng Tiro, dia akan membayar dengan harga normal tanpa gerutu. Tak jarang, dia membantu membayarkan kekurangan bayaran kami, seratus atau dua ratus rupiah.

Suaminya marbot di masjid kompleks kami, Masjid Maryam, namanya Pak Hayat. Tak pernah telat mengumandangkan azan, masjid selalu kinclong, kamar mandi dan tempat wudu jauh dari kesan jorok. Pokoknya, semua dia kerjakan dengan baik, dan seperti istrinya, selalu dengan senyum. Padahal, gajinya cuma senilai jajan anak saya yang sudah SMA. Namun mungkin karena itulah hidupnya tenang, rezekinya berkah, tak ada yang sirik, tak ada suara negatif tentangnya.

Sekali waktu, arisan kompleks digelar di rumah Ummu Naurah, rumah tipe 27 yang dia kontrak selama setahun itu nyaris tanpa abah-abah, dindingnya polos, hanya sisi bagian dalam yang disandari lemari buku besar, hampir penuh dengan kitab. Mata kami membelalak saat melihatnya, bukannya diisi beragam pot serta cangkir mengkilap, lemari di ruang tamunya disesaki buku, Ummu Naurah hanya berkomentar ringkas, “Abi Naurah malu ceramah tanpa dasar.” Kami tercekat, sesaat.

Setelahnya, suara kami kembali menggerung bagai kawanan lebah, seperti arisan-arisan sebelumnya.

Baca juga :  Puisi : Aku Secangkir Kopi

“Aku paling suka mendengar suara Kanika Kapoor saat melantunkan Chittiyaan Kalaiyaan.” Seru ibu Jamilah sambil membetulkan letak kain sari modifikasinya.

“Aku juga suka Kanika, tapi di film Ragina, dia menyanyikan Baby Doll.” Ibu Shanti kelihatan geregetan.

“Sayang, di sini tak ada televisi, padahal saya punya klip terbarunya yang versi karaoke.” Lanjutnya.

“Untung tak ada, saya lebih suka K-Pop, apalagi tariannya, begitu energik.” Timpal ibu Ratna. Karena suaminya bernama Jono, dia suka menulis namanya begini Bu Joon, biar kelihatan mirip nama Korea, katanya.

“Betul, coba dengan dengan saksama suara Jisoo yang personel BLΛƆKPIИK itu, bikin merinding, memang mengajak kita bergoyang.” Imbuh ibu Tiara.

“Jennie juga bagus.”

“Iya, semua personel BLΛƆKPIИK memang tak ada duanya…” Komentar ibu Tiara lagi.

Mendengar celotehan kami, Ummu Naurah menyodorkan piring-piring berisi pisang goreng yang masih mengepul.

“Silakan dicicip, ibu-ibu. Cuma pisang goreng polos, hehehe…”

“Wow, pakai sambal terasi, kan?” Tanya Bu RT

“Insya Allah, Bu.” Aroma terasi menguar dari mangkuk yang diangsur pelan oleh Ummu Naurah.

“Sedap ini. Pasti paten rasanya.” Seru ibu Tiara.

“Tapi tunggu dulu, kita belum tahu komentar tuan rumah nih, sukanya Hindustan atau K-Pop?” Lanjutnya.

Ummu Naurah hanya tersenyum mendengar tanya ibu Tiara, namun tidak demikian dengan peserta arisan, mereka mendukung rasa penasaran ibu Tiara.

“Ayo Bu Hilwa.”

“Ayo Ummu Naurah.”

Suara-suara mengepungnya, semua menuntut ingin mendengar komentarnya pilihan selera musik tetangga-tetangganya. Ummu Naura menarik nafas panjang, menegakkan punggung, lalu menatap satu persatu peserta arisan yang mulai terdiam melihat reaksinya.

“Baiklah…” Suara Ummu Naura memecah kebekuan suasana, peserta arisan kembali riuh.

Baca juga :  Kematian

“Saya tak begitu bisa menikmati hiburan dari Hindustan maupun Negeri Gingseng.”

“Bu Hilwa tak suka hiburan?”

“Ummu Naurah tak pernah dengar lagu atau nonton drama?”

Ummu Naurah membiarkan suara-suara tetangganya tersapu kesiur lembut angin sore yang menelusuk lewat pintu belakang yang dibiarkan terbuka untuk mengganti fungsi kipas angin yang tak tersedia di rumahnya.

“Naurah, coba ke sini, Nak.” Seorang anak perempuan berusia sepuluhan tahun keluar dari satu-satunya kamar tidur di rumah itu, langsung duduk di depan ibunya. Tangannya langsung meraba lalu menangkap jemari kaki ibunya. Dia tuna netra.

“Kenapa Ummi, Ummi mau dipijit?” Tanya Naurah, lirih.

“Tidak, Nak. Ummi butuh hiburanmu, seperti hari-hari sebelumnya. Teman-teman ibu mau tahu seperti apa hiburan ibu.” Ummu Naurah meremas jemari anaknya, lalu tangan kanannya beranjak mengelus kepala Naurah yang berbalut jilbab hijau tosca.

“Ibu-ibu, keluarga kami memang tak pernah nonton sinetron atau drama, sebab bagi kami, hidup kami sudah merupakan drama, kami cuma menjalankan peran yang diperintahkan Allah.” Suara Ummu Naurah bergetar, suara-suara tetangganya lesap.

“Ayo Naurah, Ummi lagi letih, dihibur ya.”

“Iya Ummi….”

Setelah hening sejenak, mengambil nafas panjang, terdengar suara Naurah mengalun melantunkan Surah ar Rahman. Semua terdiam, tak ada suara, hanya kesiur lembut angin sore yang menelusuk lewat pintu belakang terdengar lebih nyaring. Suara Naurah masih mengalun, menjelma tetes-tetes air, mengembun di sudut mata ibunya.

Kasman McTutu. Pegiat Komunitas Pena Hijau Takalar dan Makassar Book Review.

NB: Cerpen ini diikutkan dalam lomba menulis cerpen bertema #SUARA yang dilaksanakan oleh Penerbit Ellunar, dan ikut dalam kumpulan Gemercik terbitan Ellunar, silakan memesan di: Ellunar Shop

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!