SASTRA

Cerpen: Kamisan

Oleh: Melki AS.*

CERPEN, EDUNEWS.ID – Hujan gerimis malam ini tak lekas jua berhenti. Terhitung sudah setengah hari lebih, mulai jam 1 siang sampai setengah sebelas malam, gerimis masih saja bercucuran. Tapi memang sudah dua hari ini Jogja turun hujan. Kadang deras dan kadang hanya rintik rintik. Jas hujan menjadi laku meskipun itu hanya terbuat dari selembar plastik tipis yang kadang mudah sekali robek saat dipakai. Sesekali, senyum penjual jas hujan merekah. Bibirnya mengembang saat para pengendara terjebak hujan dan kemudian mau tak mau singgah di warungnya walau hanya sekedar berteduh. Tetapi ada juga beberapa pengendara yang sepertinya tak menghiraukan adanya hujan. Mereka tetap saja melaju. Bahkan tancap gas terus meskipun sekujur tubuh berbasah kuyup. Mungkin mereka sedang terburu-buru atau memang jarak tempuhnya yang tinggal sedikit lagi, sehingga tanggung untuk singgah diluar. Jadi, sekalian berbasah dan sekalian mandi ketika sampai dirumah. Hanya aku dan Ahmad saja yang masih saja berteduh sambil menunggu ketidakpastian kapan hujan mereda.

Sesekali aku menepuk pundak guna menghalau nyamuk yang menggigit. Tetapi, sebanyak halauan yang kulakukan, tetap saja banyak yang tergigit. Apalagi saat warung yang kami singgahai untuk berteduh tersebut sudah mulai mengemas-kemas barang untuk dimasukan ke dalam. Dan seketika lampu pun sirna bersamaan dengan digemboknya warung tersebut. Kulihat di pojokan warung yang sudah reot tersebut, Ahmad semakin mengencangkan jaketnya. Mungkin tubuhnya mulai merasakan dingin. Atau justru juga untuk menghindarkan gigitan nyamuk yang semakin merajalela.

Sesekali ia menarik nafas yang panjang. Sesekali juga ia mengeracau tak jelas. Kadang ia memaki seseorang. Kadang ia memaki banyak orang. Pokoknya yang dibicarakannya malam ini adalah kata kata caci makian saja. Hal ini sudah dimulai sejak sore tadi. Sejak kami baru saja pulang dari aksi kamisan. Saat singgah di warung makan padang, omongan yang keluar dari mulutnya adalah caci makian. Saat sampai di kos ku, hal yang di omongkannya pun sama saja. Dan sekarang, saat mengantarnya pulang, sepanjang jalan dia terus saja memaki. Kini, saat berteduh menghindari hujan, lagi-lagi dirinya mengeluh dan memaki-maki banyak orang. Tampaknya ia benar-benar kesal hari ini. Raut wajahnya sejak sore tadi memang sudah terlihat murung dan capek sekali. Rambutnya yang biasanya klimis, sejak kami berangkat untuk aksi, sudah terlihat teracak-acak. Mungkin saking kesalnya, dia menggaruk-garuk kepalanya sendiri. Untungnya, Ahmad tidak merokok. Jadi sedikit hemat dengan keuangan. Berbeda dengan diriku yang perokok. Setiap ada persoalan, pasti rokok menjadi pelampiasan. Bisa saja hanya sekali duduk, sebungkus rokok bisa habis dihisap tak henti.

Baca juga :  Hujan

“Dirimu kenapa Mad? Kulihat dari tadi kau terus saja ngoceh-ngoceh tidak jelas gitu” aku coba tanya ke Ahmad tentang soalan yang dia hadapi.
“ Itu lho, lihat kan aksi kita tadi “ Ahamd sambil memperlihatkan foto-foto di hapenya.
“ Terus kenapa dengan aksi itu? Bukannya kita sudah sering begini. Santai sajalah coy “
“ Tidak seperti itu, Bung. Mereka ini munafik. Ngakunya saja aktivis, pegiat HAM, dan lain-lain. Tapi saat di ajak aksi pada malas semua. Pada gak ada yang datang”
“ Ya kita kan juga tidak bisa memaksa mereka toh. Mungkin mereka juga punya alasan untuk tidak gabung “ jawabku sekenanya.
“ Haallaa…..alasan opo? Opo..? Taeek semua itu. Klise semua alasan mereka itu “ Ahmad semakin geram. “ Gaya-gayaan saja mereka itu seperti aktivis. Biar dilihat orang sebagai mahasiswa atau pejuang yang peduli pada persoalan rakyat. Dan ketika bertemu orang-orang, berharap dapat pujian. Padahal jangankan memperjuangkan persoalan yang dialami masyarakat, di ajak aksi saja mereka lebih memilih tidur. Dasar asu. Ngakunya masih ada kuliah, ada praktek dan lain-lain kalau diajak aksi. Asu kan kalau begitu “ ahmad bicara dengan nada tinggi.

Baca juga :  Puisi-puisi Ahmad Arham

“ Sabar dulu coy. Tidak usah juga terlalu keras-keras ngomongnya. Ntar yang punya warung kebangun pula “ sambil aku menenangkan ahmad yang terus ngoceh dengan keras. “ Klise yang kau maksudkan itu seperti apa? “ tanyaku sambil menyumut rokok.
“ Klise namanya kalau hanya alasan seperti itu. Semua orang juga tahu kalau di Jogja ini kebanyakan isinya adalah mahasiswa. Artinya kalau mau beralasan, mbok ya yang sedikit masuk akal dong. Kalau hanya bilang ada kuliah, ada praktek dan lain-lain, itu justru bukan alasan. Itu bisa diatasi. Akupun juga kuliah kok. Bukan mereka saja yang kuliah “
“ Trus menurutmu, mereka kon ikut kabeh dalam aksi kamisan ini? “
“ Ya setidaknya jangan terlalu jauhlah perbedaannya antara omongan dan apa yang bisa di perbuatnya Bung. Jangan ngomong saja yang jago, seolah-olah rasa empatinya terhadap persoalan rakyat ini tinggi sekali. Tapi saat di ajak aksi pada gak bisa terus-terusan “ jawab ahmad.
………….

Aku diam saja sambil mendengarkan Ahmad yang terus mengeracau. Ini sengaja kudiamkan biar dia merasa puas saat unek-uneknya tersalurkan semua. Pernah dalam suatu waktu yang berbeda, dia juga terus mengeracau seperti ini. Lama kelamaan dia sendiri yang bosan dan kemudian berhenti. Sambil menunggu hujan reda, sesekali aku melihat jam di tangan. Gila, hampir setengah dua belas hujan belum juga reda. Andai saja kos Ahmad tidak begitu jauh, maka kutembus saja gerimis ini. Tapi persoalannya kos Ahmad ini jauh sekali. Bahkan sudah keluar dari ring road. Meskipun gerimis, tapi kalau sampai ke kos nya, tetap saja basah kuyup.

Baca juga :  Anggota IGI Bantul Menangkan Lomba Menulis Cerpen Festival Geopark Gunung Sewu

Ahmad tetap saja mengeracau. Tampaknya kali ini memang panjang daftar unek-unek yang mesti disampaikannya. Bahkan, satu persatu mulai keluar nama-nama seseorang yang ingin dimakinya. Ada Santi, Kadi, Shely, Andre, Tomo, Rofik, Rasus, Surya, Antin, Dasih, dan masih banyak lagi. Memang nama-nama seperti yang disebutkan Ahmad ini terlihat jarang terlibat dalam aksi secara langsung. Mereka ini juga aktivis. Bahkan ada yang mendaku diri berideologi kiri. Saat ada rapat-rapat dan pertemuan, orang yang di sebut Ahmad ini biasanya hadir. Mereka kadang terlihat lihai bermain logika dan teori.

Tak jarang teori-teori dari pemikir barat meluincur dari obrolan mereka. Mulai dari Karl Marx sampai teori konspirasi. Mulai dari revolusi Francis sampai bentrok antara petani dan tentara yang terjadi di Urutsewu Kebumen.
Bahkan tak jarang, dalam diskusi , debat atau forum tertentu yang membahas soal-soal yang terjadi di masyarakat, orang yang disebut-sebut Ahmad dengan caci makian ini tampak mengutuk pelaku yang menyebabkan rakyat sengsara. Mereka bahkan berkali-kali di banyak tempat mengatakan kemarahannya dan kutukannya bagi pelaku agar segera menghentikan apa yang dilakukannya pada masyarakat. Kalau tidak, maka mereka akan menggalang dukungan massa yang lebih luas lagi. Nah, dititik inilah Ahmad menjadi orang yang tak habis-habisnya mengeracau, berbicara ngalor ngidul. Karena baginya, disini terjadi hipokrisi yang jelas-jelas tampak di depan mata. Apalagi, Ahmad juga kerap berdiskusi berbarengan dengan mereka. Jadi jelas bagaimana sebenarnya sikap dan karakter mereka yang mengaku sebagai aktivis tersebut. Aktivis bibiran, yang pandai berolah kata tetapi minim tindakan yang dilakukan.

Advertisement

Menurut Ahmad bagaimana bisa mereka berkata ancaman dan mengutuk seseorang lainnya yang berbuat jahat ke rakyat, sementara mereka sendiri jauh panggang daripada api. Alias mereka tidak bergerak sama sekali saat melihat persoalan yang terjadi di depan mata mereka secara langsung. Sehingga tak heran, Ahmad dalam ocehannya yang ngelantur tersebut bahkan menempeli mereka dengan label aktivis artis, manusia yang mendaku agen sosial tetapi haus popularitas layaknya pesinetron yang tiap malam tayang di tipi. Bagi Ahmad ini hal yang menjijikan. Lebih hina dari kotoran itu sendiri. Lebih bejat dari pelaku kejahatan yang sesungguhnya.

“ Apa yang harus kita lakukan untuk mereka yang hipokrit ini Bung? “ Ahmad membuka tanya padaku yang sedang asyik menyeruput rokok.
“ Lha katamu mereka itu artis, tukang sandiwara, pandai bermain peran termasuk peran keberpura-pura-an “ jawabku sekenanya.
“ Ya itu, memang mereka ini ngomong saja kepandaiannya. Selebihnya semuanya adalah sok-sok saja. Sok bersimpati, sok berempati, sok care saja terhadap suatu peristiwa “ Ahmad kembali menimpali. “ Turun langsung ke lokasi kejadian semuanya pada menolak. Jangankan ke lokasi peristiwa, ikut aksi saja mereka ini ogah-ogahan.

Seharusnya sesekali kita bisa skakmat orang-orang seperti ini. Biar mereka berpikir bahwa dalam memecahkan masalah yang dialami masyarakat, tidak bisa selesai dengan nyocot, nyangkeman wae “ Ahmad meneruskan ocehannya.
“ Kau mau men-skak mereka seperti apa? “ tanyaku.
“ Patahkan saja argumen-argumen mereka saat sedang diskusi atau debat dalam forum-forum itu. Bilang saja dengan tegas dan lugas bahwa masyarakat tidak sekedar butuh teori atau doa-doa saja. Tetapi butuh support langsung seperti datang ke lokasi peristiwa, melihat lagsung korban yang jatuh atau sekedar aksi untuk memblow up berita peristiwa tersebut ke khalayak ramai “
“ Terus, semisal dirimu sudah bilang begitu, lalu apakah dirimu yakin dikemudian hari mereka akan aktif dalam aksi-aksi, termasuk seperti kamisan yang kita lakoni ini? “
“ Ya Wallahualam. Mudah-mudahan saja mereka sadar. Mudah-mudahan mereka sadar bahwa perjuangan fisik itu punya peranan besar dan penting. Mana ada imperium kediktatoran penguasa yang berkiblat pada paham kapitalisme dan liberalisme bisa ditumbangkan kalau hanya dengan kata-kata doang. Mustahil itu Bung. Mustahil “ Ahmad sambil menggebuk tiang warung yang reot tersebut.
“ Hahaha…gayamu sudah kayak kamerad saja. Apa apa kapitalisme. Apa apa liberalisme. Apa apa feodalisme “
“ Nah ini. ini nih yang akhirnya kebanyakan teori. Pasti bung mau bilang apakah saya sudah baca buku tentang apa yang dimaksud dengan kapitalisme, liberalisme, fodalisme dan entah apa lagi namanya itu, kan? Pasti arahnya kesana “ Ahmad tampak kesal. Sesekali dia menepuk pipinya yang digigit nyamuk sambil menghalau nyamuk yang berdengung disamping telinganya.
“ Bagi saya, teori itu bisa dihadirkan belakangan Bung. Mana mungkin mengajak masyarakat yang taraf pendididkannya hanya sebatas SMA untuk berbicara atau menelan dulu teori sebelum bergerak. Bisa keburu matek masyarakat ini kalau harus seperti itu “ Ahmad terus mengoceh. “ Yang penting itu, masyarakat bisa segera bertindak sebelum persoalan semakin rumit. Tentunya hal-hal yang bersifat logis diutamakan “.
“ Siapa juga yang mengatakan bahwa masyarakat harus menelan teori dulu. Itu asumsi mu saja terhadapku, Mad. Sungguh terlalu, sadis dan kejam…hahahaha….. “ jawabku sambil bercanda.
“ Bung, sudah seharusnya masyarakat ini diajak bergerak secara langsung, sekalian belajar tentang apa itu kapitalisme, liberaisme, feodalisme dan lain-lain. Bangsa ini sudah terhisap habis sama hukum produksi kapital. Sejarah bangsa ini sudah dimanipulasi sedemikian rupa menjadi kesadaran semu yang baru. Buruh, tani, bahkan sumber daya alam serta sejarah kita sudah juga terhisap oleh imperialisme dan kolonialisme melalui penindasan ekonomi politiknya. Pemuda seperti kita ini seharusnya bisa menjadi tonggak kokoh melawan itu semua. Dengan apa? Ya dengan terjun langsung. Sudah saatnya teori dan praktek menemukan titik didihnya bersamaan sehingga melahirkan kobaran-kobaran perlawanan yang besar membara. Respublika, Bung tentu masih ingat saat kita di Rakyat Kuasa, bahwa secara sosiologis, hanya kita ini tenaga yang tersisa dan tersedia di tengah pemimpin-pemimpin hipokrit serta partai yang opportunis. Secara filosofis, kita adalah tenaga inti revolusioner di tengah suburnya agama dan ideologi ketidaksadaran serta budaya dan pengetahuan pembodohan. Kita ini satu-satunya tenaga yang tersedia untuk melawan dan menghentikan dominasi dan kesadaran hegemoni kesadaran kaum penindas atas mereka yang tertindas sehingga rantai pembodohan dan pemiskinan rakyat dapat segera di hancurkan. Terjun secara langsung Bung. Sekali lagi secara langsung. Jangan tergoda dengan rayuan politis dan sebagainya. Karena partisipasi politik seperti pada pemilu, itu hanyalah artifisial sejarah saja Bung. Meskipun itu dilakukan secara langsung, umum, bebas dan rahasia. Nah, dengan melihat keadaan seperti saat ini, sebenarnya kita hanya punya dua pilihan kemungkinan dalam perjuangan, yaitu maju atau hilang untuk selamanya. Untuk hal ini, saya rasa bung lebih paham itu “ Ahmad menjelaskan panjang lebar.

“ Lha itu tadi katanya masih butuh teori juga. Lalu untuk apa kita melakukan skakmat ke mereka kalau toh juga butuh asupan teoritis dari mereka? “ lagi-lagi aku menjawab sekenanya sambil menyambung rokok dengan bara puntung yang hampir habis.
“ Maksudku tidak sekejam itu juga Bung. Aku itu maunya mereka itu mbok ya ikut turun lah saat aksi kamisan itu. Bahkan bila perlu ikut sesekali ke lokasi peristiwa. Biar juga merasakan seperti apa penderitaan orang yang tertindas tersebut. Tidak lantas berselancar diatas teori terus-terusan “ Ahmad tampak mulai kesal dengan jawabanku yang terkesan membosankan. “ Ah..tapi baiknya Bung antar saya segera. Mumpung gerimis sudah reda “
“ Nah itu dia, ku tengok lama kali dirimu ngoceh tadi. Padahal gerimis sudah reda dari setengah jam yang lalu. Aku pun sebenarnya bukan tidak mau menanggapi ocehanmu. Tapi aku keburu ngantuk menunggu selama berjam-jam disini. Sudah jam satu malam lewat ini. Lekaslah, kita langsung cabut “ jawabku sambil merogoh kunci motor dalam saku jaket.

Lalu tidak berapa lama, suara knalpot besar tampak meraung-raung. Dan kami akhirnya melaju. Setelah selesai mengantar Ahmad, aku pun langsung cabut pulang ke kos. Rasa kantuk sepertinya sudah tidak bisa dibendung lagi. Apalagi sedari siang kami memang belum istirahat pasca menggelar Aksi Kamisan.

Melki AS. Pegiat Social Movement Institute (SMI) Yogyakarta.

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com