SASTRA

Cerpen : “Kipas Tua”

 

Cerpen : “Kipas Tua”

Malam ini panas.

Bunyi kipas tua terdengar aneh, sepertinya pengaruh debu dan rambut yang bertengger di sana. Maklumlah sudah bertahun- tahun kubawa berkelana.

Awalnya kipas  ini kubeli di Yogyakarta waktu masih mahasiswa, setelah wisuda merantau ke Kalimantan, lalu ke Batam dan terakhir di Makassar. Sebenarnya kipas tua ini sudah sering kumasukkan kebengkel.

Keajaiban akan selalu datang pada orang yang tepat. Mungkin saat ini berada dipihakku,  tapi sebaiknya kipas tua ini kutimbang saja biar duitnya beli sayur atau kupajang saja di Gudang.  Entahlah, malam ini aku  semakin naik darah dan terganggu dengan suaranya. Kupingku panas dan mataku mau loncat satu per satu. Kalau kipas ini kumatikan pasti  kamar akan menyamahi panasnya Neraka Jahannam. Biarlah aku tetap sabar, sabar menunggu sampai mata terpejam.

Aduh kenapa cobaan datang di jam segini, orang lain diluaran sana pasti sudah enak tidurnya, menikmati mimpi dengan  sang pujaan hati. Tak seperti diriku  kembali memikirkan kipas tua yang tujuh tahun masih setia denganku. 

Seketika aku mengintropeksi diri yang sudah umur 27 tahun tapi belum ada yang setia lalu ajak  menikah. Kekhawatiranku semakin bertambah jika aku tutup usia dan tidak merasakan  nikmatnya surga dunia.

“Padahal aku ingin menikah  dan punya anak laki-laki kembar. Aduh gimana ini, apa yang mesti kulakukan?” Aku bertanya pada diri sambari menatap tajam ke arah kipas tua.

Kenapa dulu saat lelaki pilihan ibu, kutolak padahal dia lulusan terbaik S2 di Makassar dan kaya raya. Kini penyesalanku mulai membayang. Andai aku menikah saat itu, pasti sekarang aku bahagia dan tidak usah capek merantau jadi pekerja.

Ada alasan tidak mengiyakan  permintaan ibu. Saat itu aku pernah berjanji menikah setelah kerja dan punya penghasilan. Biar bisa mengurangi sedikit beban di pundak ibu yang selama ini jadi tulang punggung.

Padahal ibu tidak pernah menuntut anak-anaknya jadi pekerja.  Saat ini aku sudah bahagia karena sudah kerja sesuai dengan hobi. Tapi kesepian di rantau semakin perih. Apa-apa dilakukan sendiri dan itu membosankan ternyata.

Entah kenapa ibu dan kakak di kampung aktif sekali bertanya lewat telepon kapan nikah. Aku selalu menjawab belum ada yang cocok. Padahal sebenarnya soal pasangan aku pilih-pilih orangnya. Lagi pula saat ini tidak ada satupun yang dekat. Aku mengambil cermin, menatap raut. Memang kuakui wajahku jelek. Seharusnya tak pantas milih-milih soal pasangan.

*****

Hari ini aku masuk kantor terasa berat, ngantuk dan tidak bersemangat.

“Hay pagi tante, kok muram rautnya sih?,” tiba-tiba Rara  menepuk pundaku dari belakang.

Aku kaget dan  memilih menutup mulut.

Rara adalah sahabat karibku. Ia berasal dari Solo. Kini kami sama-sama jadi pekerja. Orangnya coplos dan suka   ngambek.

Kesal sekali sama Rara. Ingin sekali kucekik lehernya.  Bagaiamana tidak, selama ini kalau bertemu di depan umum atau lagi kumpul dengan sesama pekerja. Rara selalu saja menyapa aku sapaan tante, mungkin  kerena umurku lebih tua darinya.

“Wah kok diam sih? Ada masalah apa. Coba cerita,” kata Rara sambari menatap mataku.

“Tidak Ra, aku hanya lelah sendiri,” kataku melemas.

“Haaaa, jangan gitu tante. Pasti lagi mikirin jodoh ya. Tenang saja pasti kubantu. Nih aku punya teman, ia cowok, gagah dan kerja di BRI. Tapi gayanya seperti ustad gitu. Menurutku kalian cocok deh. Apalagi bagus lah kalo punya suami tahu soal agama,” ujar Rara sambari meletakkan hapenya di meja.

Terlihat  foto lelaki yang di maksud Rara. Lelaki itu tersenyum memegan buku.

Aku mulai semangat saat melihat foto lelaki yang dijelaskan Rara, kepadaku.

“Ini namanya kak Irham, baik orangya sih, punya jiwa sosial. Kak Fausi mau?,” tanya Rara kepadaku.

“Aduh Rara, kenapa nanya sama aku sih. Kan malu jadinya. Kalau aku mau belum tentu Irham juga naksir,” kataku.

“Wah jangan khawatir, gimana kalau nanti malam kita ketemuan di  Pantai Losari. Biar kak Irham ikut, kan  kalian bisa ngobrol bareng,” Rara menaikkan alis kepadaku.

Aku hanya mengangguk.

***

Malam telah tiba.

Terlihat pemuda pemudi berlalu lalang di Pantai Losari. Aku memakai costum yang sederhana,  dan make up sederhana. Siapa tau dengan gaya seperti ini Irham bisa menaruh hati kepadaku. Apalagi kata Rara, lelaki yang akan kujumpai ini gaya ustad pasti tidak suka perempuan make up berlebihan. Aku cukup bahagia  campur  waswas, khawatir jika  foto Irham tidak persis dengan aslinya. Pasti aku kecewa yang dapat malam ini. Ahhh semoga aja tidak.

“Ra, mana Irham kok belum datang?,” kataku pada Rara .

“Iya tunggu, katanya ia  sedang di jalan bentar lagi sampai kok,” tuturnya.

Aku hanya meneguk air ludah, sambari menatap  bintang spika di Cakrawala.

“Assalamualaikum. Kalian sudah lama menunggu,” terdengar nada lembut dari arah Selatan.

“Walalaikumsalam. Aku dan Rara berjamaah menjawab.

“Wah sudah datang rupanya kak yang gagah ini. Kenalin ini Fausi kawanku yang pernah kuceritakan waktu itu. Ya udah kalian kenalan dulu ya!,”pungkas  Rara, tersenyum  lalu memilih menjaga jarak.

Hatiku berdebar, saat melihat bola mata Irham yang sayu, bibirnya tipis, dan lebih mancung dariku. Aku memilih terdiam. Aku suka.

“Wah dimana kerja?” tanya Irham kepadaku. Sambari duduk di depanku.

“Di suatu intansi, tapi kamu tidak perlu tahu,” aku jawab rahasia.

“Okey deh tak apa. Bisa bagi nomor kontak?,” katanya.

Aku mengiyakan.

Pukul 22.00 Wita. Aku menguap, mata sudah lengket. Namun perbincangan kami tetap berlanjut.

***

Waktu berputar lebih cepat, entah kenapa Irham selalu mengajakku jalan setelah pulang kerja. Kami sering berjumpa, makan bersama. Ia orangnya baik, selalu mengingatkan  salat. Aku mulai jatuh cinta padanya. Tapi dua pekan ini ia belum mengatakan suka padaku. Ah rasanya perkenalan kami sia-sia.

Hari ini aku berusaha apatis dan lama read pesannya di whatshapp. Aku lelah dengan keadaan seperti ini. Mencintai  tidak pasti hanya memperparah hati.

Tiba-tiba hapeku berdering. Ternyata Irham menelfon. Aku malas mendengar suaranya hari ini. Namun panggilanya berulang kali. Pusing kalau kayak gini. Akhirnya kuangkat. Meski sebal, aku tetap rindu dengannya.

“Assalamualaikum, ada apa kok menelfon,?” Kataku.

“Walaikumsalam, kenapa lama balas, bagaimana kabar?” Kata Irham.

“Baik,” nadaku melemas.

“Ada sesuatu yang perlu kusampaikan Fausi. Tapi aku belum bisa menemuimu. Pekerjaanku menumpuk. Ini soal hati,”katanya.

Aku menutup mulut. Lalu membuka mata lebar-lebar.

“Aku ingin mengajakmu ta’ruf. Insya Allah, tiga bulan kemudian aku akan menemui orang tuamu,” nada Irham pelan.

Aku kaget, keningku penuh dengan butiran keringat. Jantungku berdetak lebih cepat.

“Kamu  tidak  mimpi  ngomong kayak gitu sama aku?. Padahal kita baru saja kenal,” kataku.

“Aku serius Fausi,” ujar Irham.

“Hhhhum, Insya Allah. Aku tunggu kedatanganmu menemui orang tuaku,” kataku lalu menutup telepon. Bibirku bergetar. Aku bahagia.

Tak terasa memasuki bulan kedua menjalani ta’ruf dengan Irham. Bulan depan aku akan menikah.

Aku mulai mempersiapkan undangan dan pakaian baju pengantinku. Kabar bahagia ini sudah kusampaikan kepada Ibu dan keluarga di kampung, termasuk Rara. Mereka merestui. Ternyata doa-doaku selama ini, Tuhan telah mendengar.

Baru kali ini aku persis orang gila. Gila jika sehari tidak mendengar suaranya. Sudahlah, sebagai calon istri harus selalu berfikir positif. 

Saat ini aku terlalu kepedeaan bahwa Irham adalah hamba Allah, yang dikirim untukku sebagai  teman seranjang. Ia terlalu baik dan memang kuakui  hatinya hanya untukku.

Malam ini hatiku terasa perih, aku mencoba menghubungi Irham tapi tidak ada respon, begitupun  pesanku di whatshapp belum diread. Aku kesal dan memilih untuk tidur.

***

Aku mulai tidak konsentrasi dalam bekerja. Aku menyalahkan hati terlalu mudah mencintai, kalau sudah begini susah mengobati rindu.  Sesekali aku membuka foto-foto kebersamaan dengan Irham. Aku benar-benar rindu.

“Hum kenapa muram gituh sih,” Rara tiba-tiba memegan pundakku.

“Aku bingung dengan Irham. Akhir-akhir ini jarang  sekali merespon panggilanku dan kalau memang ia sibuk, yah bilang,” kataku.

“Ia mungkin Irham sibuk jadi tidak sempat pegan hape atau lagi sibuk persiapan pernikahan kalian,” jawab Rara.

“Sesibuk apapun bekerja pasti buka hape baca chat, atau sengaja Irham tidak mau respon pesanku? Aku kesal padanya, atau udah ada perempuan lain di hatinya?,” kataku.

“Jangan berburuk sangka, tidak baik. Selusinya datang saja di rumah atau tempat kerjanya!,” jawabnya Rara sambari tersenyum.

Aku menaikkan alis.

Rembulan tak nampak, bintang spika pun tidak kelihatan. Malam ini aku melongo ke Cakrawala. Kepalaku pusing mau pecah. Aku merasa terbebani dengan pernikahanku nanti. Tinggal menghitung hari akan memasuki bulan kebahagian ataukah bulan di mana aku harus menanggung rasa malu. 

Malu jika Irham batal menikahiku. Aku terperangkap dalam jahitan kebencian.

“Irham, benar-benar kurang ajar,” batinku.

Kubuang tubuhku di atas kasur, melap ingus. Aku menatap ke arah kipas tua. Memang benar adanya, harus menerima kenyataan bahwa takdirku hidup sendiri. Tua bersama kipas tua.

Kamar Kos 24 Juni 2018

***

Tentang penulis

Nurwahidah Saleh telah menerbitkan novel Oleh Sebab Perjanjian Kakekmu, bebeberapa puisinya telah dimuat di Koran Go Cakrawala Makassar. Cerpen Pattiro Kanja dan Mantra Cenning Rara telah dimuat di Koran Tanjungpinangpos. Bisa bertukar sapa di Fb  Nurwahidah Saleh. WA 085 290 077 153

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!