SASTRA

Cerpen: Lahir

Oleh: Darah Mimpi*

CERPEN, EDUNEWS.ID – Bayangan hitam membentang di hadapan layar matamu. Berkaca-kaca bening menetes. Rambut yang kau minyaki tadi pagi diacak jemarimu. Kusut masai, wajah memasung perasaan bersalah seluas samudra. Kaki geram hendak mendupak langit. Tak mampu, mau kau berpikir sebuah solusi penderitaan adalah menelan bumi. Menerkam kehidupan, supaya sejenak nadimu sanggup lelap, melupakan maaf yang sengaja ditunda pada kesumat masa depan. Laptop di hadapanmu tak lagi berguna. Tugas kantormu bukan hanya kacau, namun sedang sakaratul maut. Diagram penjualan produk perusahaanmu merah.

Kerajaan pabrik yang kau dirikan bertahun-tahun merosot. Untung rugi menjadi nostalgia manis. Hari itu hanya ada kata bangkrut. Saham terjun bebas.

Beberapa karyawan kau PHK sesuka hati. Kartu kredit tak dapat lagi kau gunakan. Lusa, kau adalah lelaki yang suka sekali berfoya-foya. Kini, saat istrimu memperjuangkan cintamu dengannya, kau merasa tak sanggup berbuat apa-apa.

‘Maafkan aku! MAAFKAN AKU!’ Kau memukul meja. Kaca yang melembar di permukaannya retak. Telapak tanganmu berdarah. Acuh. Bahkan tak memperdulikan officeboy yang menghampirimu karena terkejut.
‘Ada apa, Pak? Ada yang sanggup saya bantu?’

“KELUAR!” Mata singamu melotot. Ia pun terbirit-birit menghindar dari dalam ruangan. Melanjutkan pekerjaan mengelap jendela kaca yang berdebu. Kau lempar telepon genggam yang ada di hadapanmu. Berserakan di atas lantai. Batrai dengan tubuhnya terpisah mengenaskan. Kau tetap acuh. Disusul laptop kau singkirkan. Melayang. Membentur lantai marmer.
‘Maaf!’

Langit di luar mulai menangis. Awan mendung meringis. Cuaca mengundang gerimis. Kau memangku tangan. Menelan getir yang tertahan. Menarik napas berat. Ruangan kerjamu temaram. Arsip-arsip dokumen di etalase memandangmu nyalang, memendam dendam. Lampu tak dinyalakan. Kini, kau berdiri, sebelum akhirnya membungkuk, mengambil ponsel malangmu, memasangnya kembali. I-phone 7 mu tak seharusnya menanggung derita yangada di dadamu. Barusaja kau sadar, bagaimana jika ada pesan berharga, sementara ponselmu tewas? Kau terlalu egois.

Marmer cokelat berkilat garis petir itu memotret wajah sendumu. Jantung yang ditusuk duri saat istrimu mengecup keningmu di depan pintu. Ia memegangi punggungnya. Lirih membisikkan kalimat di telingamu. ‘Sayang, buah hati kita akan segera lahir, kau harus bekerja lebih giat lagi!’ tuturnya. ‘Dari hasil USG, anak kita akan lahir perempuan, ia akan cantik sepertiku, belikan aku peralatan bayi perempuan ya? Aku sudah tidak sabar ingin menggantikan popoknya.’
‘Kita akan membelinya setelah ia lahir!’
Istrimu mengangguk tersenyum. Ia adalah bidadari istana di hatimu. Senyumnya yang menawan senantiasa membuat harimu dihiasi dengan larik-larik lentera kebahagiaan. Kau selalu mengabadikan setiap tarikan bibirnya di meja kantormu. Kau juga jarang melupakan lesung pipinya yang membuatnya bertambah manis.

Sayang, hari itu, hari terpahit yang membusukkan dadamu. Kau merasa bersalah atas tindakan yang seharusnya tak usah disalahkan. Tabunganmu terkuras habis. Selama ini uang kau hamburkan untuk membelikan perhiasan, mempercantik ornamen-ornamen rumah, membelikan istrimu beraneka ragam mobil, merekrut pelayan sebanyak-banyaknya. Kau tidak ingin istri tercintamu kelelahan. Kau penuhi semua fasilitas yang ada di rumah. Hingga kau lupa, bahwa harta pun akan habis. Perusahaanmu terjerembab. Sulit bangkit.

Kandungan di perut istrimu menua. Sebentar lagi lahir. Sementara kau tak mempunyai apa-apa. Bahkan kartu kredit dan tabungan kau anggap tak mampu membantumu. Tersisa uang dua puluh juta di ATM. Apakah cukup untuk biaya persalinan! Waktu paham kau tak mempunyai kartu BPJS seperti orang-orang miskin pada umunya. Hidupmu sangat bergelimpangan harta. Bahkan kau tak pernah memperdulikan kata asuransi. Hangus sudah hartamu. Kemiskinan nyaris mencekik urat lehermu. Semakin stres kepalamu mengingat, tadi pagi istrimu mengeluh punggungnya sakit.

‘Halo, Doni!’ Kau menghubungkan sebuah nomor. Berdiri, memandang jendela kaca. Lantai bawah, lima tingkatan dari ruanganmu. Kau dapat menyaksikan sebuah taman yang sendu. Bangku kosong. Parkiran sunyi.

Karyawan tinggal beberapa, maka, kendaraan yang ada di dalamnya dapat kau hitung dengan jemari. Tanganmu menyentuh kaca yang berembun. Lembab. Kau lukis sketsa wajah istrimu. Lantas tersenyum getir.

‘Ya. Ada yang bisa saya bantu?’
‘Belilah mobil saya!’
‘Anda menjual mobil? Untuk apa? Jangan bercanda, Pak! Ini tidak lucu!’
“Biaya persalinan dan perawatan bayi saya!’
‘Anda menjadi Ayah rupanya, sudah lahir? Kapan?’
‘Belum.’
‘Y asudah saya mau melanjutkan pekerjaan saya! Masih banyak pengunjung di kafe!’
‘Saya tidak bercanda Doni, beli mobil saya!’
‘Anda selalu memberi uang tip kepada writer kafe saya, bagaimana sekarang Anda hendak menjual mobil Anda?’
‘Saya serius! Saya ke kafe lima belas menit lagi.’
‘Baiklah, akan saya siapkan anggur spesial!’
Sambungan kau putus. Pesan baru masuk. Matamu terkesiap. Dinda.

Premaisurimu yang mengirim pesan. Jantungmu berdebar. Berharap bukan kabar buruk yang disampaikan.
Ctaaarrr! Petir menyambar. Kilat putih mengores di langit. Hujan menjadi-jadi. Parkiran basah kuyup. Taman mencekam. Bergegas kau raih jasmu. Mengambil kunci mobil dilaci. Lari menuruni tangga. Kau lupa bahwa ada lift di perusahaanmu. Pikiranmu sudah tidak fokus. Yang ada di otakmu hanya kata segera. Segera menemui istrimu. Tak kuasa kau bayangkan rupa perempuan yang kau cintai meringis kesakitan. Tentu sangat sakit, maka dilarikan ke rumah sakit. Harus.

Secepatnya. Loncat dua tangga, tiga tangga, terjerembab, bangkit lagi, napas tersengal-sengal, dasi melambai-lambai. Acuh. Jas yang tersampir di lengan jatuh. Acuh. Loncat empat tangga, kaki tertekuk. Sial! Kau mengumpat. Beruntung, tanganmu cekatan mencari pegangan, kau selamat. Kembali loncat. Dua tangga sekaligus.

‘Tuan, mau ke mana? Tangan Tuan berdarah!’ Karyawan di lantai bawah bertanya.
Lagi-lagi kau acuh. Berjalan fokus menuju pintu keluar. Melesat ke parkiran. Tak hirau ribuan hujan mengguyur kain yang kau kenakan. Rambutmu basah kuyup. Wajahmu disetubuhi airmata langit. Kau angkuh. Lupa tentang janji lima belas menit akan pergi ke kafe, menjual salah satu mobilmu untuk biaya persalinan. Lupa! Benar-benar lupa. Pesan yang beberapa detik kau baca lebih membuat jiwamu gentar. Kau tak pernah menghendaki kata hilang. Apa pun, nyawa taruhannya. Ini bukan perihal harta! Melainkan RUH! Azan asar melengking. Tak peduli dengan panggilan Tuhan. Yang ada di dalam pikiranmu hanya kata CEPAT!
***
“Dioperasi saja ya sayang, agar kau tidak merasakan sakit! Dokter akan membiusmu!’
Istrimu menggeleng. Ia menggenggam jemarimu yang kedinginan. Berkata lembut kepadamu. ‘Semuanya akan baik-baik saja. Aku ingin menjadi Ibu yang sesungguhnya, aku ingin melahirkan anak dengan normal!’
“Tapi itu akan membuatmu sakit, Sayang. Bagaimana jika kau kelelahan?”
“Tidak! Aku siap! Semuanya sudah Allah yang mengaturnya!” Istrimu membuat batinmu getir. Kau ingat setiap malam istrimu bersujud di atas lembaran sajadah, kau hanya melihat dengan keadaan setengah sadar. Istrimu, wanita itu yang selalu setia menunggumu pulang dari beranda rumah, duduk pura-pura tenang, lalu berdiri menyambutmu yang pulang dengan langkah limbung.

Aroma anggur ia cium, namun ia tetap tersenyum. Malam, tatkala kau rebah, perlahan ia turun dari ranjang, membenarkan letak selimutmu, lantas mengambil air wudu, bersujud. Merintih agar kau segera mendapatkan hidayah.
Pelan kau kecup keningnya. Bertambah perasaan sayangmu.

“Kau selalu membuatku nyaman bahkan saat aku membuat kesalahan, bagaimana sekarang aku tega melihatmu sakit karena memperjuangkan buah hati kita?’
“Sayang, gantilah pakaianmu. Nanti kau masuk angin!” Istrimu memperhatikan tubuhmu, lantas matanya terkesiap, ‘kenapa dengan tanganmu? Berdarah?’ Kata-kata khawatir yang membuatmu merasa semakin bersalah. Tak seharusnya, ya tak seharusnya tadi kau mengamuk meja kantor.

Kau meneteskan airmata. Istrimu menggigit bibir. Genggaman tangan terlepas. Ia memegangi punggung. Merintih. ‘Sakit!’

Suster lari terbirit-birit memanggil dokter. Kau bingung. Wajahmu pias. Selimut rumah sakit kabur. Tiang infus roboh. Tangan istrimu mencengkeram sembarang benda. Kini lenganmu yang menjadi pelariannya.
‘Aaaaa…. sakit! Punggungku serasa akan patah!’ Rintih istrimu. Kau hanya diam. Memandang tak tahu apa yang pantas untuk dilakukan. Panik. Namun jasadmu mematung, sebab kau tahu suster sedang memanggilkan dokter.
‘Bertahanlah, Sayang!’
‘Aku tidak kuat!’ Kata istrimu, ia seolah lupa dengan kata siap yang baru beberapa menit diucapkan. ‘Aku tidak kuat!’ kalimat itu diulang-ulang. ‘Mas, jangan tinggalkan aku!’ Kau menangis. Airmata meluncur deras. Bahkan kau terisak. Istrimu bertambah kuat mencengkeram lenganmu.
Dokter masuk. Membiarkanmu tetap di tempat.

‘Tarik napas, Bu!’ Dokter memberinya instruksi. Ia menyuruh istrimu membuka lebar kakinya. Siap memacu buah hati keluar. Ruangan be AC mendadak terasa panas. Peluh menetes di keningmu. Wajah-wajah tegang. Mertuamu masih di dalam perjalanan. Kau melihat dengan mata kepalamu sendiri, istrimu kesakitan, istrimu berjuang menyelamatkann kehidupan, berteriak, menjambak kepalamu, mengamuk tiang infus yang baru saja diberdirikan.

‘Bukakan ke tiga! Ayo, sebentar lagi kepala bayimu akan keluar, Bu! Tahan! Tarik napas, embuskan perlahan. Ayo, air ketubannya sudah pecah, ayo Ibu!”
Istrimu mengejan. Ia remas lenganmu kuat-kuat. Kau merasakan sakit akibat cengkeraman itu, namun batinmu lebih menderita melihat istrimu menjerit-jerit.
“Ayo Ibu! Bukakan lima! Kepalanya sudah keluar!’ Dokter memacu. Suster di sisi istrimu menggerakkan tangan naik turun, memberinya aba-aba agar mengatur napas dengan stabil. Tubuhmu lemas. Tak dapat kau bayangkan penderitaan seorang perempuan. Maka pada detik itu kau berjanji, berjanji akan mentaati perkataan perempuan, bukan hanya itu saja, kau juga akan memuliakan perempuan-perempuan yang berjuang keras mempertahankan perusahaanmu di kantor. Kau menanamkan tekad hendak mensejahterakan karyawan perempuan, menyamakan gajinya dengan lelaki. Lupa. Lupa bahwa perusahaanmu sedang bangkrut.

‘S.A.K.I.T.’ Istrimu mendesis lirih.
‘Sayang, kau kuat!’
‘AAAAAAAAAAA………………….. YA ALLAH!’
‘Bukaan ENAM!’
“TUJUH!” Dokter bersemangat!
“Ya Allah! Aku mohon kuatkan aku!” Istrimu terus mendesis. “AAAAAAA……’ Berteriak lagi. “Ya Allah,” Berdoa. “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……………….” kembali menjerit. Menerkam kasur erat-erat, juga lenganmu kuat-kuat. Keringat mengalir deras di keningnya. Wajahnya pucat. Ia tak berdaya, namun masih berusaha menyalurkan seluruh tenaga yang dimilikinya.

“Kepala keluar!”
Suara bayi menangis. Lega! Kau lega! Menangis haru. Mencium kening istrimu.
“Dua kali lagi, Bu!” Kembali istrimu mengejan. Kau bangga. Disusul bahagia. Airmata yang melukiskan semua perasaanmu.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa……………………..”
Sempurna. Bayi itu keluar. Tubuhmu gemetaran. Istrimu menatap sekitar ruangan lunglai. Lemas. Cengkeramannya terlepas. Napas berembus pasrah. Lantas matanya terpejam. Istrimu pingsan. Kau tercengang. Kebahagiaanmu hambar.
“Oeee…. oeee…”

Anakmu digendong suster. Istrimu tak sadarkan diri. Bahagia atau sedih? Perasaan macam apa itu?
“Bapak boleh mengumandangkan azan untuknya, istri Anda tidak papa, dia hanya kelelahan.” Kau tersenyum. Gemetar tanganmu menggendong anakmu yang pertama. Kau menangis haru. Takbir berkumandang dari mulutmu yang biasanya melumat anggur tiap malam.

Usai. Bayi dipindah ke ruang yang lain. Dibarut kain putih untuk menghangatkan tubuh. Kini aku mengingat sesuatu.
‘Halo, Doni?’
‘Saya menunggu Anda berjam-jam!”
‘Maaf, istri saya baru saja melahirkan. Jadi, bagaimana dengan pembelian mobil?”
“Anda serius?’
“Ya.”
“Saya belum melihat barangnya!’
‘Tidak usah mlihat barang, begini saja, saya hutang uang Anda untuk biaya persalinan dan pesta penyambutan anak saya,’
‘Berapa?”
“200 juta, transfer ke rekening saya, ya?”
Tampak lenguhan napas panjang di dalam ponsel. Kau memaksa, bukan, tepatnya mengemis. “Untuk buah hati saya! Anda tahu betapa besarnya perasaan bahagia saya? Saya akan merasa bersalah jika tidak merayakan pesta untuk menyambut kedatangan anak saya,”
****

Andaikan kau tahu! Waktu berdecak muram dengan perbuatanmu. Di bawah langit yang sama. Di dalam sebuah gubuk tua yang berdebu. Gelap. Tak ada pencahayaan kecuali larik-larik sinar rembulan yang menembus dinding berlubang. Seorang wanita setengah muda, mengangkat kakinya, di atas dipan kayu. Ya! Kau tahu? Realita memang sangat menyakitkan. Wanita yang sudah berumur itu berjuang mati-matian mengeluarkan hasil perjamuan cinta di malam hari tanpa sehelai serat kasur pun yang melembar di atas dipan. Penerangan pun nihil. Lampu minyak tergantung di dalam ruangan itu.

Sungguh benar-benar temaram yang menyakitkan. Menyesakkan dada. Suami yang selalu bekerja keras di siang hari dan beribadah di malam hari, belum diizinkan pencipta untuk mencukupi kebutuhan istrinya. Ia mengejan tanpa ada yang mengaba-ngaba. Tak ada yang tahu bagaimana rasa sakitnya saat kepala bayi merobek kehormatannya. Punggung dirasa akan terbelah menjadi dua. Ia menahan jerit. Suami mematung tak dapat bertindak apa-apa. Kau boleh menyebutnya dengan nama Slamet.

Tiga anak-anak yang sudah terlahir lebih dulu memandang ruangan iba. Temaram masih beruntung. Sekali lagi dipertegas tak ada pencahayaan neon. Bertambah dramatis angin berembus kencang. Dingin. Pintu rumah lapuk berderit. Tiga saudara saling berpelukan. Mereka bahkan tak sanggup memandang wajah Ibu yang sedang berjuang melahirkan adik. Pelan istrinya mendesis.
‘Sayang, panggillah bidan, aku tidak kuat, sakit!’

Slamet mengangguk ragu-ragu, membayangkan kantong bajunya kosong. Biaya akan mencekik urat lehernya, pekerjaan menjadi petani musiman yang bekerja di lahan orang lain membuatnya menelan air liur getir. Ia menggigit bibirnya. Ngilu perasaannya. Namun, ia tak mampu melanggar sumpah janjinya, bahwa setiap embusan napas yang dimilikinya tidak akan pernah meminta bantuan kepada seorang pun di dunia ini. Ia tak mungkin melanggar sumpahnya di hadapan Allah. Apa pun yang terjadi ia tidak akan mengemis dengan menampakkan wajah belas kasihannya. Airmata mengalir di pipi. ‘Demi Allah, hanya kepada-Nya aku layak meminta bantuan! Ya Allah, aku mohon, berikan kepadaku anak laki-laki agar suatu hari nanti ia dapat membantuku bekerja mencari nafkah!’

Dirimu? Kau lari ke Doni! Mengemis 200 juta! Lupakah Kau pada siapa yang telah menciptakan kehidupan di jantung Doni? Andaikan saja Ia berkehendak, menghangus leburkan harta di kafe-kafenya, tentu tak akan ada yang mampu kau perbuat! Mintalah petunjuk pada Tuhanmu! Bukan sahabatmu! Mengeluhlah pada-Nya! Ia maha penyayang lagi maha pemurah! Ketahuilah yang berharga dalam dunia ini bukanlah seberapa bahagia dirimu!

‘Assalamu’alaikum, Tuan! Kenapa nomor Anda sibuk? Berkali-kali saya hubungi pakai nomor rumah namun tidak juga tersambung. Ini saya, Bi Imah, Nyonya dilarikan ke rumah sakit. Sedari tadi dia menangis, mengeluh punggungnya sakit!’

Mendapatkan pesan seperti itu saja kau sudah kalang kabut. Padahal di rumah ada banyak pelayan yang menjaga istrimu. Ada pula Allah yang senantiasa melindunginya! Lupakah kau?
Slamet menangis. Dadanya membekap sembilu. Tiga putrinya iba. Ikut terisak. Namun ditahan. Bayangkan kau! Di tengah kegelapan! Hanya Tuhan yang berkuasa! Istrinya tenang, wanita itu merasa suaminya sedang berusaha mendapatkan lampu minyak ke tetangga sebelah. Kau tahu buktinya apa? Ada suara ketukan saat ia sedang mengejan. Kelu!

Mungkinkah tubuhnya menggeliat kesakitan seperti istrimu? Tidak! Kau tahu? Ia pasrah! Terus berjuang tanpa mengumpat keluh sakit. Perasaan ngilu di punggung, perut, juga kaki ditelannya dalam dada. Proses penglahiran buah hati malam itu tenang. Meski tak dapat dipungkiri bahwa wajah Slamet sembab. Airmata berderai. Ya Allah! Untuk menyediakan nasi di meja makan saja pas-pasan. Ia bahkan tidak punya keberanian untuk memiliki sebuah kasur tebal. Dirimu yang masih mempunyai tabungan beberapa juta. Memiliki karyawan berlimpah di kantor, ditambah pelayan di istana megahmu, masih kurang!

Demi Tuhan! Dzat yang menciptakan langit juga yang menghamparkan lautan. Wanita itu susah payah sendirian. Tak ada secuil nyawa yang membantu. Kartu BPJS tak dapat dipakainya sebab setiap bulan bukan jarang diisi, namun tak pernah mampu mengisi. Penghasilannya hanya cukup untuk membeli beras, itu pun lauk masih dikesampingkan.

Baik perlu kau baca ulang, ia melahirkan sendirian! Tanah lembab yang dingin! TIDAK MENGELUH! PASRAH! Jika lampu saja tidak ada, bagaimana dengan benda berharga lain seperti di rumahmu? Kulkas, televisi, hadphone, laptop, kompor gas, AC? Begitupun Slamet tabah! Ia tak segila dirimu, mengobrak-abrik harta dunia yang sudah rapi di tempat kerjamu. Meski dalam keadaan susah, ia tak berputus asa. Berdoa. Mengharapkan keajaiban. Lain dirimu! Kau bukannya berdoa, justru bingung dengan pesta duniamu. FOYA-FOYAMU menyambut buah hatimu!

Apakah ia tahu bukaan ke berapa? TIDAK! Apakah ia paham kapan air ketubannya pecah? TIDAK! Yang ia pahami ada basah mengalir pasrah, ada sakit yang dibiarkan menjarah. Hanya ALLAH yang tahu! Bahkan bisa kau tafsir, ia tidak memikirkannya lagi, yang terpenting anaknya keluar dengan selamat!

Satu nyawa lahir. Slamet tersenyum. Ia memanjatkan syukur. Membopong bayinya di tengah gelap. Tak mampu memandang wajah dengan langsung. Hanya tampak samar-samar. Tangisannya sangat membahagiakan. Istrinya menghela napas lega. Lukislah dirimu! Bagaimana penderitaan wanita melahirkan sendirian? lantas memotong tali pusarnya sendirian, dengan TANGANNYA!

‘Nisa!’ Slamet menjerit. Bibirnya bergetar. Lupakah ia dengan doanya meminta anak laki-laki? TIDAK! Ia tidak lupa, dan ia tetap bersyukur. Menerima pemberian Allah dengan lapang, ikhlas, tak ada guratan protes, wajahnya riang, meski dibungkus malam gelap gulita. Tubuh mungil itu, mengeliat di atas tangan Slamet tanpa sehelai kain pun.

Sungguh Slamet adalah lelaki yang sangat miskin! Ini bukan omong kosong! Catat dalam otakmu! Slamet lugu, yang taat ibadah itu bahkan tak dapat memanggilkan bidan atau dukun bayi untuk istrinya, ia tak mempunyai uang cukup! Bagaimana denganmu? Kurang apakah? Namun ia lapang! Ia menerima ikhlas! Tanpa harus mengobrak-abrik bangunan rumah, bukan! Tak pantas jika disebut rumah. Gubuk! Ya hanya sekadar bangunan pelindung dari hujan dan panas. Tak ada apa-apa di dalamnya kecuali wajah-wajah mereka yang kelaparan! TIDAK! RALAT! Mereka hanya makan secukupnya, saat lapar, mereka tak pernah menyebut dirinya kepalaran! Lain denganmu yang memandang anak-anak jalanan.

Sungguh mereka bukan anak jalanan!
Slamet adalah ayah Nisa! Oke, panggil nama anak mulia itu! Kelak kau akan mengerti.

Darah Mimpi. Bernama asli Titin Widyawati. Pernah menerbitkan beberapa buku dan gemar pula menulis puisi.

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2017 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!