SASTRA

Cerpen: Pemilik Emosi Abstrak

Oleh: Darah Mimpi*

CERPEN, EDUNEWS.ID – Aku membuka pintu, senyumnya yang dihadiahkan. Sungguh menakjubkan. Parasnya yang ayu diselimuti dengan rona kusut semalaman menenggelamkannya di bantal yang kumal. Rambutnya kacau. Bibirnya belum dipoles gincu serupa senja. Maka mentari yang hendak mengajak burung di langit mengepakkan sayapnya, tersenyum lebih riang dengan mencerahkan lenteranya kepada bumi. Sebuah kebijakan yang tak dapat diusir oleh zaman, serupa kebaikannya kali ini.

Ralat! Bukan hanya pada kali ini, namun juga hari-hari mundur yang kulalui. Aku tidak pernah lupa ia menanggalkan senyumnya di kotak laci almari hidupnya. Meskipun beribu daging tak bertulang menghujat juga mentertawainya di pinggiran hari, ia tetap menarik kedua belah bibirnya di awal hari. Sungguh menggemaskan. Rona pipi yang tak ditempeli jerawat. Kulitnya memang tidak seputih milikmu, namun ia cantik. Matanya tajam. Pakaiannya jujur tak strendi yang kaukenakan, namun lebih rapi jika kau hendak membandingkan dengan ribuan anak jalanan di Indonesia ini.

Ia jauh lebih baik. Ya! Seharusnya memang begitulah kesadaran waktu, sebab ia bukanlah salah satu dari bagian mereka. Ia jauh dari rupa jalanan. Lebih anggun dari penampilan orang-orang gila yang berkeliaran di pasar-pasar. Ia mempunyai santun dalam bertutur. Menundukkan pandangan dari kaum kumbang yang lebih banyak berhati curang dengan kecantikan perempuan. Potret figur mempesona yang kutemui dalam kehidupan. Hanya ia tak ada yang lain.

Ia memiliki emosi yang abstrak. Senyum menawan yang setengah lelap. Dan perhatian abadi yang tak pernah disadarinya. Pada dasarnya ia laksana lilin. Menerangi namun tidak pernah tahu jika tubuhnya terluka dengan jasanya.

Ia yang umurnya lebih tua dariku, 25 kepala tahun. Menyapaku dengan kuluman senyum yang tidak pernah berubah. Di ambang pintu berdiri mematung. Menatapku yang baru saja membuka pintu. Aku telah rapi dengan ransel di punggung. Baju formal hendak mengajak langkah menuju sekolah. Wajahnya belum berseri, tak ada cairan yang membasuh sisa kantuknya hari ini. Kau boleh berpikir bahwa ia bangun tanpa melipat selimut apalagi merapikan seprai dan bantal, ia justru langsung lompat ke rumahku. Memamerkan sederet gigi putihnya yang rapi.

“Raras, udah mau berangkat sekolah?”
Aku mengangguk.
“Kau sudah sarapan?”
Aku menggeleng.
“Adikmu sudah pergi?”
Aku mengangguk.
Kaki kutuntun keluar. Pintu kukunci. Aku menaiki sepedaku, menggayuhnya. Lantas berlalu meninggalkannya.

“Rara! Jemurannya dijemur? Nanti tidak kering!”
Aku menoleh, menatap wajahnya sekilas yang masih memperhatikan tubuhku. Gambaran menyedihkan tentangnya.
Pagi ini aku tidak mencuci.

Dimensi masalalu terhubung. Garis buram terlukis jelas. Ada kenangan yang terukir di waktu menjelang petang. Ia duduk di halaman rumah tetangga. Memetik bunga mawar yang tumbuh di pekarangan. Tersenyum usai menghamburkan kelopaknya. Ia lantas memutar tubuhnya. Senyum berubah menjadi tawa.Waktu itu ia amatlah mempesona. Bibirnya merah muda. Pipinya ditaburi bedak. Tak ada kusam yang membekas. Lensanya bening, lebih bening dari tetesan embun. Kaos dan rok serupa awan itu semakin membuat kulitnya yang bersih tampak berseri. Bigron langit yang oranye bertempur dengan jingga membuatnya tampak anggun. Aku menyebutnya gadis senja. Ia bertepuk tangan,atas sesuatu yang tak dimengerti.

Mengundang perhatian beberapa anak kampung yang hendak pergi ke surau, menyambut azan maghrib berkumandang. Mereka menyandang sajadah dan mukenah. Berdiri melingkari gadis itu. Tertawa mencemooh.

Hatiku berdesir. Perhatian itu terlukis dengan jelas. Ia yang tersenyum meski nada kalimatnya terkadang datar tak bergelombang dengan tanya. Kuhargai dengan ucapan terimakasih. Namun, apakah orang di luar mau memahaminya? Kau masih mengingat seorang gadis yang dianggap gila itu? Lihatlah ia bahkan tak pernah alpa mempedulikanku.
Sebagian pemikirannya dihuni dengan amarah yang tak dapat dijelaskan oleh waktu. Aku sering mendengarnya marah di pertengahan malam. Namun ia juga aktif membaca ayat Al-Quran dan membaca kitab-kitab pengajian.

Rajin salat. Bahkan pernah mengingatkanku untuk sujud di malam hari. Aku tahu saat ibunya pergi ke ladang orang, ia memasak makanan, menyiapkan lauk dan sayur dengan lengkap, meski sering diselingi dengan gurauan kepada angin. Rasionya normal setengah. Tuhan mengapa harus ia yang jelita? Kau rampas kesadaran dan senyum utuhnya! Tegakah engkau melihatnya ditertawakan oleh belia?

Tatakala puluhan anak berdiri memutari tubuhnya, bertepuk tangan dengan senandung cemoohan. Ia abai. Tak pernah mampu memahami penghinaan pada akalnya yang ditumpulkan takdir. Kawan, ia sosok yang hidup denganku. Yang setiap hujan berlinang dan jemuranku di halaman, maka ia akan buru-buru mengambilkannya. Memasukkan ke dalam rumah yang tak bertuan. Tulus tanpa mengemis imbalan atau pujian. Kawan, kau mungkin mengira ia adalah gadis yang tersenyum tanpa beban pada jejakku yang membekas di sudut perasaanmu lampau itu.

Bukan, Kawan! Ia gadis yang mengigit senyum dengan derita. Aku sering mendengar keluhannya menghantam waktu. Mengamuk di persinggahan malam. Berbicara asal-asalan. Mengumpat dan berteriak jika yang diinginkan tidak tersampaikan, bahkan jika sekadar lauk makan malamnya tidak sesuai, maka piring dibanting, Ibunya akan kebingungan, amarah meledak, rumah tetangga menjadi gaduh, menggaguku menuangkan perkataan emas dalam muntahan pena. Maka, janganheran, jika detik ini hanya sosoknya yang mengisi kepala bebalku, jika tak ada ide, kenangan senyumnya lebih bermakna daripada senja yang lebih kuagungkan keindahannya. Lantas mana mungkin ia yang pemarah di dalam gubuknya, mengambilkanku jemuran dengan riang? Memperhatikanku dengan perhatian yang sulit dimengerti? Ia pun lain dengan bocah autis yang hanya mampu menyeret kakinya. Ia lebih beruntung dengan kecantikan dan gerak fisiknya yang sempurna.

Hujan pernah membasahi jalanan yang berdebu, membuat aroma tanah menukik di penciuman hidung. Angin berembus sembarang. Daun-daun berguguran, sampah-sampah plastik berterbangan. Kemudian hujan turun deras. Mengamuk semua hening. Menelan canda anak-anak belia di pinggiran desa. Petani memetik daun pisang untuk memayungi kepalanya, langkah dituntun pulang. Pedagang berteduh di emperan pasar. Kuli gendong meringkuk kedinginan di toko orang. Siswa yang baru pulang sekolah terjebak macet di jalanan. Seragam basah. Tak ada yang dapat dilakukan selain menerabas hujan, sebab tak ingin membuat Ibu cemas menunggu di rumah.

Ya! Sebagian mereka berkorban, yang lain duduk dengan lawan jenis, menikmati waktu pedih menjadi romansa manis yang sukar dilenyapkan dari ingatan, kemudian sebagian pemuda memberi title romantis untuknya, hal yang tak pantas dijadikan perhatian rindu masa depan. Lebih indah manakah teori pytagoras yang dijelaskan guru hingga bibirnya basah dengan alur liur dengan teori kalimat gombal seorang kakak kelas? Maka takdir akan membalas tentu kata munafik itu!

Mungkinkah IA… sosok yang waktu itu terhuyung dari bangun tidur. Berlari serampangan menuju jemuran di sisi rumahku memahami kata romantis? Kenalkah dengan lawan jenis?

Aku baru saja pulang sekolah, memarkir sepeda merahku di halaman rumah. Hujan berderai-derai. Airnya muntah dengan ganas. Atap berisik. Kabut hitam legam. Kemejaku basah. Tasku basah. Jilbabku basah. Bibirku merah merekah dengan pita suara yang lemah. Aku berdiri pasrah memandanginya yang sibuk mengambil jemuranku. Memapahnya dengan lengan. Tak berkata-kata diam membisu. Kulirik jemuran di dekat rumahnya.

Pakaian adiknya basah kuyup dicumbui hujan. Sarung meneteskan air liur langit. Bantal yang bertengger di atas genteng diresapi air. Apa yang lebih berharga dari jemuranku ketimbang milik saudaranya? Ini nyata, Kawan! Aku tak mampu membedakan di mana letak akal gila dengan tidak gila! Di luar sana orang-orang menggosipkannya sinting. Argumen buruk disandarkan untuknya. Tak ada yang diajaknya berbicara. Bahkan Ibu pun tidak. Ia marah saat malam bertandang. Ia menenggelamkan wajah di atas sajadah ketika fajar menjelang. Kau berpikir aku penipu? Tidak! Aku tidak sedang mengelabuhi alur cerita.

“Kau sudah pulang, Rara?” Bukan hanya bibirku yang menggigil, namun jiwaku pun menggigil.
“Pakaianmu basah semua, tadi aku ketiduran!” Aku diam. Tak merespon.

Membuka pintu rumah. Langkah kutuntun masuk. Kuletakkan ranselku. Menuntun ke dalam sepedaku. Ia meletakkan pakaianku yang lembab di kursi tua. Suasana temaram. Aku menyalakan lampu. Ia duduk. Aku mengganti pakaian basahku. Ia melamun menikmati melodi hujan terjun dari langit. Ia seakan sedang mengharap pelang tumbang dari langit.

“Kenapa kau dianggap gila?” Aku mulai membuka suara, melempar tanya dari ruang tengah. Ia tertawa. Terbahak-bahak memegangi perut. Memaksaku keluar demi menatap ekspresi wajahnya saat itu. Handuk tersampir di bahu.

“Apa yang membuatmu tertawa?”
Pertanyaanku tak mendapatkan jawaban. Ia berdiri meninggalkan rumahku. Berjalan keluar tanpa mengatakan sesuatu. Langkahnya digiring hujan dengan tuntunan tawa yang tak dimengerti alam. Aku bergeming di pintu. Hujan masih setia melambai. Punggungnya dihempas air. Rambutnya basah. Langkahnya berjalan setengah berlari. Masuk ke dalam rumah. Ya! Dia adalah tetanggaku. Tetangga baikku yang tidak menyadari kebaikannya.

Magelang, 9 April 2017.

Darah Mimpi, bernama asli Titin Widyawati. Tinggal di Magelang.

Facebook Comments

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!