SASTRA

Cerpen: Tentang Kotamu

Oleh: Winda Efanur FS*

Dari balik jendela ku lihat segala sudut di kota ini telah berubah. Hanya satu yang membuatnya sama, kenangan. Kenangan masa lalu itu mengaburkan kenyataan yang ada. Kenangan, dia memanipulasi masa kini pada masa lalu. Hingga aku terperangkap kerinduan yang sama. Seperti sepuluh tahun yang lalu.

“Mas, mas..mas turun di mana?” Tanya kernek bis.

“Aaa..iya.. Pertigaan kampus Kebangsaan, pak”. Aku kaget. Sedikit gugup ku ambil uang dari saku bajuku.

“Jangan melamun mas, kampus sudah dekat di depan sana.”

“Iya terima kasih, pak.”

 

Aku bersiap turun dari bis. Bangunan orange menjulang di hadapanku. Tak lama bis berhenti di pertigaan kampus. Aku melangkahkan kaki turun dari bis. Asap knalpot bis menyemburku, ku ambil sapu tangan dari celana untuk menutupi hidungku.

Bis maju menuju tempat lain. Mengantarkan mereka pada tujuan masing-masing.

Selepas bis melaju, aku menepi. Berjalan di trotoar pejalan kaki menuju masjid kampus. Di sana aku berniat menunaikan salat duhur sambil menunggu Ridwan menjemputku.

*     *     *

Pukul 12.00 Wib adzan berkumandang. Para mahasiswa yang sedang diskusi di pelataran masjid begegas menutup diskusi mereka guna memenuhi panggilan ilahi. Wajah mereka masih polos. Tapi sorot mata mereka memancarkan impian dan harapan masa depan. Aku tertunduk mengingat diriku sepuluh tahun lalu, aku juga sama seperti mereka.

 

Aku berjalan ke tempat wudhu. Di ruang wudhu antrian mengular. Butuh waktu sepuluh menit mendapat antrian wudhu. Hingga tiba giliranku ku letakan tas ransel besar di lemari tas dan sepatu.

“Krak!” Kran terbuka. Air deras jatuh mengalir ku tadah dengan kedua telapak tangan. Aku berkumur tiga kali, usap wajah, rambut, telinga hingga mata kaki. Rukun wudhu runtut ku lakukan. Di sampingku nampak pemuda yang tadi ikut diskusi di pelataran masjid. Lambang segitiga jangkar kaosnya menarik penasaranku. Sayang iqomat keburu berkumandang. Kami bergegas menuju ruang salat.

 

“Allohu Allohu akbar..Asyhadu Alla Ilaha Ilallah Wa Ssyhadu Anna Muhammadar Rosululloh Hayya ‘Allassholah..” Muadzin mengumandangkan iqomat. Aku beserta jamaah lain serempak meluruskan shaf salat.

 

Selesai sholat aku keluar masjid. Sembari melihat bangunan ibadah ini telah banyak berganti bentuk. Meski dengan wajah yang lebih megah namun kedamaian di masjid kampus ini sama seperti dulu.

 

Di pelataran aku kembali melihat pemuda tadi, dia tengah melanjutkan diskusinya. Aku hendak menghampiri diskusi mereka.

HPku berdering. Di layar HP yang menyala tertulis nama Ridwan.

“Assalamualaikum, kawan lama.”

“Hallo, Bung Fariz. Di mana posisimu sekarang? Aku sudah di halaman masjid.”

“Masuk lagi ke depan, kita ngobrol sejenak di pelataran masjid.”

“Aduh, itu ide yang bagus tapi di masjid tidak ada kopi. Tuhan tidak jualan kopi. Kita ngobrol di kafe saja lebih santai.”

“Astaghfirlohal ‘adzim, lama di kota kamu sudah lupa agama ternyata”.

“Hahaha, aduh ampun Pak Ustad. Jangan kamu anggap serius perkataanku tadi anggap saja itu gurauan saja.”

“Sudahlah biar Tuhan yang menegurmu.”

 

Aku menutup telponku. Aku menghampiri Ridwan di parkiran. Nampak pemuda bertopi dengan pakaian lusuh. Sapa dan pelukan hangat mengikat kami. Kawan lama setelah sepuluh tahun berpisah. Dulunya Aku, Ridwan, Edy, dan Burhan teman akrab sewaktu mahasiswa. Kami satu organisasi pergerakan yang sama. Kami juga mempunyai hobi yang sama, mendaki gunung. Terakhir tahun 2000 kami menaklukan puncak Semeru. Target kami menaklukan Rinjani, yang kini belum terlaksana.

*     *     *

“Ganti tampangmu sana! Tampangmu kelihatan pasrah tak berdaya. Di mana Fariz garang yang dulu?”

“Ridwan, tampangku tidak ada masalah justru kamu yang harus ganti kehidupanmu.”

“Hahaha, kamu ini. Hidup seperti ini yang memilihku. Aku mengalir mengikuti takdir yang penuh gelora dan cinta.”

“Kamu masih jadi playboy di usia 29 tahun ini?”

Ridwan terdiam. Tak ada gelak tawa di ujung perkataannya. Dia ambil sebatang rokok lalu menyalakan rokoknya.

 

“Kisah cintaku sudah berakhir di akhir musim. Mungkin kisah cinta yang berhasil bersemi itu kisahmu dengan Farida. Satu kisah yang tak pernah usai, cinta tanah air. Pertiwi memanggil kita,” seru Ridwan sambil mengembuskan asap rokok.

“Jiwa patriotismemu masih tajam seperti dulu, gemetar aku dengar kalimat terakhir tadi. Selain aku siapa yang sudah kamu hubungi?”

“Hampir semua bekas aktivis 98, aku hubungi. Yang sudah konfirmasi kamu, dan Edy juga kawan-kawan aktivis sosial dan HAM.”

“Burhan?”

“Jangan tanya Burhan. Dia sudah hidup di surga.”

“Dia sudah mati?”

“Dia sudah bahagia di surga dunia yang fana ini. Jiwa kritis, militansinya sudah terkikis jabatan. Terakhir aku ketemu dia saat audiensi Perda baru di gedung DPRD Kota. Dia sudah berubah tak mengenalku lagi.”

“Tapi aku masih berbalas pesan dengannya sekali-kali.”

“Iya tentu, kita layak kupu-kupu yang metamorfose. Selepas reformasi Burhan jadi anggota dewan, kamu jadi Ustad, sementara aku dan Edy jadi pengembara bebas. Aku dan Edy terafiliasi gerakan aktivis HAM. Kamu susah temui aku di majelis-majelis pengajian. Aku biasa nongkrong, ngamen di jalanan, pertunjukan teater pergerakan.”

“Iya aku paham tapi sebutan ustad itu yang kurang pas, Ridwan. Aku hanya guru honorer di salah satu madrasah di kampungku.”

“Tidak apa-apa, sinaran wajahmu juga peci yang kamu kenakan menunjukan kamu pantas jadi ustad. Eh, atau kita tukeran saja Riz, ganti pecimu dengan topiku.” Aku menggelengkan kepala. Ku lepas peciku lalu memakai topi mikik Ridwan.

“Gimana, cocok kan. Sudah pantas jadi ustad belum aku?” Ridwan memantaskan peci di kepalanya.

“Cocok kok. Semoga kamu jadi ustad beneran.”

“Aamiin. Kamu ingin aku bertobat bukan! Mungkin ini jalan hidayah Tuhan. Akhir-akhir ini aku ingin kembali salat, Riz nanti ajari aku salat.”

“Kamu sudah lupa bacaan salat? Tapi aku bersyukur meski menganut paham materialisme, di usia mu kini benih spiritualisme mulai tumbuh.”

“Haha, jangan kamu ungkit masa laluku. Hal itu satu jalan kehidupan, aku memang suka belajar ilmu  paham-paham seperti itu. Generasi 98 aktivis kritis!” Tanganmu mengepal ke udara.

*     *     *

Di kota ini aku tinggal di basecamp Ridwan. Di sana aku bertemu dengan Andre pemuda berkaos logo segitiga jangkar yang ku temui di masjid kampus. Andre mengantarkanku ke kamar istirahat. Pukul 14.00 aku tiduran, aku rebahhkan badan di kasur. Pikiranku melayang pada kisah yang aku alami. Tahun 2008 kondisi Indonesia membaik. Masyarakat sudah lupa luka reformasi tahun 1998. Alumni angkatan 1998 banyak berkiprah di dunia politik praktis dan aktivis sosial. Mungkin aku yang berbeda sendiri. Menapaki dunia pesantren karena keluarga dari Madura dekat dengan kehidupan pesantren.

 

Di pesantren aku harus menghatam lembaran kitab kuning. Lambat laun paham dan pemikiran radikalku hilang. Aku memiliki orientasi ilahi dalam setiap langkah kakiku. Hingga Tuhan menjodohkanku dengan Farida, alumnus Fakultas Tarbiyah kampus ini. Farida dan aku membina rumah tangga di kampung. Posisi strategis di kampung menjauhkanku dari polemik politik nasional. Hingga Ridwan, menghubungi kembali. Untuk satu kasus berskala nasional, pembelaan HAM di Jawa Timur. Kasusnya warga DesaPariaman, Jawa Timur hendak  mengalami penggusuran.

 

Sebuah perusahaan tambang luar negeri akan membangun pabrik di kawasan tersebut. Warga menolak mentah-mentah rencana pemerintah daerah. Kasus ini telah memakan satu korban jiwa. Kasus yang tergolong sensitif sekaligus skala nasional ini membuat gairah aktivisku muncul kembali. Berseberangan dengan kebijakan pemerintah satu benturan yang sulit. Tapi kami ada bukan untuk menentang pemerintah, segala aksi-aksi yang diadakan adalah bentuk “kami” ada untuk membela kaum marginal. Tuntunan aksi ini ada keadilan bersama yang dipahami oleh semua pihak. Hingga terwujud kesejahteraan sosial.

 

Ridwan menjelaskan aksi “Cinta Tanah Air” ini rentetan dari gerakan budaya dan politis. Kami (aku, Ridwan, mahasiswa, dan kawan aktivis lainnya) akan menggelar sarasehan bersama. Sarasehan ini diikuti dengan pementasan teater, diskusi dan lomba poster bertema kritik sosial.

 

“Sudah siap Bung Fariz, aku dan Edy menunggumu di taman makam pahlawan. Segera ke sini!” Pesan singkat dari Ridwan.

“Ada pemakaman siapa?” Tanyaku polos.

“Komandan Fariz, ini bentuk penghormatan kita kepada para pahlawan bangsa. Dari darah dan nyawa mereka kita bisa menghirup kemerdekaan. Ayo lekas bangun, perjuangan kita pun akan sama dengan mereka. Hidup rakyat, merdeka, merdeka!”

“Siap komandan, merdeka!” Suara teriakan merdeka Ridwan masih membekas di telingaku.

 

Aku bergegas menuju taman makam pahlawan dengan mengendarai sepeda motor. Di sana aku sedikit terlambat mereka tengah menyanyikan lagu “Syukur”.

*     *     *

Terkendala soal perijnan sarasehan yang rencananya dilakukan di Kampus UIN dialihkan di Kampus Kebangsaan. Di luar dugaan banyak pengunjung yang datang. Paling banyak dari warga Pariaman, aktivis, mahasiswa, praktisi juga sastrawan kondang, yang aku lupa namanya. Ridwan berdiri di podium memberikan kata sambutan sekaligus memoderatori jalannya acara. Sementara aku pun di daulat menjadi salah seorang pembicara. Tanpa persiapan apapun di hadapan ratusan penonton, aku sampaikan kisah perjuangan aktivis 98.

 

“Anak muda, mahasiswa-mahasiswa kalian adalah pemimpin masa depan. Di tangan kalian arah bangsa ini ke depan, bangun daya juang , kritis, militansi di jalan perjuangan. Jangan lengah pasca reformasi serangan dari dalam dan luar  menggerogoti kestabilan nasional. Ingat, kalian pemuda Indonesia, national power di masa lalu kesatuan pemuda Indonesia mampu menggulingkan rezim penguasa yang bertahta 32 tahun lamanya. Bangkit! Tuntaskan amanah pertiwi!” Orasi ku tutup dengan nukilan kisah Muhammad Al Fatih pemuda 21 tahun. Seorang panglima perang Sang penakluk Konstantinopel.

 

Ridwan melirikku. Aku menutup orasi. Dia secara tiba-tiba meminta Andre menggantikan posisinya sebagai moderator. Dia turun dari podium lalu berbisik memanggilku di balik podium.

“Kita sudahi sarasehan ini secepatnya. Situasi mulai panas!”

“Ada apa, masalah apa?” Tanyaku.

“Pimpinan kampus Kebangsaan memerintahkan acara ini dibubarkan.”

“Alasannya apa?”

“Biasa. Sudah tenang Bung, ini akan terkendali. Secepatnya kita sudahi acara ini.” Ridwan meninggalkanku yang berdiri mematung. Dia membetulkan peci pemberianku lalu naik ke podium mengumumkan sarasehan ini dihentikan karena kendala teknis.

*     *     *

Sepulang dari sasehan kami menuju Desa Pariaman. Warga desa menyambut kami dengan hangat. Di rumah kepala desa kami berkumpul.

“Situasi level siaga atau waspada?” Tegasku.

“Masih siaga. Hati-hati penyusup, mata-mata tersebar dimana-mana. Rapatkan barisan, yang terpenting lindungi keselamatan warga,” kata Ridwan.

“Terus kami harus bagaimana Mas Ridwan?” Tanya Pak Agus Kepala Desa.

“Tenang, Tuhan bersama kita. Tuhan akan membela kaum lemah”.

Aku tersenyum bangga mendengar perkataan Ridwan.

 

“Kring!” Handphone Ridwan berdering. Seketika raut muka Ridwan merah padam membaca pesan ponselnya.

“Kurang ajar!” Tangan Ridwan memukul meja.

“Apa yang terjadi?” Tanyaku.

Aku ambil ponsel Ridwan di atas meja.

“GAGALKAN AKSI DEMONSTRASI BESOK. JANGAN IKUT CAMPUR URUSAN TAMBANG. JANGAN LAPOR POLISI. JIKA KALIAN INGIN SELAMAT!”

Isi pesan itu.

“Kumpulkan pasukan inti secapatnya!” Seru Ridwan.

Andre berlari memanggil pasukan inti.

Sekitar 30 orang berkumpul di rumah Pak Agus. Kami mengadakan rapat terbatas. Aku dan Ridwan memberikan komando dan arahan. Rapat koordinasi memakan waktu satu jam.

 

Selesai rapat Pak Agus mengumpulkan warga di halaman rumahnya. Sekitar seratus orang warga ikut berkumpul. Pak Agus memberikan arahan kepada warga serta pembagian tugas dan pos-pos aksi besok.

“Saudaraku semua apa kalian siap berjuang? Siap menanggung derita perjuangan? Siapa yang siap maju ayo kita maju bersama. Yang tidak siap silahkan keluar dari barisan ini!” Orasi Pak Agus.

“Kami siap maju!” Seru warga.

“Subhanalloh, tidak ada satu orang pun yang bergeming meninggalkan barisan. Aku salut pada tekad warga Pariaman. Kapitalisme tak membutakan mata mereka,” batinku.

 

Aku berkeliling memotret momen sejarah ini dengan kamera analog. Terekam berbagai ekspresi dari kameraku. Ibu-ibu yang menggendong bayinya, bocah-bocah ingusan yang didudukan di pundak bapaknya, bapak-bapak tua, caping, cangkul, dan air mata mereka. Mereka merindukan kebebasan tanah mereka dari ancaman pertambangan dari perusahaan asing bermasalah. Mereka ingin mewariskan ladang dan sawah untuk anak cucu mereka. Semangat mereka, juga semangat para aktivis Ridwan, Andre, tunggu dulu. Seperti ada yang kurang, Edy iya dia tidak nongol sejak dari rapat.

*     *     *

Ba’da Subuh massa aksi berkumpul di rumah Pak Agus. Massa yang didominasi oleh kaum Adam ini tampak semangat. Wajah mereka memancar ketulusan. Mereka siap menghadapi resiko terburuk dari aksi ini. Intimidasi sempat dikirimkan oleh suruhan oknum tidak dikenal. Tapi dianggap angin lalu. Aksi ini 100% unjuk rasa damai. Tak kurang 200 massa dari berbagai elemen masyarakat turut serta. Massa akan melakukan long march sepanjang 7 Kilometer dari desa ke kantor bupati.

 

Ridwan menjamin keamanan dan keselamata massa. Untuk menghindari huru-hara, aksi berlangsung paling lama dua jam. Pukul 06.00 massa aksi berangkat. Ridwan memimpin jalannya long march. Sekitar pukul 08.00 kami sampai di depan kantor bupati.

“Pastikan semua pos terkendali!” Seru Ridwan.

“Semua pos aman!” Jawabku mantap.

Ridwan memimpin orasi di barisan depan. Aku, Edy, Andre dan kawan lainnya menyebar di seluruh titik penjagaan.

 

“Assalamualaikum selamat pagi para wakil rakyat yang terhormat. Kami bertamu baik-baik, kami ingin bertemu bupati, anggota dewan, atau pejabat perwakilannya untuk mendiskusikan rencana penggusuran tanah warga Pariaman. Kami merasa proses sosialisasi selama inu berjalan tidak fair, kami tidak dilibatkan penuh dalam rencana penggalian tambang di desa Pariaman. Kami ingin diadakan musyawarah ulang antara pemerintah daerah, dan perwakilan perusahaan. Kami tunggu jawaban kalian secepatnya!” Orasi Ridwan.

 

Jajaran pejabat daerah kabupaten, anggota dewan keluar dari kantornya. Mereka tampak siap menyambut kedatangan kami. Turut hadir diantara mereka, Burhan. Setelan jas dan sepatu bermerk membuatnya nampak gagah. Sangat kontras dengan wajah Burhan sepuluh tahun lalu. Mahasiswa filsafat yang berpenampilan seperti gelandangan kota. Rambut acak-acakan, pakaian lusuh dan sandal jepit.

 

Waktu memang menyimpan misteri. Sepuluh tahun yang lalu kita berada di barisan yang sama melawan rezim Orba. Kini kita terpisah jurang nasib yang sangat dalam.

“Kami sampaikan selamat datang bagi warga Pariaman. Tuntutan kalian akan kami musyawarahkan bersama pejabat daerah. Kami minta kawan-kawan aktivis tidak membuat gaduh. Gunakan hak demokrasi berkebebasan pendapat ini dengan bertanggung jawab,” kata Burhan.

 

Setelah berkata Burhan masuk ke kantor bupati. Aku berlari memburu Burhan, sayang langkahku terhenti oleh hadangan polisi. Ratusan aparat polisi tengah mengepung kami. Tak kalah para awak media berebut memotret wajah kami.

Ridwan mengetahui maksudku. Dia menyerahkan pimpinan aksi kepada Andre dan Edy. Aku dan Ridwan memaksa masuk ke kantor bupati. Untuk melakukan musyawarah tentang penjelasan teknis diadakannya musyawarah ulang tuntutan kami.

 

Edy menyampaikan orasi, diikuti oleh perwakilan warga dan aktivis. Sementara Andre menjaga keamanan massa.

Aku dan Ridwan berhasil bertemu dengan Burhan perwakilan DPRD kota, bupati dan jajaran pejabat terkait. Selama setengah jam kami melakukan musyawarah. Hasil musyawarah mencapai kata mufakat. Menghasilkan dua keputusan, pertama pemerintah daerah bersedia memediasi musyawarah antara warga Pariaman dengan perusahaan. Kedua, ditunjuk koordinator Burhan dan Ridwan. Mereka bertugas mengawal kaaus ini. Aku mengucap hamdalah dalam hati.

 

Kami bersalaman dengan peserta musyawarah. Sapaan dan canda tawa ringan melumerkan suasana. Keriuhan itu terhenti karena Ridwan.

“Pak Burhan, akan saya pegang kata-kata anda!”

Burhan tersenyum menanggapi Ridwan. Suatu senyum yang sangat datar.

Aku menarik Ridwan keluar dari ruangan.

“Selamat bertemu kembali kawan lama, semoga kerjasama ini berjalan lancar!” Kataku.

“Semoga,” jawab Burhan singkat.

 

Aku dan Ridwan meninggalkan Burhan di ruangan rapat.

Kami kembali pada barisan massa. Ridwan memberikan orasi penutup dan isi rapat tadi. Lalu aksi ditutup dengan doa yang dipimpin olehku.

Massa aksi bubar dengan tertib. Kami kembali long march menuju desa Pariaman.

“Kebakaran, kebakaran, kebakaran!”

Dari arah berlawanan salah seorang warga memberitahu kami rumah Pak Agus dan warga lainnya kebakaran. Kami bergegas menuju desa. Sesampainya di desa para ibu, anak-anak lari tunggang langgang. Jerit tangis teriakan ketakutan warga membumbung ke udara. Jago merah melahap rumah warga yang mayoritas dari terbuat dari bilik-bilik bambu.

 

Aku, Ridwan beserta para kaum Adam membantu mengevakuasi warga. Andre menelpon pemadam kebakaran dan polisi. Sampai detik ini pun aku tak melihat Edy. Di mana Edy?

“Mama.. mama… hiks.. mama hiks!” Teriakan seorang anak kecil.

Kami mencari sumber suara. Dengan gesit Ridwan melompat masuk ke satu rumah. Kobaran api telah melahap rumah kayu itu.

“Ridwan!” Aku sedikit menyesali kenekadan Ridwan.

Warga bergegas menyiram api dengan ember-ember yang ada. Sekitar lima belas menit Ridwan bergelut dengan api.

Aku cemas.

 

“Uhhk..ughkk..ughhk..!”

Wajahku sumringah mendengar suara batuk. Ridwan membopong bocah usia delapan tahu muncul dari kobaran api. Hampir seluruh tubuhnya hitam hangus terbakar. Aku menyambut Ridwan. Andre mengamankan bocah itu. Ridwan ambruk, aku letakan jariku di hidungnya.

“Innalilah….!”

 

Cilacap, 2 Agustus 2017

 

Winda Efanur FS, penulis lepas. Penyuka fotografi dan travelling. Bisa dihubungi di email: efanurw@gmail.com.

Facebook Comments

Most Popular

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 08114167811

Copyright © 2016-2018 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!