SASTRA

Cerpen: Tinta

Oleh: Risky Novialdi, S.IP., M.HI.

Tinta ini berontak, jujur, ini bukan aku. Tinta yang telah memanggilku untuk memegang pena ini. Dia sepertinya ingin menyampaikan sesuatu. Sekali lagi, ini bukan karyaku, aku hanya makkhluk yang sedang diawasi dan dikontrol oleh Yang Lain. Hatiku berbisik, jangan ikuti! Karena yang mau ditulis obyeknya tentang aku. Namun aku sendiri penasaran, apa yang hendak keluar dari tinta ini? Kisah apa yang hendak  dia ceritakan? Aib siapa yang mau dia bongkar? Dan sosok mana yang mau dia puji? Ini memang ceritaku, tapi bukan dari aku. Inilah kisahku :

Laksana berjalan di tepi pantai

Arahku tidak selalu lurus

Namun juga tidak akan pernah terputus

Saat bulan sudah tak mampu mewakili kisah cinta

Apa mungkin

Ku alihkan perhatianku kepada bintang

Sedangkan dia juga tak mampu memahami kata-kata

Cukup bagiku dia hanyalah sumur

Dengan kisah suka dan duka

Yang sebahagiannya sudah aku kubur

Raja kami kini tinggal sejarah

Sedangkan rajanya masih terus melukiskan kisah

Jika engkau kuibaratkan perempuan yang menawan

Kita sudah melewati cerita indah berdua

Namun, tidak dibiarkan bersama selamanya.

14 juni 2009, aku masih di sebuah daerah yang masa lalunya megah dengan kerajaan. Kekuasaannya hampir seluruh pulau Sumatra, Nanggroe Aceh Darusalam. Aku dijemput oleh saudaraku, Zulkarnain, nama yang terinspirasi dari seorang raja yang kejayaannya tercatat indah dalam sejarah dan memiliki kekuasaan antara timur dan barat. Selanjutnya, bukan suatu kebetululan, aku mau dibawa ke sebuah daerah yang terkenal dengan kerajaannya, bahkan hingga sekarang, Daerah istimewa Yogyakarta. Ini baru sederet pengantar, sejauh ini saja aku sudah melibatkan 3 raja besar, Sultan iskandar Muda, Raja Zulkarnain, dan Sultan Hamengkubuwono X.

Baca juga :  Disalip Amerika Serikat, Indonesia Gagal Terima Nobel Sastra 2016

15 Juni 2009, tepatnya pukul 18.10 WIB, aku sampai di kota Yogyakarta. Pintu pertama yang aku buka adalah pintu rumah tempat sekumpulan mahasiswa yang menamakan diri mereka “Himpunan Mahasiswa Islam,” Nama dan juga do’a yang indah dari Lafran Pane, sang pendiri organisasi tersebut. Dari oraganisasi ini melahirkan banyak sekali tokoh-tokoh besar. Cukup besar untuk mengantarkan mereka ke puncak tahta dan cukup besar pula untuk mengantarkan sebagian mereka ke penjara.

Baik dan buruknya bukan karena organisasi ini, namun tergantung bagaimana setiap mereka memahami diri mereka sebagai mahasiswa Islam. Aku sendiri belajar banyak hal dari organisasi ini, belajar tentang politik yang bermoral dan moral dalam berpolitik. Ada sedikit yang mengganjal dalam pikiranku, kata “Islam” diujungnya itu sangat berat untuk dipertanggung jawabkan. Cukup dengan Himpunan Mahasiswa Aktif, itu lebih membuatku tenang. Hehehe…

Tanpa terasa, kini sudah 7 tahun lebih aku berada di Yogyakarta. Aku baru menyadari, daerah ini hanya “sumur” buatku. Sumur untuk tempatku mandi dan juga tempat untuk menyucikan diri. Ketika tiba saatnya, aku harus pulang ke rumah, dengan “air” yang cukup sebagai bekal untukku mengahabiskan sisa-sisa waktu dari indahnya dunia ini.

Baca juga :  Puisi Hafiz Darmawan

Berbicara tentang ‘sumur”, ini hanya analogi dariku, mungkin beda dengan kalian, begitu juga dengan mereka. Tapi pengibaratan daerah ini sebagai “sumur,” sudah cukup mewakili semua yang aku rasakan. Aku ibaratkan daerah ini sebagai “sumur”tempatku mandi karena di sini aku dipertemukan dengan kanda Ahmad Sahide, yang juga bukan suatu kebetulan, dia kiriman dari kerajaan Sulawesi. Sampai di sini aku kembali harus melibatkan Raja yang lain, Sultan Hasanuddin ke dalam cerita singkat ini. Sosok dari daerah kerajaan Sulawesi ini cukup berjasa dalam membersihkan diriku dari debu-debu kehidupan Yogyakarta, sebagiannya juga debu yang kubawa dari tempat alsalku. Dengan KBM sebagai “sabun”nya aku kembali bersih dengan kesegaran yang baru.

Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai “sumur” tempatku menyucikan diri. Pada tahun 2014 aku bertemu dengan Ustaz Deryanto yang berasal dari kerajaan Jenggala, Jawa Timur. Beliau adalah guru privatku dalam mengkaji Tauhid Asy’ari. Jasanya cukup besar dalam menyucikan diriku dari kegalauan, ketidakpahaman, dan ketidak tahuanku dalam bidang agama. Berkat jasanya pula aku diberi kesempatan untuk berbagi ilmu dengan para jama’ah di masjid Darusalam, Puspa Indah.

Baca juga :  Puisi : Jam Dinding

Daerah istimewa Yogyakarta sebagai “sumur” tempatku mengambil air sebagai bekal yang akan aku bawa pulang ke rumah. Selain dari cerita-cerita di atas, masih banyak sekali kisah yang tidak aku ceritakan panjang lebar disini. Seperti kisahku dengan Syamsu Wijaya, sahabatku saling berbagi tempat singgah yang berasal dari kerajaan Sultan Harunnurrasyid, Sumbawa. Ada juga kisahku dengan Darus Eko Putra, sahabatku yang berasal dari kerajaan Sultan Syarif Kasim, Siak. Kisah cintanya dengan seorang muallaf yang tak kunjung diterima, namun juga tidak ditolak. Kisah-kisah ini akan menjadi “air” yang tidak langsung kupakai di sini, melainkan akan kubawa pulang ke negeriku.

Sekarang, bulan di Yogyakarta sudah tak mampu menemani kesendirianku dan bintang-bintang sudah tak mampu menceritakan kisah cintaku. Ini bukan tentang obyeknya, tapi tentang kesan. Aku akan pulang untuk memaknainya di sana, mungkin kesannya akan berbeda. Terima kasih Yogyakarta, terima kasih bahagia. Jika aku umpamakan engkau wahai Yogya sebagai wanita, engkau adalah wanita yang sangat cantik jelita, dengan tubuhmu yang indah, suaramu yang sopan lagi menawan, kita sudah lalui kisah indah berdua namun tidak dibiarkan bersama selamanya.

01 Oktober 2016

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!