SASTRA

Fragmen Dian Rahmana Putri

#1 Senior Selalu Benar?

“Jika saya menjadi seorang senior, saya tidak akan menjalankan paham yang namanya “senioritas”. Saya memiliki paham sendiri yang saya sebut “junioritas” (Apa bedanya?). Junioritas adalah suatu keadaan di mana para junior tahu posisi dan kapasitas mereka sebagai kalangan junior.

Jadi, apa bedanya “senioritas” dengan “junioritas”?Senior Anda tidak selalu lebih baik dari Anda, mereka hanya lebih dahulu tahu daripada Anda.

Istilah senior dan junior adalah hal-hal yang berkaitan dengan umur, tingkat pendidikan, wawasan, jabatan dan sebagainya. Kata ini sering sekali menjadi belenggu dan dilema yang membatasi seseorang untuk bergerak maju.

Mari kita ambil contoh lingkungan pendidikan kita. Ada kalanya seorang siswa yang pintar tidak berani untuk menonjolkan diri karena ia “menghargai” para seniornya, padahal ia mampu dan bahkan bisa berbuat jauh lebih baik dari seniornya, atau, ada senior yang cenderung memaksakan kehendak kepada “bawahannya” untuk melakukan keinginannya, dan sang junior (bawahan) dengan terpaksa harus mau melakukannya.

Apakah ini sebuah dogma dari tata krama yang ada di masyarakat kita atau ini sebuah keegoisan belaka? Jawaban pertanyaan ini kembali kepada kita semua.

“Tradisi balas dendam menjadi motivasi yang kasat mata namun menyeruak”
Beberapa orang menilai bahwa senioritas itu hal yang buruk termasuk bullying,tetapi selalu ada dua sisi di setiap kejadian, sisi positif dan negatif.

Sisi positifnya, bahwa selalu ada rantai komando di hidup kita senioritas itu bukanlah sesuatu yg jahat tetapi sebagai pembelajaran bahwa dimana-mana kita harus tahu tempat dan bisa menempatkan diri.

Tapi jika dilihat dari kasus-kasus senioritas yang memakan korban, saya belum bisa menyalahkan pihak yang salah karena semua kemungkinan bisa terjadi, antara si junior emang tengil, atau seniornya haus darah dan butuh pelampiasan? Bicara tradisi?

Sepertinya memang sudah hajat hidup orang banyak menghormati yang lebih tua. Bicara “kita juga dulu diginiin, lebih parah malah” ya itu urusan kalian. Jangan membuat para junior harus ikut merasakan penderitaan kalian juga .

Baca juga :  Cerpen : “Kipas Tua”

Tetapi dari apa yang terjadi sekarang semakin diberlakukannya peraturan dan petisi anti bullying, anti perploncoan, dan anti senioritas, makin terlihat bahwa mereka kurang mempunyai tata krama kepada senior.

Bukan bermaksud tidak hormat, tetapi umur berbicara, senior juga akan respect kalo kitanya juga respect ke mereka. Eye for an eye, kita songong mereka bisa lebih sadis, so selalu ada sisi positif dan negatif di sebuah kejadian.

 

#2 Riuh dalam Tulisan

Siapapun anda, mohon doakan.
Saya hanya perempuan yang sedang mengejar mimpi. Overthink memikirkan banyak hal terlalu dalam. Berusaha tulus dan tidak terlalu serius.saya hanya pemudi yang secara aneh mengumpulkan optimisme menjadi penulis melalui kebetulan yang dipikirkan terlalu serius.

Meskipun begitu,
Apakah semua orang akan percaya dengan apa yang saya tulis? TIDAK!
Orang indonesia memang agak lebih aneh memaknai sesuatu.
Tulisan dakwah katanya “Ah,Sok Ustadz/Ustadzah’’ apakah yang bertugas untuk menyampaikan dakwah hanya para ustadz atau ustadzah saja ? para kyai atau ulama ? TIDAK!

Bukankah telah dikatakan dalam sebuah hadits yang berbunyi “Balliguu anni walauaiaah’’ yang artinya sampaikanlah walau hanya satu ayat. Lalu apa yang salah?
Tidak ada yang salah,mungkin hati kita saja yang perlu dibenahi,apakah masih terselib perasaan iri dan cemburu di dalamnya.
Maka jika tidak bisa membantu,setidaknya jangan mengolok-ngolok.

Kita terlalu pandai mencela oranglain tapi saat dicela mungkin akan timbul rasa marah dan dendam dalam diri.

Tulisan bijak pun seperti itu “Kenapa tidak sekalian jadi motivator saja? sok bijak”
Apakah kita pernah bertanya atau mencari tahu kenapa bisa yah dia mampu menulis sebijak itu? Sehebat itu? Sebagus itu? Berapa banyak hal atau peristiwa menyakitkan yang telah dilewati? bisajadi mereka adalah orang-orang yang dibijakkan oleh keadaan, melewati pengalaman hidup yang berat dan penjang, masalalu yang getir dan menjadikannya sebagai sebuah kekuatan.

Baca juga :  Matahari Adalah Setan

Bukankah itu adalah sebuah pembelajaran bagi kita bahwa tidak semua hal buruk harus dibalas dengan keburukan?
Mengapa kita harus saling menasehati meskipun lewat sebuah tulisan? Jawabannya bukan karena kita sudah bijak, sudah keren maksimal menjalani hidup jadi pantas memberi nasehat.

Tapi justru karena kita sudah terlalu sering mengalami masalah dan tahu persis bagaimana tidak enaknya ketika orang-orang pergi, tidak peduli, tidak ada yang membesarkan semangat dengan satu dua potong kalimat baik penuh hikmah.

Lalu apa yang salah? Tidak ada.
Kita hanya perlu memaknai, menjadikan tempat sebagai sekolah, tiap orang sebagai guru, tiap hal adalah ilmu.

 

#3 Biar Lelah asal Halal

Jika hidup hanya untuk mengesankan oranglain? Lantas bagaimana dengan mereka yang tak punya apa-apa untuk dipamerkan?
Jika hidup untuk mengesankan orang lain? Lalu untuk Allah SWT apa yang pantas kita kesankan? Padahal semua adalah milik-Nya.

Belakangan ini banyak sekali kita lihat kasus kriminalitas yang terjadi di sekeliling kita, salah satunya adalah kasus pencurian. Hal ini dikarenakan kondisi ekonomi dalam keluarga dan semakin meningkatnya pengangguran.

Sedikit bercerita mengenai perjalanan saya beberapa waktu lalu saat berkunjung ke Benteng Fort Rotterdam Makassar bersama teman-teman Agroindustri Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.

Di tengah perjalanan terlihat pemandangan yang begitu mengharukan, saat kemacetan terjadi. Para pedagang asongan mulai menjajahkan jualannya, tidak peduli panas dan terik matahari yang menyengat kulit, keringat yang mulai bercucuran mereka tetap berjalan menyusuri himpitan kendaraan yang terkena kemacetan. Bahkan seringkali sang pedangang pun harus sejenak  beristirahat untuk menambah tenaga mereka untuk kemudian berjualan kembali, ketika adzan berkumandang merekapun segera menghadap Allah SWT.

Baca juga :  Puisi-Puisi Melki AS

Coba anda bayangkan bagaimana perjuangan mereka untuk membiayai hidup? Bagaimana ketika jualan mereka tak habis atau tak laku sama sekali? Mereka harus menahan lapar.

Bagaimana jika mereka terserempet kendaraan? Untuk biaya makan saja tak cukup apalagi untuk biaya kesehatan?
Sementara anak-anak mereka,keluarga mereka telah menunggu di rumah. Saat sampai di rumahpun mereka harus bekerja kembali.

Saya begitu salut pada orang-orang seperti ini,dengan ketangguhan dengan kesabaran dan penuh kerja keras walaupun apa yang mereka kerjakan terkadang tidak sedikit yang menganggap remeh, tapi mereka tidak peduli karena tahu bahwa apa yang mereka kerjakan adalah pekerjaan halal.

Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita tak merasa malu pada mereka? Selalu tak merasa cukup dengan apa yang telah ada? Selalu ingin terlihat lebih di hadapan orang lain? Malu terhadap pekerjaan orangtua?

Sedang kita sendiri tak bisa apa-apa tanpa orangtua. Mengeluh atas hidup yang kadang dihinggapi masalah? Sedangkan masalah adalah kodrat manusia. Melakukan hal apapun untuk mendapatkan apa yang diinginkan? Tidak tahu apakah yang kita kerjakan adalah jalan yang baik atau malah jalan yang salah.

Atau kadang kita marah pada orangtua? Membentak orangtua? Membohongi orangtua atas apa yang kita inginkan saat itu juga harus ada? Menghalalkan segala cara. Sadarkah kita atas apa yang selama ini kita kerjakan?

Bahkan kesibukan seringkali melalaikan kita dalam urusan agama padahal itu adalah kewajiban. Seakan-akan kita tidak takut dosa. Tidak takut mati. Atau berpura-pura lupa? Tidak tahu? Bahwa Sang Pencipta selalu mengawasi.

Saudaraku, bukankah semua ini hanya milik Allah SWT, lalu apa yang pantas kita sombongkan? Tidak ada, titik.

Bukankah orang yang besar adalah mereka yang senantiasa menyertakan Tuhan dalam hidupnya

Edunews.

Kirim Berita via: redaksi@edunews.id/redaksiedunews@gmail.com
Iklan Silahkan Hub 085242131678

Copyright © 2016-2019 Edunews.ID

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!