SASTRA

Kucing Buta

Oleh: Titin Widyawati*

 

CERPEN, EDUNEWS.ID – Umurnya sudah tiga tahun. Kulitnya hitam bercampur putih. Wajahnya imut dan manis. Suaranya merdu. Bulu-bulunya lembut. Tingkah lakunya manja dan suka mengendus-endus kakiku. Dialah si Peto. Kucing kampung  berekor panjang kesukaanku. Makan seadanya, tidak pernah protes dan meminta ikan asin kalau Ibu sedang tidak punya. Nasi putih beserta lauknya parutan kelapa, ia pun mau. Oh, peto yang cantik. Aku sangat mencintainya. Setiap malam aku tidur bersamanya. Kupeluk erat tubuhnya. Ia memberiku kehangatan. Seolah ia mengerti perasaanku yang turut mengasihinya dengan penuh kasih sayang. Tapi itu dulu.

Pagi itu Bapak duduk di teras rumah. Secangkir kopi kental hitam pahit kesukaannya setia menemaninya. Duduk bersilah melinting sarung tuanya, menaikkan kakinya di atas kursi sambil sesekali menyeruput kopinya yang masih mengebulkan asap ke udara. Mulut Bapak terlihat meniup-niup asap itu agar berkurang panasnya. Ada tamu namanya Pak Iman. Ia adalah kawan Bapak yang selalu datang tiba-tiba. Setiap satu tahun, bisa kuhitung ia datang empat sampai lima kali. Dan waktunya pun tak jauh berbeda. Pasti setelah Bapak panen hasil pertanian dari ladang. Aku hapal betul rutinitas Pak Iman yang bermata kendor dengan guratan hitam di bawah kantung matanya, menandakan kesedihan dan kesusahan hidupnya. Dengar dari obrolan tetangga, Pak Iman yang rajin salat di surau sebelah yang selalu memakai baju koko putih itu-itu terus, seperti yang saat ini dipakainya untuk menemui Bapak, sering menghutang beras dan sayuran di warung sebelah. Sudah beristri lima kali, namun belum pernah bisa bekerja mencukupi anak dan istri. Wajarlah kalau empat mantan istrinya tak betah hidup bersamanya dan akhirnya memilih cerai meninggalkan anak, sementara mereka kabur tanpa pernah ingin kembali. Ia hidup di rumah gubuk sempit berdinding anyaman bambu. Hidupnya selalu kekurangan.

Baca juga :  Pena Hijau Takalar Geliatkan Tradisi Literasi

Pak Iman duduk di samping Bapak. Ia mengatur napas dan mengetuk-ngetuk bawah permukaan meja. Ritme jemarinya menandakan suasana hatinya yang sedang gelisah. Dan seperti biasanya. Aku akan dipanggil Bapak untuk mengambilkan minuman untuk Pak Iman.

“Sekar, buatkan minum untuk Pak Iman!” sorak Bapak dengan suara lantang.

Aku bergegas masuk ke dapur untuk menyiapkan pesanan.

Meong! Meong!” Peto mengendus-endus kakiku. Baru saja ia keluar dari tempat bersemayamnya di samping tungku kayu. Geli kurasa. Aku menyempatkan diri untuk menoleh menatapnya. Sepertinya ia sedang ingin merayuku agar aku mau memberikannya makan. Baiklah! Sebentar ya Peto. Aku antarkan minuman Pak Iman terlebih dahulu. Takut Bapak marah dan memberiku hukuman tak boleh memberimu makan seperti waktu dulu.

Meong!” Peto sepertinya paham dengan omonganku. Ia lalu pergi meninggalkanku. Berjalan menuju samping tungku kayu dan tiduran di sana. Tempat itu telah aku bersihkan dan aku sediakan sebilah kardus sebagai alasnya tidur setiap siang. Baru kalau malam aku mengangkat tubuhnya dan kuajak ia tidur di samping tubuhku. Mata Peto yang tajam sejenak melihatku keluar dari dapur. Mata bulat yang indah. Kalau malam seperti nyala lampu terang di tengah-tengah plafon rumah.

“Ini, Bapak. Silakan diminum mumpung masih hangat.” Kataku lembut kepada Pak Iman. Aku lalu kembali masuk dan megendong Peto. Memberinya makan nasi dan gorengan tempe di atas mangkok biasanya. Kebetulan Ibu sedang ke pasar. Belum masak apa-apa. Baru ada gorengan sisa kemarin malam dan nasi putih saja. Yasudah, itulah sarapan Peto pagi ini. Aku dan Bapak malah belum sarapan sama sekali.

“Ada keperluan apa kamu kesini, Kang?” Pak Iman sering dipanggil Bapakku dengan sebutan Kang. Ia seperti itu untuk menghormatinya yang lebih tua.

“Aku—” bibirnya tersendat. Ia menatap permukaan lantai rumahku yang berubin plasteran semen.

Baca juga :  Cerpen : “Kipas Tua”

“Kemarin aku baru panen tembakau, lumayan dapat uang lima juta.” Bapak mengawali pembicaraan.

“Iya, lebih banyak dari pada tahun kemarin, apakah kamu mau meminjam sebagaian uang itu untuk makan malam nanti?” gelagak Bapak sudah hapal betul keperluan Pak Iman setiap kali datang ke rumah. Kalau tidak untuk berhutang uang, lalu apa lagi?

E—

“Bagaimana? Sudah makan tadi pagi?”

Pak Iman menggeleng. Sebenarnya Bapak dan Pak Iman tidak ada hubungan darah. Namum Bapak sudah menganggap Pak Iman yang tua itu sebagai Masnya sendiri. Jadi obrolan mereka terkadang tak ada yang disembunyikan. Tentang kekurangan uang, tentang wanita, tentang kenakalan anak Pak Iman. Tercurah semua kepada Bapak. Mungkin ia pikir Bapakku adalah penampung masalah. Jadi setiap ia ke rumah masalahlah oleh-olehnya. Bapak juga terlalu baik, kenapa mau diperlakukan seperti itu. Bapak memang seperti itu. Ia adalah orang yang baik dan jarang marah kepada orang lain. Namun sekali marah, nerakalah jadinya. Menyeramkan. Apa saja diamuk dan dihajar. Omongannya laksana lolongan Serigala yang kelaparan. Untunglah, Bapak setahun sekali belum tentu marah. Jiwanya penyabar. Semoga itu bertahan selamanya.

“Anakku lapar, aku sendiri tidak masalah.”

Oh, jadi benar kamu ke sini untuk meminjam uang?”

Pak Iman mengangguk. Wajahnya tak berani menatap raut muka Bapak yang sedikit tidak enak untuk diartikan. Bapak mengelus-elus jenggotnya yang panjang di dagunya sementara kepalanya mengangguk-angguk, ke atas lalu ke bawah. Pupil matanya menatap lurus ke depan. Halaman rumah yang kering kerontang dengan tanah yang retak-retak karena musim kemarau belum usai kini terpantul di mata Bapak.

“Berapa yang ingin kamu pinjam, Kang? Bulan lalu sudah numpuk tujuh ratus ribu.” Kata Bapak mengakumulasikan hutang Pak Iman yang kemarin.

“Dua ratus ribu.” Kata Pak Iman nampak keberatan.

“Kapan bisa mengembalikan?”

Baca juga :  Ayam yang Serakah

“Kalau sudah bekerja,”

“Kapan mau bekerja?”

“E—kalau sudah ada pekerjaan yang disediakan oleh Kucing Negara,”

“Ya, kapan itu? Bukankah kamu bisa bertani? Kenapa harus menunggu  pekerjaan dari Kucing Negara? Siapa pula Kucing Negara itu? Sepertinya kamu gemar ya membaca cerita fabel?”

Aku juga baru mendengar perihal Kucing Negara yang diucapkan oleh Pak Iman. Dia memang orangnya suka berbelit-belit kalau mengucap kalimat. Terkadang memberi penjelasan namun tidak pernah jelas. Seperti waktu dulu-dulu.

“Dia kucing yang bisa mengolah makanan di lambungnya menjadi  emas, kadang berbagi dan mau menyediakan pekerjaan untuk pengangguran sepertiku, tapi kadang juga lupa dan mengabaikan kami karena sibuk dengan emasnya yang disembunyikan di balik jas. Kain yang menyelimutinya ketika tidur.”

“Maksudnya? Rupanya kamu sedang merayuku dengan dongeng Fabel? Iya?”

“Sepertinya— kucing itu selalu mendekat jika membutuhkan makan, namun akan pergi jika perutnya sudah kenyang dan sisa-sisa makanan yang diolah oleh lambungnya menjadi emas. Ketika ia sedang kesusahan mencari kekuasaannya untuk tidur tenang karena tak ada orang yang menerimanya, kucing itu selalu meraung-raung dengan nada melas, membuat orang biasa yang bodoh merasa iba dan ingin memberikannya tempat tidur dan makanan yang banyak. Kucing itu menjadi baik dan jinak kepada orang-orang biasa yang bodoh seperti kami, namun itu tak lama. Setelah ia mendapatkan apa yang diinginkannya ia pergi begitu saja melupakan kami. Bahkan kami permah memberikannya kepercayaan untuk menjaga rumah kami dari maling, sayang ia malah memalingi hak kami. Ia kuras habis makanan di dapur.  Ia telah mendapatkan majikan yang lebih kaya, mendapatkan kekuasaan tidur yang lebih nyaman. Jadinya lupa. Waktu dihabiskan untuk tidur-tiduran di wilayah kekuasaannya yaitu tempat tidurnya yang baru. Tanpa mau pulang ke tempat tidur busuk yang pernah disediakan oleh orang bodoh seperti kami. ”

Advertisement

Berbicara perihal kucing aku jadi mengingat Peto. Apakah Peto seperti itu? Tampaknya tidak. Aku mengetesnya. Pergi ke dapur membawa mangkok yang berisi nasi dan gorengan tadi. Peto terus mengejar langkahku sambil meraung-raung. Aku lalu meletakkan mangkok itu di samping tungku. Kuperhatikan Peto asik sekali melahapnya. Kutunggu sampai Peto kenyang. Dan seketika mataku terbelalak. Peto pergi begitu saja keluar rumah tanpa mau menghiraukanku yang baru saja memberinya makan. Mungkin ingin menemui kekasihnya. Nanti sore ia akan pulang. Itu pun kalau ia lapar. Jika tidak? Sepertinya aku baru menyadarinya karena perkataan Pak Iman.

“Aku urusi dongengmu tak akan pernah berakhir, Kang. Tak usah kau berkhayal akan ada Kucing Negara yang kaya raya. Setahuku kucing hanya ada dari luar negeri, ada Kucing Persia, Kucing Afrika, kalau Kucing Negara aku tak pernah mendengar, jelas aku tahunya hanya kucing kampungku, namanya Peto. Kucing yang baik hati dan penurut kepada Sekar. Ia mampu kuamanahi menjaga tikus-tikus rumah agar tak sembarangan merusak makanan dan pakaian keluargaku,”

“Dia akan datang dan merayu Sekar jika lapar,”

“Maksudmu?”

“Ya. Karena kucing lebih setia dari pada Anjing. Kucing akan menghampiri jika Sekar memberi makan atau membawa makan. Namun akan pergi jika Sekar tidak punya apa-apa.”

“Lantas apa hubungannya Peto dengan Kucing Negara yang kau maksud, Kang?”

Hahaha…. Kucing Negara itu hanya fabel. Aku ingin meminjam uangmu. Aku merayumu,”

Ah—kau ini. Seolah sedang berkampanye dan menyogok dengan uang untuk mendukung kepala Domba agar menang. Setelah menang Domba itu tak mau lagi digunakan berkurban. Bahkan hakikat kurban pun ia tak tahu. Pura-pura lupa.” Seru Bapak sambil terkekeh pula.

“Jadi?” tanya Pak Iman antusias.

“Aku meminjamimu uang namun kamu tidak boleh lupa seperti Kucing Negara yang kau ceritakan itu, Kang. Aku memberimu amanah karena aku percaya kau akan mempergunakan uang itu dengan baik, dan saat kau sudah punya uang cukup, bukankah kau akan mengembalikannya?”

“Sungguh. Jika aku seperti itu. Berarti aku bagaikan kucing buta yang tak ingat jalan untuk pulang ke majikan. Hanya ingat sang majikan memberi makan. Tapi tak pernah mau kuingat jasanya memberiku makan. Hingga jalan untuk pulang ke rumah pun aku tak bisa melihat. Buta itu aku buat sendiri. Dan tentunya aku akan menjaga amanahmu,”

“Kau berjanji?”

Pak Iman mengangguk. Bapak percaya. Ia lalu beranjak dan masuk ke dalam kamar mengambil uang dua ratusan. Meletakkannya di atas meja. Seketika wajah Pak Iman melotot dan berbinar-binar. Kalau sudah ada uang. Siapa tak tergoda? Secepatnya ia serutup teh pahitnya lalu berpamit pulang. Katanya buru-buru ingin membeli beras. Bapak hanya mengeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap tubuh Pak Iman yang hilang tertelan tikungan depan pintu gerbang.

Esok berganti senja. Ibu sudah pulang dari pasar sedari tadi. Ia bahkan telah selesai memasak makan malam. Aku duduk di depan jendela menunggu kekasihku yang tak kunjung pulang. Kemanakah Peto berada? Kenapa ia seolah meninggalkan jejak dari rumahku? Apakah ia lupa bahwa selama ini aku telah mati-matian memberinya makan dan merawatnya untuk bertahan hidup? Lupakah ia ketika dulu ia kesusahan keluar dari selokan karena kakinya tertimpa batu? Ia nyaris saja mati kedinginan kalau tidak aku tolong. Tikus-tikus menjarah almari kemarin malam. Aku ingin Peto pulang dan menjalankan tugasnya untuk memakan tikus-tikus itu. Aku sangat percaya Peto mampu menjalankan tugas itu. Kenapa setelah tiga tahun hidup bersamaku mendadak pergi tanpa kabar begitu saja? Eloknya sebelum pergi ia meminta saku makan terlebih dahulu. Apa ia pikir aku ini pemberi makanan saja? Tak punya perasaan. Apakah Petoku sayang, lupa jalan pulang dan ia buta seperti Kucing Negara yang diceritakan Pak Iman tadi? Kuharap watak kucing tidak semuanya seperti itu.

Tiga bulan berlalu. Peto tak pulang juga. Aku lelah menunggu dan menangisinya. Bapak pun begitu ternyata ia mengalami hal yang sama. Dengar dari obrolan tetangga sebelah dua bulan yang lalu Pak Iman telah berhasil membuka rumah makan di pinggiran desa. Katanya ia juga sudah sukses dan menikah lagi dengan istri yang lebih muda dari pada istri sebelumnya. Bapak senang sekali mendengarkan kabar berita tersebut. Sayang semua itu tak bertahan lama. Ia pikir kalau Pak Iman yang dianggapnya Mas itu sudah sukses dan mendapatkan keuntungan banyak. Pak Iman akan datang lagi ke rumah Bapak untuk mengembalikan hutang. Eh ternyata Pak Iman senasib dengan Peto. Ia lupa jalan pulang. Mungkin matanya buta karena harta. Jadi Kucing Negara yang diceritakan oleh Pak Iman itu sama halnya rayuan belaka. Ah kasihan Bapak yang sudah kehilangan uang ratusan ribu. Sempat aku bingung dari mana Pak Iman bisa membangun rumah makan di pinggiran desa? Hidupnya saja kekurangan. Minjam uang pun sekitar seratus sampai lima ratus? Kok bisa ya? Ataukah ia bermain dukun atau malah korupsi? Tapi apa yang dikorupsi? Ia saja bukan penjabat negeri. Entahlah. Aku pikirkan malah membuat otakku pusing. Yang jelas, Pak Iman tak lagi bisa dipercaya.

“Lain kali jangan izinkan ada kucing masuk ke dalam rumah ini!” bentak Bapak senja itu. Membuat lamunanku tentang Pak Iman yang mendapatkan harta dari mana buyar.

            Melamun. 16 Oktober 2014.

 

Titin Widyawati. Ia dilahirkan di kota Magelang, tanggal 16 juli 1995. Dengan berjenis kelamin perempuan.

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com